Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
74Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Korean Wave di Indonesia: Budaya Pop, Internet, dan Fanatisme Remaja

Korean Wave di Indonesia: Budaya Pop, Internet, dan Fanatisme Remaja

Ratings: (0)|Views: 4,417 |Likes:
Published by Aulia Nastiti

More info:

Published by: Aulia Nastiti on Oct 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

 
 
Program Studi Komunikasi MediaDepartemen Ilmu KomunikasiUniversitas IndonesiaDesember 2010
“KOREAN WAVE” DI INDONESIA :
ANTARA BUDAYA POP, INTERNET,DAN FANATISME PADA REMAJA
Studi Kasus terhadap Situs Asian Fans Club di Indonesiadalam Perspektif Komunikasi Antarbudaya
Aulia Dwi Nastiti - 0906561452
 
 
2 |
“Korean Wave” di Indonesia : Sebuah Kajian Komunikasi Antarbudaya
 
Jika orang-orang yang lahir pada tahun 1970-an atau 1980-an ditanya mengenai serial drama, film atau musikdari negara Asia mana yang populer di Indonesia pada era generasinya, mungkin mereka akan menjawabJepang, Cina, dan Hongkong, tanpa menyebut Korea di dalamnya. Ilustrasi ini disimpulkan berdasarkan hasilstudi yang dilakukan oleh Kawakimi dan Fisher (1994) mengenai industri music Asia yang menempatkanJepang, Cina, dan Indonesia sebagai negara-negara yang musiknya
remarkable.
Tak hanya musik, film-filmAsia yang beredar pada akhir 1980-an sampai pertengahan 1990-an didominasi oleh Jepang dan Hongkong,yang memang menjadi kiblat perfilman Asia. Korea? Tak pernah disebut dan diperhitungkan, bahkan di tahun1994 film Korea tak menjadi tuan rumah di bioskop sendiri karena 80% industri film bioskop Korea diisi olehfilm-film Hollywood (Ryo0, 2008).Akan tetapi, lain halnya jika pertanyaan yang sama ditanyakan pada pemuda sekarang, atau generasikelahiran 1990-an. Korea pasti akan keluar menjadi salah satu jawaban mereka. Generasi muda sekarangakan dengan mudah menyebut judul film, musik, atau drama Korea. Terlepas dari apakah ia pernahmengkonsumsi film, music, atau drama, fakta bahwa hampir sebagian besar generasi muda di Indonesiadapat mengenali keberadaan produk budaya Korea menunjukkan suatu realitas, yaitu : Budaya Korea telahberkembang begitu pesatnya, hingga sukses menjangkau popularitas di mancanegara.Maraknya produk-produk budaya Korea di luar negeri sebenarnya berawal dari pada tahun 1994 ketika KimYoung-sam, presiden Korea Selatan yang kala itu menjabat, mendeklarasikan globalisasi sebagai visi nasionaldan sasaran strategi pembangunan. Rencana ini kemudian dimanifestasikan oleh Menteri Budaya Koreawaktu itu, Shin Nak-
yun, dengan menetapkan abad 21 sebagai ‘
century of culture’.
Berbagai upaya danpembenahan dilakukan untuk mewujudkan globalisasi budaya Korea, mulai dari preservasi dan modernisasiwarisan budaya tradisional Korea agar lebih dapat diterima publik mancanegara, melatih tenaga professionaldalam bidang seni dan budaya, memperluas fasilitas kultural di wilayah lokal, membangun pusat budayayang luar negeri, sampai membangun jaringan komputer dan internet di seluruh pelosok negeri untukmenunjang persebaran informasi budaya (Shim, 2006).Upaya integratif pemerintah Korea tersebut mulai mendatangkan hasil nyata dalam lima tahun. BudayaKorea mulai terekspansi ke mancanegara. Pada tahun 1999, dalam konteks krisis ekonomi yang melanda,
Pendahuluan
 
 
3 |
“Korean Wave” di Indonesia : Sebuah Kajian Komunikasi Antarbudaya
 
drama Korea menjadi marak diimpor negara-negara Asia Tenggara karena merupakan satu-satunya pilihanyang paling ekonomis jika dibandingkan drama Jepang yang lebih mahal 4 kali lipat dan Hongkong yang bisalebih mahal 10 kali lipat (Shim, 2006). Seiring berjalannya waktu, budaya Korea tidak hanya marak dikonsumsidi Asia Tenggara, tetapi juga beranjak ke Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Amerika Latin, yang terbuktidengan adanya fans club di sana. Dalam 10-15 tahun terakhir, budaya Korea berkembang begitu pesatnyahingga meluas dan diterima publik dunia, sampai menghasilkan sebuah fenomena demam budaya Korea di
tingkat global, yang diistilahkan sebagai ‘
hallyu’
.
Hallyu
atau "
Korean Wave
" adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secaraglobal di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia, atau secara singkat mengacu pada globalisasibudaya Korea (Shim, 2006). Fenomena ini diikuti dengan banyaknya perhatian terhadap produk KoreaSelatan, seperti misalnya masakan, barang elektronik, musik dan film. Di Indonesia saat ini, fenomenagelombang Korea melanda generasi muda Indonesia yang umumnya menyenangi drama dan musik Korea.Di Indonesia sendiri,
hallyu
diawali oleh serial drama. Berbagai stasiun televisi Indonesia mulai menayangkandrama produksi Korea Selatan setelah salah satu stasiun televisi Indonesia sukses menayangkan drama
Endless Love,
atau yang berjudul resmi
 Autumn in My Heart
di Korea, pada tahun 2002. Romantisme dan kisahtragis menyedihkan senantiasa mewarnai drama ini, menarik emosi penonton untuk hanyut meresapi alur cerita, sehingga Endless Love sukses memikat perhatian para pecinta drama Indonesia, yang sebagian besar adalah para perempuan. Selain orisinalitas cerita, drama ini juga diperankan oleh aktor dan aktris yangrupawan dengan kemampuan akting yang baik sehingga sukses menjadi titik balik bagi meluasnya budayapop Korea di Indonesia. Kesuksesan drama Endless Love yang memiliki genre drama melankolis ini, diikutidengan kesuksesan drama-drama melankolis Korea lainnya, antara lain Winter Sonata dan Memories in Bali.Setelah drama melankolis, muncul drama komedi romantis yang juga sangat digandrungi oleh pemirsaIndonesia. Beberapa diantaranya adalah Full House, My Sassy Girl dan Princess Hours. Selain dramamelankolis dan komedi romantis, genre drama Korea dengan latar belakang sejarah juga mencetak ratingtinggi di Indonesia. Drama yang termasuk dalam genre ini antara lain Dae Jang Geum dan Queen Seon Deok.Setelah pemirsa jatuh hati pada drama Korea yang satu, televisi menyajikan drama yang lain, yang membuatkhalayak semakin gandrung. Karena menariknya
backsound
yang digunakan dalam drama, khalayak mulaimenaruh perhatian pada music-musik Korea. Hal itu pada akhirnya meluas kepada konten budaya lain, yaitumusik. Musik dari Korea ini dikenal dengan nama K-Pop. Mereka mengusung genre musik
dance
pop, yaitumusik pop barat dikombinasikan dengan kemampuan menari dan wajah yang menawan. Lirik lagu pun di-
mix
antara bahasa Korea dan bahasa Inggris di
part
tertentu. Hal ini membuat grup-grup musik K-Pop benar-

Activity (74)

You've already reviewed this. Edit your review.
bedull99 liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Li Liany liked this
Yoga Arm liked this
Veni Ksb liked this
Veni Ksb liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->