Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tabloid Institut gitu loooh

Tabloid Institut gitu loooh

Ratings: (0)|Views: 421|Likes:
Published by api-3753378
Tabloid Institut edisi IV bulan oktober 2007
Tabloid Institut edisi IV bulan oktober 2007

More info:

Published by: api-3753378 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

12 HALAMAN
EDISI IV/ Oktober /XXII/ 2007
Ciputat,INSTITUT- Di sela-sela kegiatan

Kemah Jurnalistik (Kemjur) di Bumi Perkemahan dan Wisata (Buperta) Cibubur, seusai melaksanakan shalat Maghrib, para jurnalis INSTITUT menghampiri beberapa jamaah yang sedang duduk di serambi masjid. Basa-basi perkenalan nama dan alamat tinggal mengawali perbincangan. Mereka terkejut ketika salah seorang anggota LPM INSTITUT mengaku berasal dari UIN Jakarta. \u201cAlhamdulillah, ternyata masih ada mahasiswa UIN yang mau salat,\u201d ucap salah seorang jama\u2019ah. Mereka kemudian menanyakan rumor yang menyatakan UIN Jakarta sebagai pusat penyebaran Islam liberal.

Peristiwa
ini
setidaknya

dapat menggambarkan bahwa hingga kini beberapa kalangan masyarakat masih memiliki paradigma demikian terhadap UIN. Kami pun menjelaskan realita yang sesungguhnya di UIN Jakarta. Benar ada mahasiswa yang memiliki pemikiran liberal, tapi itu pun hanya sebagian kecil. Dan mahasiswa yang pemikirannya liberal bukan berarti ia tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.

Selain itu, di UIN Jakarta hampir semua corak pemikiran tumbuh dengan subur. Dan Islam Liberal hanyalah salah satu bagian dari warna-warni corak pemikiran ini. Sebagaimana diungkapkan Direktur

International Center for Islam and Pluralism,

Sya\ufb01q Hasyim, \u201cKita tidak bisa menjadikan Ciputat sebagai faktor determinal. Karena Ciputat/UIN Jakarta hanya bagian kecil dari Islam Liberal. Promotor Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla saja tak ada hubungannya sama-sekali dengan UIN Jakarta,\u201d kata alumnus Aqidah Filsafat FUF UIN Jakarta 1990-1991 ini.

Sementara itu, Guru Besar FUF, Prof Dr Kautsar Azhari Noor menyatakan, stigma liberal yang disandangkan pada UIN Jakarta besifat sangat subyektif. \u201cAda yang menganggap stigma itu pantas, ada pula yang tidak. Jika ada orang yang menilai kampus ini sesat, itu adalah penilaian yang murahan,\u201d papar Kautsar.

Imageliberal ini sering pula dikaitkan
dengan tradisi pemikiran pembaharu yang
menjadi ciri khas sekaligus keunggulan

UIN dibanding kampus lain. Tapi gelora intelektual ke-Islaman yang dirajai UIN Jakarta kini seolah tinggal dongeng belaka. Romantisme perdebatan keilmuan tinggal kenangan. Hanya sebagian kecil mereka yang tetap mempertahankan tradisi itu dalam forum-forum diskusi yang masih eksis saat ini.

Tak dapat dipungkiri, mereka (forum studi/kajian) adalah denyut nadi intelektual. Setiap forum studi biasanya mempunyai ciri khas tersendiri. Baik itu kajiannya, maupun kumpulan aktivisnya. Dari mulai yang berasal dari satu atau gabungan beberapa organisasi, hingga mereka yang memang membentuk forum kajian sebagai alternatif untuk menghindar dari organisasi formal yang mengkotak-kotakan mahasiswa. Tak jarang pula, forum diskusi menjadi kawah penyucian diri untuk melebur satu warna setelah mereka saling tempur membela warna masing-masing dalam medan politik.

Penurunan daya dobrak intelektual kampus tersebut diakui para penggiat forum-forum diskusi di Ciputat. Minimnya mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti diskusi adalah penyebab utama pudarnya tradisi intelektual. Hal itu dinyatakan oleh Lukman Hakim dari Indonesian Studies and Advocation Centre (ISAC).

