Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MATERI MANAJEMEN PENJAS

MATERI MANAJEMEN PENJAS

Ratings: (0)|Views: 156|Likes:
Published by RolandPnjsorkes

More info:

Published by: RolandPnjsorkes on Oct 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/20/2013

pdf

text

original

 
BAB I
 
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang Masalah
 
Masa remaja awal adalah suatu stadium dalam siklus perkembangan anak. Rentang usiaremaja awal berkisar antara 12 sampai 15 tahun ( Mappiare, 1982).Pada masa ini adalah periodeambang pintu masa remaja, atau sebagai periode pubertas. Di Indonesia masa remaja awalbiasanya mereka yang tengah menempuh pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
 
Individu adalah makhluk 
sosial
yang dalam kesehariaanya tidak lepas dari komunikasi danhubungan dengan orang lain. Sebagai makhluk 
sosial
individu dituntut untuk mampu mengatasisemua permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan
sosial
sertamampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Hal ini terkait denganketrampilan
 
sosial
yang dimiliki individu. Setiap individu dituntut untuk menguasaiketrampilan
sosial
dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungannya (Mu'tadin, 2002).
 
Ketrampilan
sosial
dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting ketika anak mulai menginjak masa remaja awal. Hal ini disebabkan karena masa itu individu mulaimemasuki dunia pergaulan yang lebih luas. Remaja awal usia 12 - 15 tahun memiliki tugasperkembangan yang berkaitan dengan ketrampilan
sosial
. Pada masa ini individu mulaimenginjak masa transisi dengan kehidupan
 
sosial
yang baru, persaingan dalam bidang akademik lebih dipentingkan sehingga individu kurang dalam sosialisasi dan bermain dengan kelompok atau teman sebayanya. Masa ini individu mengalami krisis psikososial yang terjadi adalah rasamampu dan usaha untuk melawan rasa tidak mampu (Monks, dkk, 1999). Ketidakseimbangan inimenyebabkan individu kurang mendapat kesempatan dalam mengembangkan aspek 
sosial
danemosi. Perkembangan yang kurang optimal ini akan menyebabkan individu kesulitan dalammelatih ketrampilan sosialnya (Retno, 2005). Menurut Boyum dan Park bahwahubungan
 
sosial
yang problematik pada masa remaja awal akan mempengaruhi perilaku -perilaku bermasalah seperti putus sekolah, kriminalitas, kenakalan remaja dan perilaku-perilakupsikopatologis pada masa - masa selanjutnya (Retno, 2005). Hurlock (1978) menyebutkan bahwakelompok 
 
sosial
mempengaruhi perkembangan
sosial
remaja dengan mendorong mereka untuk menyesuaikan diri terhadap harapan
sosial
, membantu mencapai kemandirian danmempengaruhi konsep dirinya.
 
Ketrampilan
sosial
menurut Cavvell (Cartkledge dan Milburn, 1995) adalah bagian darikompetensi
sosial
selain penyesuaian
sosial
(
social adjusment 
) dan
social performance
.Sedangkan menurut Kelly (1982) ketrampilan
sosial
adalah ketrampilan yang diperoleh individumelalui proses belajar yang digunakan dalam hubungan orang lain maupun dengan lingkungansecara baik dan tepat.
 
Salah satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan hubungan
sosial
yang positif denganlingkungan adalah dengan memiliki ketrampilan
 
sosial
. Dengan ketrampilan
sosial
yang dimilikisecara matang diharapkan remaja dapat mengatasi segala masalah yang muncul dalamlingkungan sosialnya. Remaja awal akan lebih banyak memperhatikan statusnya dengan teman
 
sebaya. Interaksi yang terjadi lebih kompleks, selektif dan subyektif sehingga anak dituntutuntuk meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal (Durkin, 1995). Kegagalan pada masaremaja dalam menguasai ketrampilan
 
sosial
akan menyebabkan remaja sulit dalammenyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, terutama ketika remaja tersebut masihbersekolah akan menghambat proses interaksi dengan lingkungan sekolahnya serta akanmenghambat potensi - potensi yang dimilikinya. Remaja tersebut akan mengalami kesulitanbergaul, sehingga kurang mampu dalam berkomunikasi dan merasa kesulitan untuk memulaiberbicara terutama dengan orang yang belum dikenal, merasa canggung dan tidak terlibat dalampembicaraan menyenangkan dan kurang mampu dalam memecahkan persoalan dalam pergaulan.Dalam hubungan yang bersifat formal, remaja yang kurang dalam ketrampilan sosialnya kurangmampu atau kurang berani dalam mengemukakan pendapat, pujian, dan keluhan pada forumumum. Individu yang mempunyai ketrampilan
 
sosial
rendah akan menunjukkan tingkat perilakunegatif yang tinggi. Individu yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik dianggap kurangmempunyai ketrampilan yang kuat dalam interaksi sosialnya ( Munandar, 1985).Ketrampilan
sosial
membawa remaja untuk lebih berani berbicara mengungkapkan setiapperasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian, sehinggamereka tidak mencari pelarian ke hal - hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.Remaja akan memiliki tanggung jawab yang cukup tinggi dalam melakukan sesuatu, mengetahuisituasi dengan siapa dan kondisi bagaimana mereka berbicara maupun menolak sertamenyatakan ketidak senangannya terhadap pengaruh - pengaruh negatif dari lingkungan secaralangsung maupun tidak langsung. Remaja dapat menyesuaikan dengan standar harapanmasyarakat dalam norma - norma yang berlaku dilingkungannya.
 
