Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya
2
Indonesian Reenactors adalah contoh komunitas yang serius pada kostum tentara. Mereka menggemari segala perlengkapan militer, terutama tentara Jerman pada periode Perang Dunia II. Ketua Indonesian Reenactors Permadi Aryawirasmara, 35 tahun, mengatakan komunitasnya tak sekadar mengoleksi seragam dan pernak-pernik militer Jerman. "Kami adalah komunitas reenactment, atau reka ulangsejarah, karena kami suka mempelajari sejarah perang," ujar pria yang tampil sebagai komandan dalamacara di Toys Fair tersebut. Mereka kagum kepada tentara Jerman, menurut Permadi, karena Jerman adalah inovator di bidangkemiliteran modern. Semua teknologi militer yang kini dipakai negara maju merupakan warisan Jerman,seperti kendaraan lapis baja, target inframerah, rudal balistik, senapan serbu taktis, dan sekolah penembak jitu. "Reka ulang sejarah militer Jerman semata-mata penghormatan pada inovasi militer paling jenius yang pernah ada, bukan pada ideologi Nazi-nya," kata Permadi. Indonesian Reenactors memang tidak sok Jerman, karena mereka mendalami sejarah, selain mengenakanseragam. Permadi misalnya menemukan fakta, ada warga Indonesia yang turut memperkuat pasukan Nazi pada Perang Dunia II. Beberapa literatur sejarah menuliskan Divisi 23 (dari total 27 divisi pasukan Nazi di luar ras Jerman), yang beranggotakan keturunan Indonesia, tinggal di Belanda ketika itu. Merekatergabung dalam satuan tempur Waffen-SS dan diberi nama Legion Niederlande atau lengkapnya 23rd Division der Waffen-SS Freiwilligen Legion Niederlande. "Semuanya tewas oleh tentara Sekutu," ujar Permadi. Mereka juga meriset kostum, emblem, dan peralatan tentara Jerman. Detail dan akurasi, seperti ketepatan berseragam, kepangkatan, kelengkapan seragam, cara baris berbaris, dan lagu-lagu marching,merupakan elemen penting dari hobi ini. "Ini cara belajar sejarah yang mengasyikkan danmenyenangkan," kata pria yang bekerja di sektor tambang itu. Permadi mengakui, memuja militer Jerman tentu membawa risiko dibenci orang yang tak menyukai Nazi. Ketika mereka tampil di Toys Fair, misalnya, beberapa pengunjung bule mengacungkan jari tengah kearah mereka. Namun itu hanya ditanggapi santai anggota Indonesian Reenactors karena bagi mereka ini hanya hobi. Kostum dan barang koleksi milik anggota Indonesian Reenactors terbagi dalam dua kategori: yang antikdan repro atau replika. Benda-benda antik adalah peninggalan sejarah yang dulu benar-benar digunakan para pelaku sejarah. Sedangkan replika adalah barang yang baru diproduksi meniru apa yang duludigunakan para serdadu. Tokonya bisa didapati di kota-kota besar: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Permadi merupakan salah satu pengoleksi lengkap kostum antik militer Jerman. Bahkan beberapa koleksi kostum dan peralatannya asli dari Perang Dunia II, yang sudah berumur 70 tahun, seperti seragamkesatuan Waffen-SS, tanda jasa, tas kulit, botol minuman, ikat pinggang, dan empat helm baja. Iamengumpulkannya sejak 2007 lewat jejaring dunia maya. Seragam Waffen-SS dibelinya empat tahun laluseharga Rp 20 juta, sementara tiap helm dibeli Rp 12-30 juta. "Semua saya punya, kecuali senjata asli," ujarnya, terbahak.