Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis Indonesian Renactment

Analisis Indonesian Renactment

Ratings: (0)|Views: 117 |Likes:
Published by Aulia Nastiti

More info:

Published by: Aulia Nastiti on Oct 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2011

pdf

text

original

 
Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya
 
0
 
ARTIKEL MEDIA TENTANG KOMUNITAS
“INDONESIAN REENACTORS” DALAM
TINJAUAN KAJIAN BUDAYA
Aulia Dwi Nastiti | 0906561452
Tugas UAS Media dan Kajian BudayaKomunikasi Media | Departemen Ilmu Komunikasi | 2011
 
Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya
 
1
ARTIKEL MEDIA TENTANG
KOMUNITAS “INDONESIAN RENACTORS”
 
 
04 APRIL 2011
 RAUNGAN sirene membuat semua tersigap siaga. Sekelompok tentara Jerman juga bergegas. Sembari berlari-lari kecil, mereka membentuk barisan memanjang. Sang komandan, yang mengikuti di belakang,kemudian memberikan arahan dalam bahasa Jerman. Teriakannya yang lantang disahut sekitar sepuluhanak buahnya itu juga dalam bahasa Jerman. Sejurus kemudian, dengan kaki mengentak-entak serempak para serdadu itu menyanyikan lagu mars Panzerlied, yang kurang-lebih berarti nyanyian tank. Penggalan adegan itu terjadi pada acara Toys Fair 2011, di Balai Kartini, Jakarta, pertengahan Maret lalu. Para serdadu itu bukan tentara Jerman betulan, melainkan sekelompok anak muda Jakarta yangdemen meniru pasukan Jerman. Mereka menamai diri sebagai komunitas Indonesian Reenactors."Penampilan mereka unik. Lumayan mendapat sambutan pengunjung," kata penggagas acara Toys Fair, Riza Satyabudi. "Apalagi tampil berbahasa Jerman."  Sepekan setelah itu, cosplay (costume play) juga diadakan di Emporium Mall, Jakarta Utara, tujuh hari berturut-turut. Berbagai acara bertema Jepang diselenggarakan dalam Festival Hanami itu, dari demomembuat sushi, pelatihan origami, tarian Taiko dan musik Jepang, hingga kompetisi cosplay. "Acara yang paling ramai pengunjungnya kompetisi cosplay itu. Lebih dari 50 peserta ikut," kata Fahmi, anggota panitia acara Festival Hanami. Acara yang menampilkan cosplayer-orang yang berpakaian mirip dengan tokoh manga, komik, novel grafis, dan tokusatsu (superhero Jepang)-memang sudah jamak. Kelompok yang mewakili berbagai alirancosplay juga bermunculan, misalnya yang khusus superhero Jepang, komik Amerika, atau pemeran perempuan dalam serial manga. Namun cosplay yang berdasarkan kenyataan adalah kostum tentara. Meski tidak sama dengan yang orisinal, para cosplayer baju militer ini selalu memperhitungkan sejarahseragam yang mereka kenakan. Beberapa selebritas dan seniman juga lebih akrab dengan kostum tentara, misalnya Ahmad Dhani, Band  Kotak, serta artis mancanegara seperti Janet Jackson dan Katy Perry. Bruce Dickinson, vokalis Iron Maiden, ketika tampil di Jakarta pada Februari lalu, juga mengenakan dua kostum militer. Pertama, diamengenakan seragam tentara kuno Inggris berwarna merah, dan berikutnya celana loreng dengan kaushijau ketat.*** 
 
Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya
 
2
 Indonesian Reenactors adalah contoh komunitas yang serius pada kostum tentara. Mereka menggemari segala perlengkapan militer, terutama tentara Jerman pada periode Perang Dunia II. Ketua Indonesian Reenactors Permadi Aryawirasmara, 35 tahun, mengatakan komunitasnya tak sekadar mengoleksi seragam dan pernak-pernik militer Jerman. "Kami adalah komunitas reenactment, atau reka ulangsejarah, karena kami suka mempelajari sejarah perang," ujar pria yang tampil sebagai komandan dalamacara di Toys Fair tersebut. Mereka kagum kepada tentara Jerman, menurut Permadi, karena Jerman adalah inovator di bidangkemiliteran modern. Semua teknologi militer yang kini dipakai negara maju merupakan warisan Jerman,seperti kendaraan lapis baja, target inframerah, rudal balistik, senapan serbu taktis, dan sekolah penembak jitu. "Reka ulang sejarah militer Jerman semata-mata penghormatan pada inovasi militer  paling jenius yang pernah ada, bukan pada ideologi Nazi-nya," kata Permadi. Indonesian Reenactors memang tidak sok Jerman, karena mereka mendalami sejarah, selain mengenakanseragam. Permadi misalnya menemukan fakta, ada warga Indonesia yang turut memperkuat pasukan Nazi pada Perang Dunia II. Beberapa literatur sejarah menuliskan Divisi 23 (dari total 27 divisi pasukan Nazi di luar ras Jerman), yang beranggotakan keturunan Indonesia, tinggal di Belanda ketika itu. Merekatergabung dalam satuan tempur Waffen-SS dan diberi nama Legion Niederlande atau lengkapnya 23rd  Division der Waffen-SS Freiwilligen Legion Niederlande. "Semuanya tewas oleh tentara Sekutu," ujar  Permadi. Mereka juga meriset kostum, emblem, dan peralatan tentara Jerman. Detail dan akurasi, seperti ketepatan berseragam, kepangkatan, kelengkapan seragam, cara baris berbaris, dan lagu-lagu marching,merupakan elemen penting dari hobi ini. "Ini cara belajar sejarah yang mengasyikkan danmenyenangkan," kata pria yang bekerja di sektor tambang itu. Permadi mengakui, memuja militer Jerman tentu membawa risiko dibenci orang yang tak menyukai Nazi. Ketika mereka tampil di Toys Fair, misalnya, beberapa pengunjung bule mengacungkan jari tengah kearah mereka. Namun itu hanya ditanggapi santai anggota Indonesian Reenactors karena bagi mereka ini hanya hobi. Kostum dan barang koleksi milik anggota Indonesian Reenactors terbagi dalam dua kategori: yang antikdan repro atau replika. Benda-benda antik adalah peninggalan sejarah yang dulu benar-benar digunakan para pelaku sejarah. Sedangkan replika adalah barang yang baru diproduksi meniru apa yang duludigunakan para serdadu. Tokonya bisa didapati di kota-kota besar: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Permadi merupakan salah satu pengoleksi lengkap kostum antik militer Jerman. Bahkan beberapa koleksi kostum dan peralatannya asli dari Perang Dunia II, yang sudah berumur 70 tahun, seperti seragamkesatuan Waffen-SS, tanda jasa, tas kulit, botol minuman, ikat pinggang, dan empat helm baja. Iamengumpulkannya sejak 2007 lewat jejaring dunia maya. Seragam Waffen-SS dibelinya empat tahun laluseharga Rp 20 juta, sementara tiap helm dibeli Rp 12-30 juta. "Semua saya punya, kecuali senjata asli," ujarnya, terbahak.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->