Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KADERISASI DAN FUNGSI ORGANISASI BAGI REVITALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUAN PENGAJIAN PP MUHAMMADIYAH 1432.

KADERISASI DAN FUNGSI ORGANISASI BAGI REVITALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUAN PENGAJIAN PP MUHAMMADIYAH 1432.

Ratings: (0)|Views: 524 |Likes:
Published by Mikel Alonso
KADERISASI DAN FUNGSI ORGANISASI BAGI REVITALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUAN PENGAJIAN PP MUHAMMADIYAH 1432 A. PENDAHULUAN Kehadiran ‘Aisyiyah dalam persyarikatan Muhammadiyah, didorong pemikiran cerdas K.H.Ahmad Dahlan selaku pendorong dan pendiri ‘Aisyiyah. Salah satu faktor penting latar belakang didirikannya ‘Aisyiyah adalah perlunya menyiapkan kader-kader perempuan yang akan memimpin barisan perempuan Muhammadiyah sebagai organisasi yang bertumpu pada “
KADERISASI DAN FUNGSI ORGANISASI BAGI REVITALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUAN PENGAJIAN PP MUHAMMADIYAH 1432 A. PENDAHULUAN Kehadiran ‘Aisyiyah dalam persyarikatan Muhammadiyah, didorong pemikiran cerdas K.H.Ahmad Dahlan selaku pendorong dan pendiri ‘Aisyiyah. Salah satu faktor penting latar belakang didirikannya ‘Aisyiyah adalah perlunya menyiapkan kader-kader perempuan yang akan memimpin barisan perempuan Muhammadiyah sebagai organisasi yang bertumpu pada “

More info:

Published by: Mikel Alonso on Sep 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

 
1
KADERISASI DAN FUNGSI ORGANISASI BAGI REVITALISASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAHDAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUANPENGAJIAN PP MUHAMMADIYAH 1432A.
 
PENDAHULUAN
Kehadiran ‘Aisyiyah dalam persyarikatan Muhammadiyah, didorong pemikiran cerdasK.H.Ahmad Dahlan selaku pendorong dan pendiri ‘Aisyiyah. Salah satu faktor penting latarbelakang didirikannya ‘Aisyiyah adalah perlunya menyiapkan kader-kader perempuan yang akanmemimpin barisan perempuan Muhammadiyah sebagai organisasi yang bertumpu pada “ Ke-Islaman dan Kemajuan atau Kekinian “. Dengan demikian, secara genetik, kelahiran ‘Aisyiyahsebenarnya merupakan organisasi kader bagi Muhammadiyah untuk menyiapkan calon-calonpimpinan perempuan Muhammadiyah dalam menunaikan tugas dakwah amar makruf nahimungkar sebagai aktualisasi paham Islam yang berkemajuan.Secara organisatoris, ‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan PersyarikatanMuhammadiyah; berarti, ‘Aisyiyah merupakan wadah bagi anggota Muhammadiyah perempuandalam menunaikan misi dakwah amar makruf nahi mungkar. Dalam bidang kaderisasiMuhammadiyah, ‘Aisyiyah juga memiliki peran strategis, dalam membangun kekuatan dankualitas pelaku gerakan (perempuan Muhammadiyah) serta membangun kekuatan dan kualitasperan dan ideologi Muhammadiyah. Sebagai ortom khusus persyarikatan Muhammadiyah yangmerupakan gerakan Islam sejak awal abad XX, dalam gerakannya terdapat karakter khas yangmewarnai semua aktifitas. Sejalan dengan misi gerakan Muhammadiyah sebagai gerakandakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, pemurnian dan pembaharuan (purifikasi danreformasi), ada sentuhan khas dalam setiap kegiatan ‘Aisyiyah yaitu unsur nilai-nilai Islam (yangbersumber pada al-Qur’an, Sunnah maqbulah) dan unsur modernitas. Unsur nilai-nilai Islamsenantiasa terintegrasi dalam setiap aktifitas, termasuk dalam kegiatan perkaderan danpelatihan. Unsur modernitas, ‘Aisyiyah senantiasa terbuka terhadap perubahan danpembaharuan untuk mengembangkan konsep-konsep keilmuan dalam setiap gerakannya.
Dalam perkembangannya kekuatan Aisyiyah yang antara lain bertumpu padakader yang menjalankan misi gerakan dihadapkan pada masalah yang memerlukanpenguatan kembali. Persebaran kader ’Aisyiyah di berbagai level, bidang, dan profesi,belum tercover dalam peta perkaderan. Demikian juga, jejaring dan silaturrahimfungsional antar kader belum terwujud secara intens. Pendek kata antara kualitas dankuantitas kader belum mampu memenuhi tuntutan dan harapan untuk menghadapikeadaan dan permasalahan yang dihadapi Aisyiyah pada saat ini dan kedepan.Sementara itu kegiatan perkaderan melalui perkaderan utama maupun fungsional, baikperkaderan formal, informal, maupun non formal, terus dilakukan secara berkelanjutandi semua jenjang organisasi maupun Amal Usaha ’Aisyiyah. Namun aspek-aspekfundamental dalam perkaderan belum tergarap secara intens dan effektif, misalnyaterkait dengan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, ruh perjuangan, militansi kejuangan,dakwah dan berorganisasi, maupun kepemimpinan perempuan dan sosialkemasyarakatan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut membawa pengaruhpada kader yang dihasilkan.Sejalan dengan itu Aisyiyah menghadapi masalah dan tantangan baru yang jauhlebih kompleks ketimbang di masa lalu. Dalam bidang pemikiran Islam, dihadapkan padap
andangan-pandangan keagamaan yang menimbulkan bias gender serta berbaur denganbudaya masyarakat yang melahirkan diskriminasi dan melahirkan ketidakadilan bagi perempuan.
 
