You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat. Dalam kondisi sehat, sistem kardiovaskuler dan pernafasan dapat memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh. Hipoxemia, misalnya

dikarakteristikan oleh penurunan tekanan partial oksigen di dalam darah arteri, atau penurunan saturasi dari oksihemoglobin. Anemia merupakan salah satu pada sistem cardiovaskuler. Banyak penyebab dari anemia, meliputi malnutrisi, kehilangan darah. Karena hemoglobin membawa oksigen dan carbondioksida, anemia dapat mempengaruhi pembebasan gas dari dan ke sel tubuh. Factor kesehatan ini berpengaruh terhadap oksidasi. Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Oksigenasi terkait dengan ventilasi, difusi, transportasi dan system respirasi sel.

1.2. Tujuan Adapun tujuan oksigenasi adalah : 1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan. 2. Untuk menurunkan kerja paru-paru. 3. Untuk menurunkan kerja jantung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI SISTEM PERNAPASAN A.


1.

Saluran Nafas Atas

Hidung

Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago. Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru. Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan

melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia

2. Faring

Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang

menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral

(orofaring), dan laring (laringofaring). Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada

traktus respiratorius dan digestif

3.

Laring Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago

yang menghubungkan faring dan trakea. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas : Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke

arah laring selama menelan. Glotis : ostium antara pita suara dalam laring. Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian

dari kartilago ini membentuk jakun (Adam's apple). Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang

komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid). Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara

dengan kartilago tiroid. Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang

menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring). Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan

terjadinya vokalisasi. Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari

obstruksi benda asing dan memudahkan batu.

B.
1.

Saluran Nafas Bawah

Trakea Disebut juga batang tenggorok. Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut

karina.

2. Bronkus

Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri. Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus

lobaris kiri (2 bronkus). Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus

segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental.

Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi

bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf.

3. Bronkiolus

Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang

memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas.

4.

Bronkiolus Terminalis Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus

terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia).

5. Bronkiolus respiratori

respiratori.

Bronkiolus

terminalis

kemudian

menjadi

bronkiolus

Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional

antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.

6. Duktus alveolar dan Sakus alveolar

Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus

alveolar dan sakus alveolar dan kemudian menjadi alveoli.

7. Alveoli

Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu

lembar akan seluas 70 m2. Terdiri atas 3 tipe : Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk

dinding alveoli.

Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara

metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps). Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan

sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.


8. Paru

Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang

berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis. Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh

fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen

sesuai dengan segmen bronkusnya.

9. Pleura

Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan

jaringan elastic. Terbagi mejadi 2 : Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada. Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru. Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan

tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan

atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.

2.2. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN Tiga proses yang berpengaruh pada proses respirasi, yaitu :

1. Ventilasi Pulmoner. 2. Difusi Gas antara alveoli dan Kapiler Paru. 3. Transport O2 dan CO2 melalui darah ke sel sel jaringan.

1. Ventilasi Pulmoner Merupakan proses pertukaran udara antara alveoli dan atmosfir / udara luar. Ventilasi pulmoner akan meningkat slama aktifitas dan dalam keadaan sakit. Hal ini diikuti pengembangan dada dan usaha bernafas maksimal. Selama inspirasi rusuk akan naik oleh karena aksi otot leher anterior dan kontraksi otot intercostal external. Selama ekspirasi rusuk akan turun oleh karena aksi otot perut anterior. Aktifitas otot tambahan dan usaha nafas bertambah pada klien dengan penyakit obstruksi saluran pernafasan. Ventilasi Pulmoner tergantung dari : Kecukupan O2 di Udara Luar Kecukupan konsentrasi O2 di udara luar/ atmosfir merupakan dasar untuk kecukupan respirasi. Konsentrasi o2 pada tempat tinggi lebih randah dari pada di laut. Selama inspirasi, udara melalui hidung, pharing, laring, trachea, bronchi, dan

broncheolus ke alveoli, dan sebaliknya pada periode ekspirasi.Hidung berfungsi menghangatkan, melembabkan dan menyaring udara. Partikel partikel besar pada udara akan difiltrasi oleh rambut pada hidung, dan partikel kecil difiltrasi oleh nasal turbulence. Kebersihan Jalan Nafas Jalan udara dibersihkan oleh membran mukosa, yang terdiri dari cilia. Cilia pada saluran nafas bawah menggerakkan benda asing ke atas dan cilia pada hidung untuk mengeluarkan. Batuk dan bersin berpengaruh penting pada mekanisme kebersihan jalan nafas. Reflek batuk ditimbulkan oleh adanya iritan yang yang mengirimkan impuls melalui saraf vagus ke medulla. Sedangkan bersin terjadi ketika ada impuls saraf kelima ke medulla. Kembang kempis Paru Merupakan pengembangan semua bagian paru dan dada. Pengembangan paru terjadi karena bertambahnya volume paru oleh adanyan peningkatan tekanan paru. Ketidakadekuatan mengembang menyebabkan kerusakan jaringan paru, seperti edema, tumor, paralisis atau kiposis. Regulasi Respirasi Sistem saraf mengatur rata rata dari ventilasi paru agar sesuai dengan kebutuhan tubuh ( PO2 dan PCO2 ) tetap konstan.

