Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Amin Abdullah II : REAKTUALISASI ISLAM YANG ‘BERKEMAJUAN’ Agenda Strategis Muhammadiyah Ditengah Gerakan Keagamaan Kontemporer.

Amin Abdullah II : REAKTUALISASI ISLAM YANG ‘BERKEMAJUAN’ Agenda Strategis Muhammadiyah Ditengah Gerakan Keagamaan Kontemporer.

Ratings: (0)|Views: 594|Likes:
Published by Mikel Alonso

More info:

Published by: Mikel Alonso on Sep 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/18/2012

pdf

text

original

 
draft only 
 1
REAKTUALISASI ISLAM YANG ‘BERKEMAJUAN’
Agenda Strategis Muhammadiyah Ditengah Gerakan Keagamaan Kontemporer
1
 M. Amin Abdullah
“Islam berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan,kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia, Islam yangmenjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yangmenggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dananti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan,kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, seta berbagai kemunkaran yang menghancurkan kehidupan.Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang
memayungi kemajemukan suku, bangsa, ras,golongan dan kebudayaan umat manusia di muka bumi”
(Di kutip dari
Pernyataan PikiranMuhammadiyah Abad Kedua,
Produk Muktamar ke-46 (2010)).
Pengantar.
Istilah “Islam yang Berkemajoean” yang digunakan oleh Muhammadiyah di awalabad ke 20 (1912) memang terasa lebih nyaman digunakan dari pada istilah Islam“modern”. Istilah “modern” yang dilekatkan kepada Muhammadiyah – sebagaitimbangan dari Islam “tradisional” tidak terasa nyaman digunakan, karena dalamperjalanan waktu apa yang disebut para pengamat dan peneliti sebagai Islam“tradisional” mengandung elemen-elemen pikiran keagamaan modern, dan apayang dikategorikan sebagai Islam “modern”, ternyata mengandung elemen-elemenpikiran keagamaan tradisional. Dugaan saya, klasifikasi atau kategorisasi“modern” dan “tradisional” tersebut berasal dari para pengamat, analis, penelitigerakan sosial-keagamaan dan sosial-keislaman dan kemudian diikuti oleh para
 Indonesianist 
, tapi bukan dari kalangan pendiri persyarikatan sendiri.
1
Makalah disampaikan dalam Pengajian Ramadlan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1432 H, KampusUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta, 7 Ramadlan/Agustus 2011.
 
draft only 
 2
Oleh karenanya, akan menarik dan mungkin akan lebih tajam, jika istilah“Islam Berkemajoean” awal abad ke 20 disandingkan dengan istilah “
 Islam Progressive” 
(Islam yang Maju atau Islam Berkemajuan) yang digunakan olehpara ahli studi keislaman pada akhir abad ke 20, dan lebih-lebih lagi pada abad ke-21. Apa yang membedakan dan apa yang menyamakan antara keduanya akanberguna untuk diketahui oleh para pimpinan persyarikatan Muhammadiyah padasetiap jenjangnya dan juga para pimpinan organisasi Islam yang lain di tanah air,Petikan manifesto atau
Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua
diatas,secara
lamat-lamat 
menginformasikan makna
 Islam Progressive
yang dirumuskanbeberapa pemikir Muslim kontemporer.Tulisan singkat ini akan memasuki semacam studi ‘perbandingan’, danakan dibatasi hanya pada wilayah
metode dan pendekatan
pemikiran keagamaanIslam yang digunakan oleh
 Islam yang Berkemajuan
dan
Islam Progressive.
Untuk mencari paralelitas, persamaan dan perbedaan, dan keserupaan (
 familyresemblance
) antara keduanya. Saya akan melakukannya tidak melalui poin perpoin, tetapi secara umum saja. Apa implikasi dan konsekwensi nya bagi upayaReaktualisasi Islam di awal abad ke 21 bagi gerakan sosial-keagamaanMuhammadiyah dan gerakan sosial-keagamaan Islam yang lain di tanah air.
Respon Intelektual Muslim terhadap perubahan sosial kontemporer.
Tidak ada yang dapat menyangkal jika dikatakan bahwa dalam 150 sampai200 tahun terakhir, sejarah umat manusia mengalami perubahan yang luar biasa.Terjadi perubahan yang luar biasa dalam sejarah manusia dalam mengatur danmemperbaiki kualitas kehidupannya
.
Perubahan yang dahsyat dalamperkembangan ilmu pengetahuan, tatanan sosial-politik dan sosial-ekonomi,demografi, hukum, tata kota, lingkungan hidup dan begitu seterusnya. Perubahandahsyat tersebut, menurut Abdullah Saeed, antara lain terkait dengan
globalisasi,migrasi penduduk, kemajuan sains dan teknologi, eksplorasi ruang angkasa, penemuan-penemuan arkeologis, evolusi dan genetika, pendidikan umum dantingkat literasi.
Diatas itu semua adalah bertambahnya pemahaman dan kesadarantentang pentingnya harkat dan martabat manusia
(human dignity
), perjumpaanyang lebih dekat antar umat beragama (
greater inter-faith interaction)
, munculnyakonsep negara-bangsa yang berdampak pada keseteraan dan perlakuan yang samakepada semua warga negara
(equal citizenship
), belum lagi kesetaraan gender danbegitu seterusnya. Perubahan sosial yang dahsyat tersebut berdampak luar biasadan mengubah pola berpikir dan pandangan keagamaan (
religious worldview
) baik 
 