2Demikian juga pandangan keagamaan yang cenderung radikal atau radikalisme keagamaan yangsering bersikap eksklusif, mengklaim pandangannya yang paling benar dan membawa muatankonflik dengan pihak lain yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai islam yang membawamuatan pada perdamaian, toleransi, ukhuwah, dan bersifat tengahan/moderat.
Dalamkehidupan umat Islam dihadapkan pada masalah p
raktek kegamaan yang penuh simbol-simbol dan semarak secara ritual, namun tidak dibarengi dengan pemaknaan yang substantif dan membawa pada kesalehan sosial dan amal amal yang bersifat memajukan danmencerahkan,
ketertinggalan dalam ekonomi, lemah secara politik, ilmu pengetahuandan teknologi, dan lain-lain sehingga belum menunjukkan sebagai kekuatan masyarakatmadani yang handal sebagai kekuatan strategis bangsa.Tulisan ini memotret kaderisasi ’Aisyiyah dan reaktualisasi Islam yangberkemajuan yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam melakukan misi dakwah dantajdid.
B.
 
PERKADERAN ’AISYIYAH DAN REAKTUALISASI ISLAM YANG BERKEMAJUAN PADA MASAAWAL
Latar belakang didirikannya ‘Aisyiyah merupakan hasil renungan Kyai dan Nyai Dahlanterhadap realitas kondisi perempuan yang masih terbelakang Hasil bacaan dan penafsiran Kyaidan Nyai Dahlan QS. an-Nahl/16:97 dan at-Taubah/9:71KHA Dahlan sebagai pendorong dan pendiri ‘Aisyiyah melihat sisi kurangnyapengetahuan tentang harkat dan martabat perempuan menurut ajaran Islam, melihat kondisiperempuan Indonesia saat itu sangat memprihatinkan, beliau mendirikan ’Aisyiyah yangdimaksudkan untuk memajukan wanita Islam Indonesia dalam segala bidang sesuai denganfungsi dan kedudukan wanita menurut ajaran Islam serta kesadarannya bahwa perjuanganMuhammadiyah harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Sikap KHA Dahlan terhadap‘Aisyiyah, terbaca dari nasehat kyai terhadap murid laki-laki, supaya berhati-hati dengan urusan‘Aisyiyah Kalau dapat memimpin dan membimbing mereka Insya Allah mereka akan menjadipembantu dan teman yang setia dalam melancarkan persyarikatan Muhammadiyah menujucita-citanya . Kepada murid perempuan “Agar urusan dapur jangan jadi penghalang untukmenjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat”‘Aisyiyah yang didirikan Kyai Dahlan adalah wadah bagi anggota Muhammadiyahperempuan dalam menunaikan misi dakwah amar makruf nahi mungkar. Dalam kontekskekinian dalam bidang kaderisasi Muhammadiyah, ‘Aisyiyah sebagai Ortom Khusus memilikiperan strategis, Membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan (perempuanMuhammadiyah) dan mengembangkan fungsi organisasi dalam merefitalisasi ideologiMuhammadiyah dan mereaktualisasikan Islam yang berkemajuanPada masa awal, ‘Aisyiyah yang merupakan bagian wanita Muhammadiyah telahmelakukan kaderisasi dan aktualisasi Islam yang berkemajuan, melalui modernisasi pendidikandan pembinaan kepemimpinan perempuan. Dalam bidang pendidikan mengelola MadrasahDiniyah Ibtidaiyah di depan rumah beliau. Dua santri perempuan Siti Munjiyah dan SitiUmniyah. Kyai Dahlan mengirim para perempuan ke sek umum Neutraal Meisjes School diNgupasan (3 gadis perempuan yg pertama mengenyam pendidikan Siti Bariyah, Siti Wadingah,dan Siti Dawimah). Menyelenggarakan cursus-cursus membaca Al-Qur’an khusus perempuandengan gerakan praksis khususnya bagi perempuan yang sekolah di sekolah umum, untukmengisi kekurangan pengetahuan yang didapat di sekolah. Beliau mendirikan sekolah daruratbagi perempuan, pengajian wal –’asri bagi para ibu dan remaja puteri yang dilaksanakan padawaktu ba’da asar, Maghribi School, pengajian bagi para buruh batik yang dilaksanakan ba’da
 
