Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Farmasetika

Farmasetika

Ratings: (0)|Views: 155|Likes:
Published by Yamin

More info:

Published by: Yamin on Oct 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

 
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap duacairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik .  Proses ekstraksi dapat berlangsung pada:
 
Ekstraksi parfum,untuk mendapatkan komponen dari bahan yang wangi.
 
Ekstraksi cair-cair atau dikenal juga dengan nama ekstraksi solven. Ekstraksi jenis inimerupakan proses yang umum digunakan dalam skala laboratorium maupun skalaindustri.
 
Leaching,adalah proses pemisahan kimia yang bertujuan untuk memisahkan suatusenyawa kimia dari matriks padatan ke dalam cairan.
 Artikel bertopik  kimia ini adalah sebuah rintisan.Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
 Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan plarut Selektivitas Pelarat hanya boleh melarutkanekstrak yang diinginkan, bukan komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalampraktik,terutama pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak,resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutanekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya diekstraksi lagi denganmenggunakan pelarut kedua. Kelarutan Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuanmelarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). Kemampuan tidak salingbercampur Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas) larut dalambahan ekstraksi. Kerapatan Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapatperbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agarkedua fasa dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengangaya berat). Bila beda kerapatannya kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan denganmenggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal). Reaktivitas Padaumumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponenkornponenbahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia (misalnyapembentukan garam) untuk mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali Ekstraksi jugadisertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus beradadalam bentuk larutan. Titik didih Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengancara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didit kedua bahan itu tidak boleh terlaludekat, dan keduanya tidak membentuk ascotrop.Ditinjau dari segi ekonomi, akanmenguntungkan jika pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti jugahalnya dengan panas penguapan yang rendah).
Halaman ini terakhir diubah pada 16:47, 30 Agustus 2011.
 
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor1027/MENKES/SK/IX/2004 TENTANG STANDAR PELAYANANKEFARMASIAN Dl APOTEK
BAB I
 
PENDAHULUAN
 1.
 
Latar Belakang
 
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yangmengacu kepada
Pharmaceutical Care.
Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanyaberfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yangbertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Sebagai konsekuensi perubahanorientasi tersebut, apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilakuagar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antaralain adalah melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat untuk mengetahuitujuan akhirnya sesuai harapan dan terdokumerotasi dengan baik. Apoteker harus memahamidan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan
(medication error)
dalam prosespelayanan. Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktik harus sesuai standar. Apotekerharus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untukmendukung penggunaan obat yang rasional.
 
Sebagai upaya agar para apoteker dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan baik,Ditjen Yanfar dan Alkes, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Sarjana FarmasiIndonesia (ISFI) menyusun standar pelayanan kefarmasian di apotek. Hal ini sesuai denganstandar kompetensi apoteker di apotek untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian kepadamasyarakat.
 2.
 
Tujuan
 
Standar Pelayanan Kefarmasian di apotek disusun:
 
a.
 
Sebagai pedoman praktik apoteker dalam menjalankan profesi.
 
b.
 
Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak professional
 
 
c.
 
Melindungi profesi dalam menjalankan praktik kefarmasian
 3.
 
Pengertian
 
a.
 
Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluransediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
 
b.
 
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkansumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukanpekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.
 
c.
 
Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika
 
d.
 
Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untukmenyelenggarakan upaya kesehatan.
 
e.
 
Alat kesehatan adalah bahan, instrumen aparatus, mesin, implan yang tidak mengandungobat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankanpenyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau untukmembentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.
 
f.
 
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apotekeruntuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundanganyang berlaku.
 
g.
 
Perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakankegiatan pelayanan kefarmasian di apotek.
 
h.
 
Pharmaceutical care 
adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesiapoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
 
i.
 
Medication record 
adalah catatan pengobatan setiap pasien.
 
 j.
 
Medication error 
adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selamadalam penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah.
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->