M. Ali Fernandes, Direktur Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) serta Maman, aktivis Lingkar Studi Piramida Circle mengatakan, munculnya sikap pragmatis dan orientasi yang berbeda dengan zaman IAIN sebagai salah-satu sumber kemunduran gairah intelektual

kampus.
Rahmat

Sahid, Koordinator Forum Kajian Ushuluddin (FOKUS) memiliki pandangan yang kurang lebih sama. \u201cArtikulasi pemahaman ke- Islaman di forum diskusi semakin berkurang karena banyak mahasiswa sekarang terjebak kedalam sikap pragmatis,\u201d tutur pemuda asal Kebumen ini. \u201cSekarang banyak mahasiswa yang terjebak proyek politik, jadi \u2018tim hore\u2019 acara talkshow di stasiun TV, dan membuat seminar-seminar yang tidak membangun, hanya titipan-titipan instansi yang memiliki kepentingan,\u201d lanjut Mahasiswa yang aktif di Forkot sejak tahun 2000 ini.

Karena itu, Lukman Hakim menyatakan

tidak heran jika kesinambungan pemikiran Islam beberapa tokoh UIN saat ini telah terputus. Dalam hal ini, forum diskusi mengemban tanggung jawab yang cukup besar. \u201cKita harus terus berupaya memahami khazanah intelektual Islam se-komperhensif dan se-otentik mungkin,\u201d kata Lukman.

Di samping kelompok-kelompok studi, beberpa organisasi ekstra kemahasiswaan juga turut menyalakan perang wacana yang ada. Mereka diantaranya HMI, PMII, dan IMM, organisasi ekstra yang telah lama eksis di lingkungan kampus ini. Tapi seiring bergantinya zaman, peran mereka di kancah intelektual semakin meredup. Justru organisasi yang terbilang lebih muda dari mereka seperti KAMMI dan HTI, yang saat ini terlihat sedang bersemangat dalam dakwah wacananya.

Sya\ufb01q Hasyim mengatakan, hal itu bisa jadi karena organisasi lama (HMI, PMII, IMM) telah jenuh bergelut dengan pemikiran ke-Islaman mereka. \u201cBiasanya sebuah organisasi mapan, bila tidak ada inovasi atau hal baru yang mereka kembangkan, kejadiannya akan seperti itu,\u201d ujar Sya\ufb01q. Namun lanjutnya, bisa jadi sebenarnya sekarang intelektualisme dan peminat studi pemikiran tidak berkurang. Hanya saja sekarang fakultas-fakultas agama menjadi bagian kecil sebagai akibat perubahan IAIN menjadi UIN. \u201cDulu ketika masih IAIN, fakultas agama seperti FUF terlihat besar. Berbeda dengan sekarang setelah menjadi universitas dan banyak dibuka fakultas- fakultas umum.

Sementara itu Saidiman, aktivis Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) yang baru saja mendapat gelar S1 Filsafat tahun lalu, menyebut sistem Student Govermnent (SG) sebagai faktor kemunduran intelektual organisasi-organisasi lama ini. Saidiman mengatakan, sejak dulu dirinya tidak setuju dengan bentuk pemerintahan mahasiswa itu. Selain SG, budaya pop yang menjangkiti mahasiswa zaman sekarang serta pemikiran konservatif menurutnya adalah akar kemerosotan intelektual mahasiswa UIN Jakarta. [MSW, Denhas, Irsyad, Rose,

Badru, Haris, Ali]
D
alam buku \u201cIslam Rasional\u201d Harun
Nasution tertulis, pada bulan Juni 1987,

di sebuah LustrumVI, segenap sivitas akademika mendeklarasikan IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pusat studi pembaharu Islam di tanah air.

Hal itu tak lepas dari peran besar Rektor kala
itu, Prof Dr Harun Nasution.

Bermula sejak melakukan studi di luar negeri, Harun mengetahui budaya intelektual di IAIN Jakarta sangat sempit, tradisional dan spesialisasinya Fiqih. Ini didengarnya dari orang- orang Indonesia yang datang ke Mesir untuk menuntut ilmu.

Setelah mendapatkan gelar doktor, IAIN memboyongnya ke Ciputat. Dengan kondisi IAIN yang telah diketahuinya ini, Harun pun sering berceramah dalam acara-acara Universitas. Fiqih, materi yang biasa diceramahkan, diganti dengan diskusi dan dialog yang menumbuhkan sikap kritis dan terbuka atas beberapa pemikiran yang diformulasikan oleh intelektual-intelektual Islam.