Pusat pengendali pernafasan terletak di medulla oblongata dan pons. a)

Volume Pulmoner Volume tidal ( TV ) : jumlah udara yang digunakan pada

tiap siklus respirasi. 500 ml pada laki laki dan 400 ml pada wanita.

Volume cadangan inspirasi / Inspiratory reserve volume

( IRV ) : jumlah udara yang didapat pada inhalasi maksimal, 3100 ml

Volume cadangan ekspirasi / Expiratory reserve volume

( ERV ) : jumlah udara yang dikeluarkan pada saat ekspirasi kuat, 1200 ml.

Volume residu ( RV ) : jumlah udara yang tersisa setelah

ekspirasi, normalnya 1200 ml

b)

Kapasitas Pulmoner

Kapasitas total paru ( TLC ) : jumlah udara maksimal

dalma paru setelah inspirasi maksimal : TLC = TV + IRV + ERV + RV, 6000 ml

Kapasitas vital ( VC ) : jumlah udara yang dapat diekspirasi

setelah inspirasi kuat : VC = TV + IRV + ERV ( biasanya 80 % TLC ), 4800 ml

Kapasitas inpirasi ( IC ) : jumlah udara maksimal yang

didapat setelah ekspirasi normal, IC = TV + IRV , 3600 ml

Kapasitas fungsional residu ( FRC ) : volume udara yang

tertinggal dalam paru setelah ekspirasi normal volume tidal, FRC = ERV + RV, 2400 ml.

c)

Tekanan Pulmoner mengubah tekanan intrapulmonal dan tekanan

Bernafas

intraplueral. Perubahan tekanan tersebut berhubungan dengan perubahan volume paru. Pada saat inspirasi, volume paru bertambah, dan tekanan intrapulmoner menurun. Sebaliknya, pada saat ekspirasi volume paru menurun, dan tekanan intrapulmonal meningkat.

2. Difusi Gas Difusi adalah pergerakan gas/partikel dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. 4 faktor yang berpengaruh pada difusi gas dari membran respirasi : 1. difusi gas. Ketebalan membrane ketebalan membran akan bertambah pada pasien dengan

edema pulmoner atau penyakit pulmoner yang lain. bertambahnya ketebalan membran menyebabkan penurunan

2.

Area permukaan membrane

Perubahan permukaan membran akan berpengaruh pula terhadap rata rata difusi.

3.

Koefisien difusi gas

Koefisien difusi tergantung dari berat molekul dan kelarutan gas dalam membran. CO2 dapat berdifusi 20 kali lebih cepat dari O2.

4.

Perbedaan

tekanan

pada

semua

sisi

membran

perbedaan tekann udara pada semua sisi membran respirasi berpengaruh pada proses difusi. Jika tekanan oksigen pada alveoli lebih besar dari darah, maka o2 berdifusi ke darah. Perbedaan normal dari PO2 antara alveoli dan darah adalah 40 mm Hg.

3. Transpor dari oksigen dan karbon dioksida Oksigen diangkut/disalurkan dari paru ke jaringan jaringan, dan karbondioksida diangkut dari jaringan kembali ke paru. Normalnya 97 % O2 berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah secara bebas, dan dibawa ke jaringan sebagai oxyhemoglobin. Normalnya 25 % atau 5 ml dari O2 per 100ml didifusikan ke jaringan jaringan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap transport oksigen dari paru ke jaringan : Cardiac Output

Merupakan jumlah darah yang dipompa oleh darah, normalnya 5 liter per menit. Dalam kooondisi patologi yang dapat menurunkan cardiac output ( misal pada kerusakan otot jantung, kehilangan darah ) akan mengurangi jumlah oksigen yang dikirm ke jaringan. Umumnya, jantung mengkompensasi dengan menambahkan rata rata pemompaannya untuk meningkatkan transport oksigen. Jumlah Erytrocit Jumlah eritrosit pada laki laki 5juta/mm dan wanita 4,5 juta /mm. Penurunan jumlah eritrosit anemia. Secara Latihan langsung berpengaruh terhadap transpot oksigen.