Keluarga sebagai sumber sosialisasi yang paling utama, membantu remaja dalam membentuk ketrampilan
sosial
pada dirinya. Di dalam keluarga terjadi sebuah hubungan sosialisasi timbalbalik, membangun hubungan, memecahkan suatu masalah dan berargumen dengan anggotakeluarga lainnya. Hubungan yang terjadi ini akan dijadikan sebagai contoh atau cetakan yangakan digunakan remaja dalam berhubungan dengan dunia barunya. Hubungan yang baik antaraorangtua dan remaja akan membantu remaja dalam berinteraksi dan meningkatkan identitas sertaketrampilannya di lingkungan ( Hurlock, 1973).
 
Hubungan anak dan orangtua merupakan hubungan yang lama dan berkesinambungan,diharapkan dapat menciptakan hubungan yang positif sehingga anak akan mempersepsikanhubungan tersebut secara positif pula. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui peran orangtuaadalah melalui penilaian atau persepsi anak terhadap kebiasaan - kebiasaan dan sikap orangtuadalam mengasuh dirinya yaitu sebagai individu yang mengasuh secara langsung. Apabilaseseorang telah memutuskan menjadi orang tua, seseorang terikat untuk dapat menjadi guru danseorang pengasuh. Orang tua mempunyai tanggung jawab secara utuh mengenai pendidikananaknya (Suwaid, 2003). Orang tua secara tidak disadari telah memberikan pengaruh yangsignifikan terhadap pola pikir dan cara pandang individu dalam memandang suatu hal. Tindakan,perkataan dan rasa nyaman dari pengalaman dengan orang tua dapat menjadi bekal bagiketrampilan
sosial
remaja ketika memisahkan diri dari orangtua menuju teman sebayanya.
 
Keluarga sebagai suatu lembaga akan menjadi model yang akan ditiru oleh anak-anak mereka. Seorang ayah sebagai pemegang kendali dalam kehidupan sebuah keluarga,
 
keberadaannya akan mendapat penilaian anak-anaknya terutama tentang persepsi anak-anak terhadap ayah mereka.
 
Dalam penelitian Andayani ( 2000 ) memberikan gambaran bahwa ayah cenderungmengambil jarak dari anak - anaknya. Ayah lebih sibuk dengan dunia di luar keluarga dan sedikitsekali beraktivitas dengan anak - anaknya. Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya dalamdunia kerja dan pencari nafkah utama dalam keluarga, maka yang banyak terjadi adalahrendahnya keterlibatan seorang ayah dalam keluarga.
 
Peran ayah sebagai suatu bagian dari peran orang tua dalam keluarga, lebih khusus mengacupada pola kepribadian, sikap orang tua dan sebagai model. Ayah dengan komitmen yang kuatpada keluarganya memberikan contoh perilaku tanggung jawab untuk anak - anaknya. Seorangayah yang baik adalah meletakkan perannya sebagai seorang kepala keluarga, penegak disiplin,pembimbing moral dan sebagai pendidik dalam kehidupan atau pengganti ibu.
 
Berdasarkan hasil penelitian di AS terhadap 15.000 remaja sebagai sampelnya menunjukkan jika peranan ayah dalam pendidikan anak berkurang maka akan menunjukkan dampak negatif yang signifikan seperti jumlah anak putri belasan tahun hamil tanpa nikah, kriminalitas yangdilakukan anak-anak dan muncul patologi psiko-
sosial
(Slameto, 2002).
 
Kesimpulan dari uraian diatas adalah peran ayah dalam keluarga memiliki pengaruh yangbesar terutama terhadap kehidupan
sosial
seorang anak dalam hal ini remja awal.Kehidupan
sosial
remaja awal yang sedang mengalami masa transisi sangat membutuhkan sosok ayah sebagai figur model dalam pengembangan ketrampilan sosialnya. Penerapan perilaku ayahterhadap anak-anak terjadi bila keduanya ada interaksi yang berjalan. Adanya interaksi inimenimbulkan suatu pemahaman terhadap perilaku model dalam hal ini sosok ayah. Ayah sebagaimodel akan berfungsi dalam pembentukan dunia
sosial
remaja awal.
 B.
 
Tujuan Penelitian
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi remaja awal terhadapperan ayah dalam keluarga dengan ketrampilan
sosial
pada remaja.
 C.
 
Manfaat Penelitian
 
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan Ilmu Psikologi khususnyabidang perkembangan serta menjadi masukan yang dapat dipakai sebagai acuan bagi penelitilebih lanjut yang berkaitan dengan peran ayah dalam keluarga.
 
Secara praktis, apabila dari hasil data-data yang terkumpul menunjukkan hubungan yangpositif antara persepsi remaja tentang peran ayah dalam keluarga, maka peran ayah di dalamkeluarga secara umum dan peran ayah dalam pengasuhan anak-anaknya perlu ditingkatkan agardapat mendorong kemajuan ketrampilan
sosial
.
 
D. Keaslian Penelitian
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->