draft only 
 3
di lingkungan umat Islam maupun umat beragama yang lain.
2
 
Perubahandimaksud tidak mesti bermakna positif, tetapi juga negatif. Kerusakan ekologi,
climate change
, dehumanisasi, tindak kekerasan (
violence)
atas nama negara,agama, etnis dan begitu seterusnya
.
Dalam khazanah pemikiran keagamaan Islam, khususnya dalam pendekatan
Usul al Fikh
, dikenal istilah
al-Tsawabit 
(hal-hal yang diyakini atau dianggap“tetap”, tidak berubah)
wa al-Mutaghayyirat 
(hal-hal yang diyakini atau dianggap“berubah-ubah”, tidak tetap). Ada juga yang menyebutnya sebagai
al-Tsabit”wa “al-Mutahawwil”.
3
 
Lebih populer, biasa disebut perbedaan antara
Qath’y(Qath’iyyat)
dan
Dzanny (Dzanniyyat).
Sedang dalam pendekatan
 Falsafah
 (
 philosophy)
, sejak Aristotle hingga sekarang, juga dikenal apa yang disebut
Form
” and “
 Matte
r”
4
. Belakangan di lingkungan khazanah keilmuan antropologi(agama), khususnya
 
dalam lingkup kajian penomenologi, dikembangkan analisispola pikir yang biasa disebut
General Pattern
dan
Particular Pattern.
 
5
Adalahmerupakan pertanyaan yang sulit dijawab bagaimana kedua atau ketiga alat
logikaberpikir
dalam berbagai disiplin keilmuan tersebut,
 
berikut
sistem epistemologi
yang menyertainya
 
dapat dioperasionalisasikan di lapangan ketika umat Islammenghadapi perubahan sosial di era globalisasi yang begitu dahsyat. Apa yang
2
Abdullah Saeed
 , Interpreting the Qur’an: Towards a contemporary approach
, New York NY,Routledge, 2006, h. 2
3
Adonis, al
-Tsabit wa al-Mutahawwil: Bahts fi al-Ibda’ wa al-itba’ ‘inda al-Arab
, London, Dar al-Saqi,2002. Dalam khazanah pemikiran
Fiqh
dan
Usul Fiqh,
dikenal juga istilah yang sangat popular di lingkunganpendidikan dan pengajaran agama Islam apa yang disebut
Qath’iy dan dzanny.
Dari segi kategorisasi, keduanya(khazanah
Falsafah
dan
Usul Fiqh
kelihatannya sama, tetapi ruang lingkup, wilayah cakupan dan cara serta metodeberpikirnya sama sekali berbeda.
4
Menurut penelitian Josep van Ess, disini lah letak perbedaan yang mencolok antara logika dancara berpikir
 Mutakallimun
dan
Fuqaha
di satu sisi dan
Falasifah
di sisi lain. “Aristotelian definition, however,presupposes an ontology of 
 
 matter
and
 
 form
. Definition as used by the
mutakallimun
usually does not intend to liftindividual phenomena to a higher, generic category; it simply distinguishes them from other things
(tamyiz).
Onewas not primarily concerned with the problem how to find out the essence of a thing, but rather how to circumscribeit in the shortest way so that everybody could easily grasp what was mean”. Lebih lanjut Josep van Ess, “TheLogical Structure of Islamic Theology”, dalam Issa J. Boullata (Ed
 .), An Anthology of Islamic Studies,
Canada,McGill Indonesia IAIN Development Project, l992, tanpa halaman
.
Jasser Auda menambahkan bahwa “ … the jurists’ method of 
tamyiz
between conceps, whether essence-or description-based always resulted in defining everyconcept in relation to a ‘binary opposite.’ The popular Arabic saying goes : “Things are distinguished based on theiropposites’ (bizdiddiha tatamayyaz al-ashya’)”. Lihat Jasser Auda,
 Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Sistems Approach
, London dan Washington, The International Institute of Islamic Thought, 2008, h. 212.
 
5
Richard C. Martin menyebut ‘
general pattern’
sebagai ‘
common pattern’
atau
the universals of humanreligiousness
. Lebih lanjut Richard C. Martin, (Ed.)
 Approaches to Islam in Religious Studies
, Arizona, TheUniversity of Arizona Press, l985, h. 8.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->