Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Materi Adaptif 1

Materi Adaptif 1

Ratings: (0)|Views: 356|Likes:
Published by RolandPnjsorkes

More info:

Published by: RolandPnjsorkes on Oct 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/04/2011

pdf

text

original

 
Peranan Guru dan Orang Tua dalamPemberdayaan Anak Luar Biasa
Erfan Agus Munif Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menujukemajuan, dan setiap anak manusia di dunia ini berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagai bagian dari anak manusia, anak luar biasa (anak cacat) juga mempunyai hak yang sama dalam menempuh bidang pendidikan. Untuk dapat berdaya guru dan orang tua memegang peranan yang sangat penting. Sikap positif orang tua akan sangat membantumemberdayakan anak luar biasa
 Kata kunci
: analk luar biasa, pemberdayaanPENDIDIKAN nasional, pada dasarnya diperuntukkan bagi segenap rakyatnegeri ini tanpa terkecuali. Itulah maka, kehadiran sekolah-sekolah khusus (bagi yangcacat maupun yang berbakat), serta sekolah kejuruan, disamping sekolah umum yangcukup banyak jumlahnya, tetap akan masih sangat dibutuhkan. Terutama lembaga-lembaga pendidikan formal bagi anak yang tuna --tuna netra, tuna rungu wicara, tunagrahita, tuna daksa, dan tuna laras-- juga tentu membutuhkan perhatian besar kita, bagimekarnya potensi yang tersimpan dalam dirinya. Mereka tetap merupakan alternatif sumber daya manusia, yang dalam serba keterbatasannya diharapkan mampumenyumbang darma-bakti bagi kejayaan negeri. (Mulyadi,2001)Penyandang cacat menurut Undang-undangn No 4 tahun 1997 didefinisikansebagai “setiap orang yang mempunyai kelainan fisisk dan/mental yang dapatmengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukankegiatan secara selayaknya” Yang termasuk penyandang cacat dalam hal ini adalah
 
 penyandang cacat fisik, penyandnag cacat mental, serat penyandang cacat fisik danmental.TANGGAL 3 Desember ditetapkan PBB sebagai Hari Internasional penyandang Cacat, yang diawali dengan peristiwa Majelis Umum PBB menerimaResolusi No. 37/52 tentang Program Aksi Dunia bagi peningkatan Kualitas HidupPenyandang Cacat tanggal 3 Desember 1982.Resolusi tersebut menekankan pentingnya persamaan hak dan kesempatandalam upaya meningkatkan kualitas hidup mereka, termasuk di bidang pendidikan.Sebagaimana warga masyarakat umumnya, para penyandang cacat jugamemerlukan pendidikan. Pendidikan dibutuhkan oleh setiap orang untuk memperbaikistatus dan kualitas kehidupan mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa bangsa yangmaju adalah bangsa yang warga masyarakatnya terdidik. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi penyandang cacat sangat terbatas dibandingkan orangyang tidak cacat. Menurut UNESCO, dari 93 juta anak penyandang cacat berusia di bawah 15 tahun (usia wajib belajar) di kawasan Asia dan Pasifik, hanya 5 persen yang bersekolah.Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasionalmenyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Ketentuan itu kemudian diatur dalamPeraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa.Peserta didik yang mendapat Pendidikan Luar Biasa menurut PP itu adalahyang mengalami kelainan fisik (tunanetra, tunarungu, tunadaksa), kelainan mental(tunagrahita ringan dan sedang), kelainan perilaku (tunalaras) dan kelainan ganda.Untuk melaksanakan sistem Pendidikan Luar Biasa, dibentuk SLB-A, untuk tunanetra, SLB-B, untuk tunarungu, SLB-C, untuk cacat mental, SLB-D, untuk tunadaksa, SLB-E, untuk tunalaras dan SLB-G, untuk tunamenda.SEKOLAH khusus bagi penyandang cacat dibuat atas pertimbangan bahwa penyandang cacat memerlukan fasilitas khusus dan guru yang terlatih, karena cacatyang mereka alami merupakan hambatan untuk mendapatkan pendidikan secara
 
normal. Bahwasanya penyandang cacat mengalami hambatan untuk mengikuti sistem pendidikan 'normal' dan memerlukan fasilitas khusus serta guru yang terlatih denganmetode pengajaran tertentu, adalah tidak mungkin diingkari. Tetapi kekhususantersebut tidak harus dengan cara mengelompokkan mereka dalam institusi khususyang memisahkannya dengan murid yang tidak cacat.Kritikan terhadap keberadaan sekolah khusus penyandang cacat sudah banyak dilontarkan, terutama dari kalangan penyandang cacat itu sendiri. Penempatan kedalam apa yang disebut "Sekolah Khusus Penyandang Cacat", menjadikan penyandang cacat dipandang sebagai sesuatu yang 'lain' oleh masyarakat: Padahalsesungguhnya mereka adalah juga warga negara biasa sebagaimana masyarakatlainnya. Keberatan itu cukup beralasan, sebab sekolah merupakan salah satu agensosialisasi dalam kehidupan seseorang. Di sekolah, murid tidak hanya mendapatkantransformasi ilmu pengetahuan danketerampilan saja, tetapi juga nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. MelaluiInteraksi Sosial di sekolah, seorang anak dapat memahami adanya perbedaan di antaramereka, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pintar, ada yang malas. Mereka juga melihat adanya kesamaan di dalam suasana yang berbeda-beda itu, yaitu merekasama-sama murid yang sedang menimba ilmu pengetahuan.Di dalam perbedaan dan persamaan itu, mereka juga memahami adanya persahabatan dan persaingan, suatu gambaran dari masyarakat yang sesungguhnya.Pemahaman ini akan terekam dalam perilaku mereka dan ini sangat penting jika tibasaatnya mereka terjun ke masyarakat kelak.Umumnya seseorang yang mengalami kelainan fisik atau mental cenderunguntuk kurang percaya diri (minder). Pengelompokan mereka secara khusus dianggaplebih memberikan rasa aman. Untuk sesaat, rasa aman yang diberikan mungkinterpenuhi, namun terbatas di lingkungan tersebut. Pada sisi lain, masyarakat menuntut penyandang cacat untuk hidup secara 'normal'. Sekolah khusus penyandang cacatseperti yang kita kenal selama ini harus diakui tidak membantu proses integrasi sosioal penyandang cacat, karena anak penyandang

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->