Kurang lebih empat tahun kemudian, Harun Nasution dilantik menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia ingin melihat umat Islam Indonesia dan dunia pada umumnya maju. Harun kemudian melakukan gebrakan untuk merubah kurikulum IAIN. Untuk itu, Harun mempertemukan Rektor IAIN seluruh Indonesia di Ciumbuleuit. Tapi usul Harun ini ditolak oleh para Rektor tua seperti H Ismail Ya\u2019cub dan KH Bafadal. Yang mendukung niat Harun diantaranya Mulyanto Sunardi selaku Dirjen Perguruan Tinggi Islam Depag RI dan Zarkawi Suyuti, Sekretaris Dirjen Bimas Islam.

Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya para Rektor tua menyetujui perubahan itu dengan syarat mata kuliah Tafsir, Hadits, Fiqih tetap dipertahankan sebagai ciri keislaman IAIN. Mulai saat itu, Pengantar Ilmu Agama, Filsafat, Tasawuf, Ilmu kalam, Tauhid, dan Sosiologi pun diajarkan.

Pemikiran Harun sering merujuk pada teologi Mu\u2019tazilah dan Muhammad Abduh. Sementara mayoritas ulama Indonesia adalah pengikut Asy\u2019ariyah. Karena itu banyak kritik tertuju pada Harun. Muncullah pro dan kontra. Tapi karena integritas pribadi, keluasan ilmu, dan re\ufb02eksi jiwa seorang pendidik dari Harun Nasution, ia menyalurkan polemik itu lewat forum-forum diskusi, seminar dan tulisan.

Langkah intelektual Harun Nasution ini pun dilanjutkan generasi berkutnya seperti Nurcholis Madjid, Azyumardi Azra, Kautsar Azhari, Komaruddin Hidayat dan lain-lain. Bahkan begitu fenomenalnya gerakan pembaharu ini sehingga beberapa kalangan menyebut intelektual IAIN dan sekitarnya sebagai Madzhab Ciputat.

Tapi kini, nadi intelektual itu terasa kurang getar dan gregetnya. Ada yang mengklaim budaya pop, hedonis, study oriented, konversi IAIN menjadi UIN dan lain-lain sebagai penyebab kemunduran ini. Bahkan ada pula yang menyebut

Student Government, yang telah melenceng dari

tujuan awal sebagai biang keladi hal ini. Yang jelas, amat disayangkan bila budaya keilmuan sebagai nilai dan ciri khas yang telah kita punya ini harus lenyap. Padahal ilmu pengetahuan- lah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Dengan ilmu, Tuhan mengangkat derajat seseorang dari yang lainnya disamping orang- orang yang bertakwa.[]

Deklarasi Kampus Pembaharu
Editorial
Menepis Stigma Liberal
Menghidupkan Tradisi Intelektual
Laporan Utama Hal. 1-3
Laporan Khusus Hal. 4-5
Kampusiana Hal. 8-9
Opini Hal. 6
Laporan Khusus
Cerpen
Pustaka

Mashasiswa bisa independen dan menjadi penegak dan pembela demokrasi yang harus selalu membuka diri terhadap perubahan dan melakukanotokritik. Jangan sampai menjadi

barbaric intelektual...
...Karena
agama

bukan-lah merupakan komoditas eksklusif, ...

\u201cYa Tuhan, aku berdoa seperti doa yang kuucapkan kemarin. Kabulkanlah doaku, Tuhan...\u201d

...Kalau dari pihak rektorat sendiri menginginkan
saya menjalankan kepemimpinan selama 365
hari.

Opini
Hal. 6
Menggugat
Puritanisasi Islam
Hal. 7
Terpilih Sebagai Presiden
Ajo Akan Merakyat.
Hal.11
Hal. 5
Seperti Kemarin
Dalam Ibid Sebuah Doa
EDISI IV Oktober / XXII/ 2007
2Ciputat,INSTITUT- Tradisi intelektu-

al mahasiswa UIN Jakarta yang digagas para pemikir terdahulu seperti Harun Nasution dan Nurcholis Madjid kini kurang dilestari- kan oleh generasi penerusnya, yakni maha- siswa yang sekarang sedang menimba ilmu di kampus ini. Penurunan tradisi intelektual ini diakui oleh para aktivis dari oranisasi eks- tra dan intra kampus.

Ketua umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ahmad Syah- ril Baidilah menyayangkan terkikisnya tra- disi intelektual mahasiswa yang diakibatkan

budaya hidup hedonis dan belajar an sich. Lebih lanjut, Syahril mengungkapkan penye- bab yang tak kalah penting seperti pimpinan universitas (rektorat) yang tidak memberi- kan ruang untuk organ ekstra, mahasiswa yang acuh tak acuh dengan dunia gerakan, serta lunturnya idealisme mahasiswa.