Bertambahnya latihan peningkatan transport O2 ( 20 x kondisi normal ), menigkatkan cardiac uotput dan penggunaan O2 oleh sel.

Hematokrit Darah

Normalnya 40 % 54 % pada laki laki, dan 37 % 47 % pada wanita. Meningkatnya hematokrit peningkatan viskositas bertambanya cardiac output meningkatnya transport oksigen. Normalnya, dalam kondisi istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah ditransport dari jaringan ke paru paru.

2.3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah : 1. Tahap Perkembangan Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.

2.

Lingkungan

Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.

Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen.

3. Gaya Hidup Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.

4. Status Kesehatan Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada

terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakitpenyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.

5. Narkotika Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.

6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi pernapasan yaitu : kapiler paru. dan Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dari sel jaringan. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan

Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian jalan napas. Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh yang diinspirasi sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi, difusi gas atau transpor gas oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang dapat merubah satu atau lebih bagian-bagian dari proses respirasi. Penyebab lain hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak adekuat sehubungan dengan menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang berakumulasi didalam darah. Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran mukosa yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia hanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.

7. Perubahan pola nafas Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.

8. Obstruksi jalan napas Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi : hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas.

Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).

2.4. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang : 1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)

Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang

masalahnya/penyakitnya. 2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)

Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time). 3. Riwayat perkembangan a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt b. Bayi : 44 x/mnt c. Anak : 20 - 25 x/mnt d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun 4. Riwayat kesehatan keluarga Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit yang sama. 5. Riwayat social Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll. 6. Riwayat psikologis

Disini perawat perlu mengetahui tentang : a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya. b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup. c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapy. d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapy. 7. Riwayat spiritual 8. Pemeriksaan fisik a. Hidung dan sinus Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung. Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris. b. Faring Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak. c. Trakhea Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui. d. Thoraks Inspeksi : Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi elevasi ke atas. Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2 Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter anteroposterior mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter anteroposterior dan tranversal sama atau perbandingannya 1 : 1. Kelainan

tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi. Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan. Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paruparu yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang lambat. Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan

pengembangan perut. Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler, ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea. Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri. Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul, atau rales yaitu

bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi, ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi. Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi, ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah. Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.

Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi, ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah. Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu yang lama. Palpasi : Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.

Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara pria besar.

2.5. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif. 2. Pola napas tidak efektif. 3. Gangguan pertukaran gas. 4. Penurunan kardiak output. 5. Rasa berduka. 6. Koping tidak efektif. 7. Perubahan rasa nyaman. 8. Potensial/resiko infeksi. 9. Interaksi sosial terganggu. 10. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien.

a. Bersihan jalan napas tidak efektif Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas. Tanda-tandanya : Bunyi napas yang abnormal. Batuk produktif atau non produktif. Cianosis. Dispnea. Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan

Kemungkinan faktor penyebab : Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi. Kecelakaan atau trauma (trakheostomi). Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada. Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan. Hilangnya kesadaran akibat anasthesi. Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran. Immobilisasi. Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi. b. Pola napas tidak efektif Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak akuat. Tanda-tandanya :

Dispnea. Peningkatan kecepatan pernapasan. Napas dangkal atau lambat. Retraksi dada. Pembesaran jari (clubbing finger). Pernapasan melalui mulut. Penambahan diameter antero-posterior. Cianosis, flail chest, ortopnea. Vomitus. Ekspansi paru tidak simetris. Kemungkinan faktor penyebab : Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri. Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi. Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru. CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli. Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi. Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau oedema. Penimbunan CO2 akibat penyakit paru.

c. Gangguan pertukaran gas Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis respiratori.

d. Penurunan kardiak output Tanda-tandanya : Kardiak aritmia. Tekanan darah bervariasi. Takikhardia atau bradikhardia. Cianosis atau pucat.

Kelemahan, vatigue. Distensi vena jugularis. Output urine berkurang. Oedema. Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk) Kemungkinan penyebab : Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung. Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan reaksi kegagalan jantung. Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit. Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah.

2.6. RENCANA KEPERAWATAN 1. Mempertahankan terbukanya jalan napas Pemasangan jalan napas buatan Jalan napas buatan (artificial airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam mulut atau hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi

Rute pemasangan : Orotrakheal : mulut dan trachea. Nasotrakheal : hidung dan trachea. Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang diciptakan pada lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3. Intubasi endotrakheal.