3maghrib, Internaat, asrama puteri bagi perempuan murid madrasah yang datang dari luar kota,dan Sapa Tresna, perkumpulan perempuan untuk memajukan perempuan dan adanyakesetaraan dalam pendidikan dan dakwah. Ruh kemajuan nampak secara kelembagaan maupunsubstansial. Secara kelembagaan, beliau memilih nama madrasah untuk pendidikan formal,internaat untuk pendidikan informal, cursus-cursus untuk pendidikan non formal. Madrasahmencerminkan modernisasi pendidikan Islam yang saat itu telah berkembang sistem pesantren.Internaat dipilih, bukan pondok yang mencerminkan sistem pendidikan tradisional. Dalamkaderisasi dan pendidikan kepemimpinan, Kyai dan Nyai Dahlan merintisnya dalam bentukKader intilan mengikuti kegiatan dakwah Kyai dan Nyai Dahlan, Pengajian Sapatresna, danPendirian ‘Aisyiyah sebagai Bagian Wanita Muhammadiyah. Pembina para kader perempuanMuhammadiyah, Siti Walidah yaitu Nyai Dahlan, pendamping Kyai dalam berdakwah danmengembangkan Muhammadiyah adalah perempuan berfikiran maju. Beliau puteri ke empatKyai Penghulu Haji Muhammad Fadhil. Bersama Kyai Dahlan, beliau sebagai pendiri ‘Aisyiyahyang berawal dari Pengajian perempuan yang terhimpun dalam perkumpulan Sapa Tresna. NyaiDahlan dikenal sebagai ulama perempuan, organisator, muballighat, dan praktisi pendidikanperempuan. Sebagai ulama, pergaulannya luas, termasuk dengan ulama laki-laki. Beliau pernahdiundang dalam sidang ulama Solo di serambi masjid Besar KeratonSurakarta untukmenyampaikan keberhasilannya dalam melakukan pendidikan dan perkaderan kepada paraperempuan, untuk berperan di ranah publik. Nasehat Nyai Dahlan antara lain. 1. Hendaklahkamu jangan sekali-kali menduakan Muhammadiyah dengan perkumpulan lain.2. Jangansentimen, jangan sakit hati,kalau menerima celaan dan kritikan. 3. Jangan sombong, janganberbesar hati kalau menerima pujian. 4. Jangan jubriyo (‘Ujub-kibir,riya). 5. Dengan ikhlas murnihatinya, kalau sedang berkembang harta benda, pikiran dan tenaga. 6. Harus bersungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendiriannya (jangan was-was). 7. Ada dua penyakit yangmenghalangi perjuangan : malas dan kikirPerempuan-perempuan kader Muhammadiyah memiliki keunikan, mereka disiapkansecara formal melalui pendidikan maupun informal dalam bentuk kader intilan. Mereka ituantara lain : Siti Bariyah, adik H. Fakhrudin, kader Sapa Tresna lulusan sekolah netral, President(Ketua) pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah bagian ’Aisyiyah, Siti Dawimah, saudarasepupu H. Fahrudin., lulusan sekolah netral, Siti Dalalah, yang kemudian menjadi menantu NyaiAhmad Dahlan, muballighat yang piawai bertabligh di depan rapat umum Muhammadiyah, SitiBusyro, puteri Kyai Dahlan, nenek ibu Hadiroh, Ketua PPA, Siti Wadingah, lulusan netral schoolyang kemudian menjadi isteri penghulu Kraton Yogyakarta, Siti Badilah Zuber, kader ‘Aisyiyahyang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Netral dan MULO, peserta Konggres Perempuanpertama, Siti ‘Aisyah Hilal, putri Kayai Dahlan telah mengharumkan nama ‘Aisyiyah denganberbagai amal dan gerakannya , Siti Munjiyah, kader santri perempuan lulusan MadrasahDiniyah yang mewakili ‘Aisyiyah dalam Konggres Perempuan Pertama. Pidatonya tentang“Derajat Perempuan’ menggambarkan pandangan Islam yang berkemajuan , Siti Hayinah, aktivisSapa Tresna yang duduk dalam kepanitiaan Konggres perempuan, pidato beliau berjudul Persatuan Manusia “, dan Siti Umniyah, puteri Hoofdprnghulu KH. Sangidu, berhasil memajukanSiswo Proyo Wanito embruyo Nasyiatul ‘Aisyiyah dan merintis Taman Kanak-kanak ‘AisyiyahBustanul Athfal (TK ABA).Pendirian dan pemilihan President (Ketua) pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyahbagian ’Aisyiyah, mencerminkan organisasi perempuan Islam yang berkemajuan danmenempatkan kaderisasi sebagai prioritas. Pilihan tidak pada Nyai Dahlan sebagai pembina,yang tidak mencerminkan tipe kepemimpinan kharismatiki. Bukan pula memilih Siti Busyro danSiti ’Aisyah dua puteri Kyai Dahlan, yang berarti bukan kepemimpinan tradisional. Pilihan padaSiti Bariyah mencerminkan tipe kepemimpinan rasional sebagai ciri modernis. Hal ini dilakukan

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mohd Anis liked this
Miaw Cuya liked this
Zaini Guntung liked this
VonaMayasari liked this
Bhisma Kharisma liked this
IzwanToxzShinoda liked this
Dwi Herdawati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->