Indikasi menurunnya intelektualitas mahasiswa, menuurut Syahril dapat dili- hat dari keadaan dan jumlah forum kajian. \u201cForum kajian sudah tidak berkembang dan jumlahnya semakin berkurang. Budaya tulis menulis pun masih sedikit. Jarang ada maha- siswa yang menuliskan gagasan atau idenya baik di buletin, mading, dsb.,\u201d ungkapnya.

Sementara itu, Ketua umum Ikatan Maha-
siswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Cipu-
tat, Mansur

menuturkan degradasi tradisi intelektual mahasiswa berkait erat dengan berubahnya IAIN menjadi UIN. Konversi tersebut mem- buka banyak fakultas dan program studi umum yang spesi\ufb01kasi keilmuannya tidak terfokus untuk mendalami pemikiran Islam.

Akmal, Ketua Bidang I Pergerakan Ma- hasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat (2006-2007) juga mengutarakan hal yang sama. Proses merosotnya intelek- tual sudah terlihat mulai tahun 2002 atau sejak IAIN berubah menjadi UIN. \u201cBuda- ya yang dibawa oleh fakultas umum telah mengubah pola dasar ke-Islaman serta pola hidup mahasiswa yang berbeda. Akibat yang paling fatal dari perubahan ini adalah forum-forum studi semakin ditinggalkan dan berganti menjadi komunitas hobi,\u201d kata Akmal ketika ditemui di Sekretariatnya.

Penanggungjawab BDK Hizbut Tahrir Indoneia (HTI) Ciputat, Ahmad Fikri men- gatakan, pemikiran Islam sekarang rendah bila dibandingkan dengan kultur sebelum- nya, dimana kelompok-kelompok kajian tumbuh subur dan beragam. Pria berdarah Sunda ini menjelaskan, sekarang mahasiswa lebih suka masuk dalam budaya hedonis yang dapat melemahkan tradisi keilmuan. Itu bisa dilihat dari ungkapan yang keluar dari perbincangan keseharian dan minim- nya peminat terhadap kajian-kajian keil- muan dibandingkan generasi sebelumnya.

Sementara itu, Ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Elban Faqih Esa menjelaskan, mindset ma- hasiswa sekarang memang sudah berubah. Mereka lebih ber\ufb01kir bagaimana supaya cepat mendapat pekerjaan. Akibatnya, mahasiswa mena\ufb01kan hal-hal yang fundamental. Dalam menilai intelektualitas seorang mahasiswa, Elban melihat dari sudut karya. \u201cSejauh mana karya itu dikembangkan dan semakin publish karya itu, maka intelektualitas makin tinggi,\u201d papar mahasiswa berdarah Jawa-Sunda ini.

Kondisi intelektual kampus yang men- jadi kiblat seluruh Perguruan Tinggi Islam di Indonesia ini sangat disesalkan oleh Guru Besar Tasawauf FUF UIN Jakarta, Prof.Dr Kautsar Azhari Noor. \u201cDulu, mahasiswa IAIN Jakarta, dijuluki sebagai para pembaharu karena tradisi baca, diskusi serta ber\ufb01kir bebas, ilmiah, dan sikap kritis terus dikem- bangkan,\u201d kata Kautsar sedikit bernostalgia.

Dosen yang pada April lalu menjadi pem-

bicara dalam Seminar Spiritualitas di Oxford University Inggris ini melihat kondisi in- telektual UIN Jakarta kurang progresif. Hal ini menurutnya di-

perparah

Saidiman: \u201cUIN sekarang semakin diisi dengan isu-isu politik. Lihat saja, sejak awal
Propesa (Program Pengenalan Studi dan Almamater) mahasiswa baru langsung di-
perkenalkan kepada politikus-politikus kampus. Ini secara tidak langsung telah mencetak
bayangan pada mahasiswa baru, \u2018bagaimana kelak aku bisa duduk di BEM\u2019. Niatan awal
dari rumah untuk menuntut ilmu dihadapkan pada arus deras yang mengarahkan mer-
eka ke dunia politik.\u201d

Ketika Intelektualisme Tak lagi Dilirik

oleh kapasitas intelektual dosen yang kurang memadai dan kurang menekankan maha- siswanya untuk ber\ufb01kir progresif. \u201cApalagi mereka yang anti dengan pemikiran-pemiki- ran Islam dan Barat,\u201d papar Kautsar. Tetapi, Kautsar menilai masih ada kesinambun- gan antara pemikiran zaman Harun dan sekarang, terutama dalam bidang teologi. Meski hanya sebagian kecil mahasiswa dan dosen saja yang mampu melaksanakannya.