Latihan

napas

dalam

dan

batuk

efektif

Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi Cara kerja : Pasien dalam posisi duduk atau baring.

Letakkan tangan di atas dada. Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang. Tahan napas untuk beberapa detik. Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi. Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali. Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan secara cepat disertai batuk yang bersuara.

Ulangi sesuai kemampuan pasien. Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya luka insisi dan mengurangi nyeri.

Posisi yang baik Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan

pengembangan paru maksimal karena isi abdomen tidak menekan diafragma. Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan posisi, ambulasi dan latihan

Pengisapan lendir (suctioning) Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube. Pemberian obat bronchodilator Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema mukosa bronkhus dan spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan pertukaran udara.

Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal dan nebulisasi atau menghisap atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.

2. Mobilisasi sekresi paru Hidrasi Cairan diberikan 2secara oral dengan cara menganjurkan pasien mengkonsumsi cairan yang banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung. Humidifikasi Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir. Postural drainage Adalah posisi khuus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat membantu di dalam pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang di dalam bronkhus dan trakhea, dengan maksud supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya. Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur atau istirahat. Tekniknya : Sebelum postural drainage, lakukan : Nebulisasi untuk mengalirkan secret. Perkusi sekitar 1 - 2 menit. Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode. Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.

3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru Latihan napas Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan melalui peningkatan efisiensi pernapasan yang bertujuan

penghematan

energi

melalui

pengontrolan

pernapasan

Jenis latihan napas : Pernapasan diafragma. Pursed lips breathing. Pernapasan sisi iga bawah. Pernapasan iga dan lower back. Pernapasan segmental.

Pemasangan ventilasi mekanik Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam periode yang lama. Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif. Pemasangan

chest

tube

dan

chest

drainage

Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur thorakik, satu atau lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan dinding dada dan dihubungkan ke sistem drainage. Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, Tujuannya : Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga thoraks dan rongga mediastinum. Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal kardiorespirasi pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan membuat tekanan negatif dalam rongga pleura. Tipenya : The single bottle water seal system. open pneumothoraks, flail chest.

The two bottle water. The three bottle water.

4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia. Dengan pemberian O2 dapat melalui : Nasal canule Bronkhopharingeal khateter Simple mask Aerosol mask / trakheostomy collars ETT (endo trakheal tube)

5. Meningkatkan

transportasi

gas

dan

Cardiak

Output

Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas. Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi buatan. Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya : Health promotion Ventilasi yang memadai Hindari rokok Pelindung / masker saat bekerja Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1) Pakaian yang nyaman Health restoration and maintenance Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan secret.

Teknik batuk dan postural drainage. Suctioning. Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi

fowler/semi fowler, significant other. Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat, fasilitasi lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM. Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis dan hangat, hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi. Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan yang mudah dikunyah dan dicerna. Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan ajarkan latihan. Mencegah Terapi O2. Terapi ventilasi. Drainage dada. dan mengawasi potensial infeksi dengan

menekankan prinsip medikal asepsis.

2.7. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.

BAB III PENUTUP

a.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari oksigenasi adalah : 1. b. Saran

Adapun saran dari oksigenasi adalah :

DAFTAR PUSTAKA

http://athearobiansyah.blogspot.com/2008/03/asuhan-keperawatan-kebutuhanoksigenasi.html , diakses pada tanggal 14 Juni 2011, jam 18.45 WIB. http://nursecerdas.wordpress.com/2008/12/20/kebutuhan-oksigenasi/ , diakses pada tanggal 14 Juni 2011, jam 19.00 WIB. http://www.rusmanmalili.com/KEBUTUHAN-OKSIGENASI.html , diakses pada tanggal 14 Juni 2011, jam 19.20 WIB. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:kFsEU6t2PtUJ:staff.undip.ac.id/ psikfk/wahyuhidayati/material-2/files/2010/09/STUDY-GUIDEOKSIGENASI2.pdf+kebutuhan+oksigenasi&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEEShYUwr4 HkkJ9jVGjiexi5WucT_o0mzfNCJRsaTZR5MS2ebevaWETVFQZoIrdaahkX Y8cBHF38L3nWLajUP2G47dfpaDS6uEuTm6RN4AXBup4MdvfanHOdNVnxyHQqm_4DS32EW&sig=AHIEtbRupDnGoDxCPxGaAEw6pbf 9jaPLNg , diakses pada tanggal 14 Juni 2011, jam 20.00 WIB.

http://iwansain.wordpress.com/2007/08/22/kebutuhan-oksigenasi/ pada tanggal 14 Juni 2011, jam 20.20 WIB.

diakses

You might also like