Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Kurikulum Pendidikan Di Indonesia

Sejarah Kurikulum Pendidikan Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 57 |Likes:

More info:

Published by: Ahmad Wahyudin Rock'n Roll on Oct 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

 
Kurikulum pada hakekatnya adalah alat pendidikan yang disusun untuk memenuhikebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum akan searah dengan tujuan pendidikan, dan tujuan pendidikan searah dengan perkembangan tuntutan dan kebutuhanmasyarakat (Sanjaya, 2007). Jika kita bicara dengan arah pembangunan masyarakat,maka disini sudah melibatkan sisi politis pendidikan. Karena kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan politis tertentu, maka sangat wajar jika ada istilah ganti menteri gantikurikulum, ganti rezim ganti kurikulum, bahkan Bush Jr. mengucurkan dana miliyarandollar untuk membujuk pesantrren-pesantren di Indonesia agar tidak berpresepsi buruk terhadap orang Kafir dan mengkerdilkan Jihad, lewat perubahan kurikulum pesantrenatau yang disebut moderenisasi kurikulum pesantren. Melalui paparan berikut ini, kitaakan membuktikan bahwa pengembangan kurikulum sebagai alat pendidikan sangatdipengaruhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan rezim yang berkuasa.PENDIDIKAN SEBELUM MASA KOLONIALISMEPada saat zaman hindu budha, pendidikan hanya dinikmati oleh kelas Brahmana, yangmerupakan kelas teratas dalam kasta Hindu. Mereka umumnya belajar teologi, sastra, bahasa, ilmu pasti, dan ilmu seni bangunan. Sejarah mencatat, kerajaan-kerajaan Hinduseperti Kalingga, Kediri, Singosari, dan Majapahit, melahirkan para empu, punjangga,karya sastra, dan seni yang hebat.Padepokan adalah model pendidikan zaman hindu yang dikelola oleh seorangguru/bengawan dan murid/cantrik mempelajari ilmu bersifat umum, religius, dan jugakesaktian. Murid di Padepokan bisa keluar masuk bila merasa cukup atau tidak puasdengan pengajaran guru.Pada zaman penyebaran Islam, pola pendidikan bernapaskan islam menyebar danmewarnai penyelenggaraan pendidikan. Pusat-pusat pendidikan tesebar di langgar, surau,meunasah (madrasah), masjid, dan pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikanformal tertua di Indonesia. Pesantren diajar oleh seorang kyai, dan santri/murid tinggal di pondok/asrama di sekitar pesantren. Jumlah pondok pesantren cukup banyak tersebar diJawa, Aceh, dan sumatera selatan. Sampai saat ini pondok pesantran masih eksis,menurut data DEPAG pada tahun 2005-2006 jumlah pesantren yang asa di 33 propinsi diIndonesia adalah 16.015 buah, dengan jumlah santri sebanyak 3.190.394 orang, dengan proposi laki-laki 53,2% dan perempuan 46,8%. Bagaimana perkembangan pendidikanislam dari sebelum merdeka hingga kini, bisa dibaca dihalaman madrasah pada blog ini.PENDIDIKAN MASA KOLONIALISMEPada masa penjajahan Portugis didirikan sekolah-sekolah misionaris. Portugismendirikan sekolah seminari di Ambon, Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara Timur.Belanda pada awal kedatangannya pun melakukan hal yang sama dengan Portugis.Pendidikan banyak ditangani oleh kalangan gereja kristen dengan bendera NederlandsZendelingen Gennootschap (NZG). Pasca politik etis, Belanda mengucurkan dana pendidikan yang banyak dan bertambah setiap tahunnya, tetapi tujuannya untuk melestrarikan penjajahan di Indonesia.Pada masa penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaranyang berkembang saat itu. Pertama, sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan perantren. Kedua, sistem pendidikan Belanda. Sistem pendidikan Belanda diatur dengan
 
