Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pasar Bebas Dan Peran Pemerintah

Pasar Bebas Dan Peran Pemerintah

Ratings: (0)|Views: 1,700|Likes:
Published by s1mb4h

More info:

Published by: s1mb4h on Oct 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/29/2012

pdf

text

original

 
PASAR BEBAS DAN PERANPEMERINTAHmata kuliah : Etika bisnisRabu, 28 September 2011
 
Globalisasi dan Implikasinya
Menurut
George C. Lodge
dalam bukunya
ManagingGlobalization In The Age Of Interdependence
(1995: 1),globalisasi adalah suatu proses dimana masyarakat duniamenjadi semakin terhubungkan (
interconnected 
) satu samalainnya dalam berbagai aspek kehidupan mereka baik dalam halbudaya, ekonomi, politik, teknologi, maupun lingkungan.Akibatnya, dunia saat ini telah menjadi sebuah
 pasar global
,bukan hanya untuk barang dan jasa, tetapi juga untukpenyediaan modal dan teknologi. Atau dengan kata lain, negara-negara di dunia, secara berangsur telah beralih kepadamekanisme pasar (
market-driven
) daripada campur tanganpemerintah dalam memecahkan berbagai persoalanperekonomian nasional.Dengan keterkaitan antara satu negara dengan negara lainnyaini, salah satu implikasi yang muncul adalah ketatnya persainganantar bangsa, baik dalam hal produk barang dan jasa, kapasitassumber daya manusia, maupun dalam hal penyediaan fasilitasdan prosedur yang memadai untuk kegiatan investasi darinegara tertentu. Jika suatu negara tidak memiliki basiskeunggulan berbanding (
comparative advantage
) apalagikeunggulan bersaing (
competitive advantage
), maka dapatdipastikan bahwa negara tersebut akan tergilas oleh negara lain,sehingga pada gilirannya, secara internasional akanmenempatkan negara tersebut pada posisi terbelakang.Dalam kaitan ini, sangat menarik untuk menyimak pendapat
Kristiadi
(1997: 75-76) mengenai pergeseran basisperekonomian dari komparatif menjadi kompetitif suatu negarasebagai berikut:
“Dalam menghadapi era liberalisasi ekonomi Asia Pasifik (APEC) dandunia (WTO) yang tidak mungkin dihindari, pergeseran basis kompetitif dari sumber daya alam kepada sumber daya manusia, sudah menjadituntutan mutlak. Sebab, hanya negara-negara yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sajalah yang akan mampumeningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya dengancepat. Negara-negara yang hanya mengandalkan kekayaan SDA tetapi
 
mengabaikan kualitas SDM, tidak akan mampu bersaing dalam duniainternasional dibandingkan dengan negara yang mempunyai SDAterbatas namun memiliki SDM yang unggul”.
Untuk menghindari kekalahan dalam persaingan global ini, makasuatu negara harus melakukan upaya-upaya reformasi dalamkebijakan publiknya. Bahkan
Tanri Abeng
(1997: 91)menegaskan bahwa proses globalisasi selalu menghendakidilakukannya transformasi manajemen bagi setiap organisasi,baik privat maupun organisasi publik. Tuntutan akan perlunyatransformasi manajemen atau penerapan paradigma barumanajemen ini ditekankan juga oleh
Emil Salim
(1997: 18-19)yang mengatakan sebagai berikut:
“……. proses globalisasi yang sedang melanda dunia sekarang inimelahirkan kebutuhan mengkaji ulang pola-pola manajemen yangdilaksanakan sekarang untuk diubah dan disesuaikan agar mampumenanggapi tantangan jaman. …… pola manajemen modern ini tidak hanya perlu dikembangkan dalam lingkungan bisnis, tetapi lembaga pemerintah dan organisasi kemasyarakatan umumnya juga perlumengembangkan pola manajemen modern, sungguhpun tidak serupadengan keperluan bisnis – tetapi paling tidak – sesuai dengankeperluan untuk menanggapi tantangan global”.
Perlunya transformasi manajemen sektor publik ini dilatarbelakangi oleh suatu masalah yang sangat krusial, yaitubagaimana menciptakan efisiensi kerja serta mendorong kinerjasektor publik. Sebab, kondisi aktual maupun faktual selama inimenunjukkan bahwa organisasi pemerintah masih cenderungbersifat organik dengan mekanisme kerja yang tidak efisien sertakurang memiliki daya saing yang memadai dibanding sektorprivat atau swasta, apalagi dibandingkan dengan pihak luarnegeri.Hal ini menunjukkan adanya ironi, bahwa ditengah penilaianpositif dari dunia internasional kepada Indonesia dalam bidangekonomi seperti yang akan dipaparkan dibawah ternyatakondisi riil lebih banyak bersifat negatif. Dalam kasus ini munculpermasalahan, apakah penilaian dunia internasional tersebutbenar-benar obyektif. Sebab, hanya dalam beberapa tahunsetelah predikat “ajaibtersebut, justru Indonesia kembaliterlempar ke jurang krisis kegelapan, kelaparan danketerbelakangan.Bahkan secara terbuka,
Presiden Soeharto
(dalam Kompas, 1April 1998: 1) mengakui bahwa sebagai akibat krisis moneterdan krisis ekonomi, pendapatan rata-rata per kapita rakyat telah

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
SuariAri liked this
SuariAri liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->