You are on page 1of 3

Bapak Ir.

Zainal Sudjais pendiri Azolla Centre

Bapak Ir. Zaenal Soejais Sang Ketua Mapporina mendirikan Azolla Centre di Cikampek. Beliau ingin menebus kesalahan masa lalu karena telah merusak lahan dan sawah dengan pupuk Urea, pada saat beliau menjadi Direktur PT. PUSRI, PT. PKT, dll.

Sawah-sawah di Kecamatan Kayan Nunukan Kaltim ini tidak pernah tersentuh pupuk kimia. Dengan kearifan lokal dibuat suatu konvensi untuk tidak menggunakan kimia di sawah ini. Pure Organic ! 100 % Organic!

Bertemu dengan Bapak Umar Saputra, Sang penemu Nutrisi Saputra di Ruang Kerja beliau di Bogor. Pertanian memang harus maju dan dapat mensejahterakan para petaninya. Kami sangat setuju Pak!

Tamu dari Negeri Brunei Darussalam, yaitu Bapak H. Datuk Awang Damid. Beliau adalah pengusaha besar di negerinya. Obsesi beliau adalah bekerja sama dengan Indonesia di perbatasan dalam bidang pertanian, sehingga keamanan pangan di Brunei bisa didukung dari negeri tetangga. Nunukan adalah daerah Indonesia yang terdekat. Kalau dibangun jalan sepanjang perbatasan, aksesnya sekitar 8 jam, ya seperti naik bus dari Surabaya ke Jogjakarta.

Panen padi di Krayan. Dengan mengembangkan Azolla di sawah-sawah ini produksi padi meningkat, meskipun tanpa pemupukan kimia. Selain itu petani juga menikmati hasil panen ikan dan itik.

Penulis: Muhammad Fauzi (JakataMiol) Pupuk organik Azolla mampu meningkatkan produksi padi hingga sembilan ton per hektare. Padahal umumnya dengan pupuk anorganik (buatan) hanya enam ton per hektare. Demikian diungkapkan mantan Direktur Pupuk Sriwijaya Zaenal Sudjais, peneliti dan pengguna azolla Sudiono dan Ketua Badan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Selasa (8/8).

Sudjais mengatakan, dua tahun sebelum pensiun dari Pupuk Pusri, dia menyadari banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk buatan secara terus menerus mengakibatkan kandungan organik tanah (humus) menurun drastis. Akibatnya kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan biota cenderung

menurun.

"Ibaratnya tanah pertanian kita selama lebih 30 tahun ini dalam kondisi lapar dan lelah, meskipun penggunaan pupuk anorganik ditingkatkan. Azolla mampu merevitalisasi tanah karena tanaman tersebut merupakan unsur nitrogen yang dibutuhkan tanaman, khususnya padi," kata Sudjais.Azolla merupakan tanaman paku air yang tersebar di daerah tropik dan subtropik. Azolla mengandung N (nitrogen) sekitar 4%-5% dan tanaman ini mampu menimbun N sebanyak 25-30 kg N per hektare selama 30 hari.

Beberapa negara di Asia telah menggunakan azolla sebagai pupuk biologi. Antara lain, China, Srilanka dan Thailand.Sementara itu Sudiono mengungkapkan mengetahui azolla sejak 1991 dari berbagai bacaan. Awalnya dia hanya menjadikan azolla sebagai pupuk organik namun, seiring perkembangan ternyata azolla juga bisa untuk pakan ternak (itik, dan babi).

"Selama menggunakan pupuk azolla hasil panen padi meningkat. Satu hektare dengan penggunaan 2 kuintal azolla mampu menghasilkan sembilan ton padi. Padahal pupuk buatan maksimal enam ton saja," kata Sudiono yang mantan penyuluh pertanian di Kabupaten Malang ini.

Di mata Sisiwono, sebenarnya International Rice Reseach Institute (IRRI) sejak 1972 telah melakukan penelitian terhadap azolla. Tapi anehnya hasilnya tidak pernah dipublikasikan atau dimasyarakatkan.Hal ini disebabkan karena azolla merupakan sumber nitrogen di tanah persawahan yang menjadi pesaing besar bagi pupuk nitrogen buatan. Padahal secara ekonomis, azolla lebih menguntungkan dibanding pupuk nitrogen buatan.

"Azolla mudah dibudidayakan dan murah sehingga ketergantungan terhadap pupuk buatan bisa dihilangkan. Ini menguntungkan petani dan pemerintah sebab gas (bahan baku pupuk buatan) bisa diekspor maksimal," imbuh Siswono.

You might also like