 prosedur yang ketat dari mulai aturan siswa, pengajar, sistem pengajaran, dan kurikulum.Sistem prosedural seperti ini sangat berbeda dengan sistem prosedural pada sistem pendidikan islam yang telah dikenal sebelumnya. Sistem pendidikan belanda pun bersifatdiskriminatif. Sekolah-sekolah dibentuk dengan membedakan pendidikan antara anak Belanda, anak timur asing, dan anak pribumi. Golongan pribumi ini masih dipecah lagimenjadi masyarakat kelas bawah dan priyayi. Susunan persekolahan zaman kolinialadalah sebagai berikut (Sanjaya, 2007:207):a. Persekolahan anak-anak pribumi untuk golongan non priyayi menggunakan pengantar  bahasa daerah, namanya Sekolah Desa 3 tahun. Mereka yang berhasil menamatkannya boleh melajutkan ke Sekolah Sambungan (Vervolg School) selama 2 tahun. Dari sinimereka bisa melanjutkan ke Sekolah Guru atau Mulo Pribumi selama 4 tahun, inilahsekolah paling atas untuk bangsa pribumi biasa. Untuk golongan pribumi masyarakat bangsawan bisa memasuki His Inlandsche School selama 7 tahun, Mulo selama 3 tahun,dan Algemene Middlebare School (AMS) selama 3 tahun. b. Untuk orang timur asing disediakan sekolah seperti Sekolah Cina 5 tahun dengan pengantar bahasa Cina, Hollandch Chinese School (HCS) yang berbahasa Belandaselama 7 tahun. Siswa HCS dapat melanjutkan ke Mulo.c. Sedangkan untuk orang Belanda disediakan sekolah rendah sampai perguruan tinggi,yaitu Eropese Legere School 7 tahun, sekolah lanjutan HBS 3 dan 5 tahun Lyceum 6tahun, Maddelbare Meisjeschool 5 tahun, Recht Hoge School 5 tahun, Sekolahkedokteran tinggi 8,5 tahun, dan kedokteran gigi 5 tahun.Pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universitas tetapi akhirnyamereka mendirikan universitas untuk kebutuhan mereka sendiri seperti RechtsHogeschool (RH) dan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta. Di Bandung, pemerintahkolonial mendirikan Technische Hogeschool (TH). Kebanyakan dosen TH adalah orangBelanda. Menurut Soenarta (2005) kaum inlanders atau pribumi agak sulit untuk masuk ke sekolah-sekolah tinggi itu. Ketika almarhum Prof Roosseno lulus TH, jumlah lulusanyang bukan orang Belanda hanya tiga orang, yaitu Roosseno dan dua orang lagi vreemdeoosterling alias keturunan Tionghoa. Bila demikian, lantas berapa orang yang lulus bersama almarhum Ir Soekarno (presiden pertama RI) dan Ir Putuhena? Di zaman pendudukan Jepang, pernah dicari 100 orang insinyur yang dibutuhkan. Padahal saat itu belum ada 90 orang insinyur lulusan TH Bandung.Agar tidak banyak bangsa Indonesia yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi,maka biaya kuliah pun dibuat sangat besar. Menurut Soenarta (2005) biaya kuliah untuk satu tahun di salah satu sekolah tinggi itu besarnya fl (gulden) 300. Saat itu, harga satukilogram (kg) beras sama dengan 0,025 gulden. Maka, besar uang kuliah sama dengan12.000 kg beras. Bila ukuran dan perbandingan itu diterapkan sebagai biaya kuliah diuniversitas sekarang, sedangkan harga beras sekarang rata-rata Rp 3.000 per kg, makauntuk kuliah di universitas biayanya sebesar Rp 36 juta per mahasiswa per tahun. Biayadi MULO, setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, adalah sebesar 5,60 gulden per siswa per bulan, setara dengan 224 kg beras. Bila dihitung dengan harga beras sekarang,akan menjadi Rp 672.000 per siswa per bulan. Akibatnya banyak anak Indonesia yanglebih memilih masuk Ambachtschool atau Technische School, karena biayanya agak murah sedikit. Berbekal keterampilan yang diperoleh di Ambachtschool atau TechnischeSchool, siswa bisa langsung bekerja setelah lulus.Kurikulum pendidikan Belanda dideisain untuk melestarikan penjajahan di Indonesia,
 
maka pada kurikulum pun dikenalkan kebudayaan Belanda, juga penekan hanya padamenulis dengan rapi, membaca, dan berhitung, yang keterampilan ini sangat bermanfaatuntuk diperbantukan pada Pemerintah Belanda dengan gaji yang sangat rendah. Anak-anak Indonesia pada zaman itu tidak diperkenalkan dengan budayanya sendiri dan potensi bangsanya.Ketiga, sekolah yang dikembangkan tokoh pendidikan nasional seperti KH AhmadDahlan dan Ki Hajar Dewantara. K.H Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yangmenggunakan sistem pendidikan barat dengan menambanhkan pelajaran agama islam. KiHajar Dewantara mendirikan Taman Siswa dengan membuat sistem pendidikan yang berakar pada budaya dan filosofi hidup Jawa, yang kemudian dianggap sebagai sistem pengajaran dan pendidikan nasional.Pada masa Jepang, pendidikan diarahkan untuk menyediakan prajurit yang siap berperang di perang Asia Timur Raya. Peggolongan sekolah berdasarkan status soaialyang dibangun Belanda dihapuskan. Pendidikan hanya digolongkan pada pendidikandasar 6 tahun, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menegah tinggi yangmasing-masing tiga tahun, serta pendidikan tinggi. Sekolah Rendah diganti nama menjadiSekolah Rakyat (Kokumin Gakko), Sekolah Menengah Pertama (Shoto Chu Gakko), danSekolah Mengengah Tinggi (Koto Chu Gakko). Hampir semua pendidikan tinggi yangada pada zaman Belanda ditutup, kecuali Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta, danSekolah Teknik Tinggi di Bandung.Pada masa peralihan dari Jepang ke Sekutu, ketika proklamasi dikumandangkan,dibentuklah Panitia Penyelidik Pengajaran RI yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara.Lembaga ini melahirkan rumusan pertama sistem pendidikan nasional, yakni pendidikan bertujuan menekankan pada semangat dan jiwa patriotisme. Kemudian disusun punla pembaruan kurikulum pendidikan dan pengajaran. Kurikulum sekolah dasar lebihmengutamakan pendekatan filosofis-ideologis. Proses penyunsunan singkat dan tentu sajatanpa disertai data empiris. Penetapan isi kurikulum di masa permulaan kemerdekaan itu berdasarkan asumsi belaka.ENDIDIKAN SETELAH INDONESIA MERDEKA DARI BELANDA CS (SEKUTU)Setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuankurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasiskompetensi (2004 dan 2006).KURIKULUM SEDERHANA (1947-1964)Rencana Pelajaran 1947Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketikaitu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbangistilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yangtidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yangorientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda.Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perangrevolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karenaitu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950.Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitudaftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->