Berbeda dengan Reza Miladi Fauzan, mantan Ketua DPP PIM 2003-2004 ini me- mandang tren pemikiran UIN Jakarta saat ini berkembang ke arah yang lebih progresif. \u201cSekarang bukan saatnya lagi berbicara pada tataran yang \ufb01loso\ufb01s, tapi lebih ke bagaima- na Islam mampu menangani persoalan hid- up, kemiskinan, masalah-masalah sosial dan menyejahterakan masyarakat,\u201d ungkap Reza. Mantan Capres BEM-UIN Jakarta dari PIM pada Pemira 2006 ini mengatakan, masalah- masalah diatas memiliki daya tarik lebih besar dari pada masalah yang bernuansa teologis \ufb01loso\ufb01s. \u201cSepertinya tokoh-tokoh mahasiswa sudah mulai kelelahan berdebat dengan ar- gumen-argumen berat seperti itu,\u201d tuturnya.

Saidiman, aktivis Formaci, menyatakan, budaya intelektual kampus bisa dikatakan maju apabila ada legitimasi dari pihak kam- pus. \u201cUIN sekarang semakin diisi dengan isu-isu politik. Lihat saja, sejak awal Propesa (Program Pengenalan Studi dan Almamater) mahasiswa baru langsung diperkenalkan ke- pada politikus-politikus kampus. Ini secara tidak langsung telah mencetak bayangan pada mahasiswa baru, \u2018bagaimana kelak aku bisa duduk di BEM\u2019. Niatan awal dari rumah untuk menuntut ilmu dihadapkan pada arus deras yang mengarahkan mereka ke dunia politik,\u201d papar Saidiman. Ironisnya, imbuh Saidiman, mereka yang menjadi Presiden Ma- hasiswa (Presma) juga bukan berasal dari fo- rum-forum diskusi. \u201cMana ada calon presiden BEM-UIN sekarang yang kenal dengan forum studi?\u201d Tegas pria bermata sedikit sipit ini.

Tanggapan Forum-forum Diskusi

Tak dapat dipungkiri, mereka (forum studi/kajian) adalah denyut nadi intelektual. Setiap forum studi biasanya mempunyai ciri khas tersendiri. Baik

itu kajiannya,
m a u p u n
k u m p u l a n
aktivisnya.
Dari
mulai
y a n g

berasal dari satu atau gabungan beberapa organisasi, hingga mereka yang memang membentuk forum kajian sebagai alternatif untuk menghindar dari organisasi formal yang mengkotak-kotakan mahasiswa. Tak jarang pula, forum diskusi menjadi kawah penyucian diri untuk melebur satu warna setelah mereka saling tempur membela warna masing-masing dalam medan politik.

Penurunan daya dobrak intelektual kampus tersebut diakui para penggiat forum-forum diskusi di Ciputat. Minimnya mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti diskusi adalah penyebab utama pudarnya tradisi intelektual. Hal itu dinyatakan oleh Lukman Hakim dari Indonesian Studies and Advocation Centre (ISAC).

M. Ali Fernandes, Direktur Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) serta Maman, aktivis Lingkar Studi Piramida Circle mengatakan, munculnya sikap pragmatis dan orientasi yang berbeda dengan zaman IAIN sebagai salah-satu sumber kemunduran gairah intelektual kampus.

Rahmat Sahid, Koordinator Forum Kajian Ushuluddin (FOKUS) memiliki pandangan yang kurang lebih sama. \u201cArtikulasi pemahaman ke-Islaman di forum diskusi semakin berkurang karena banyak mahasiswa sekarang terjebak kedalam sikap pragmatis,\u201d tutur pemuda asal Kebumen ini. \u201cSekarang banyak mahasiswa yang terjebak proyek politik, jadi \u2018tim hore\u2019 acaratalkshow di stasiun TV, dan membuat seminar-seminar yang tidak membangun, hanya titipan-titipan instansi yang memiliki kepentingan,\u201d lanjut Mahasiswa yang aktif di Forkot sejak tahun 2000 ini.

Karena itu, Lukman Hakim menyatakan tidak heran jika kesinambungan pemikiran Islam beberapa tokoh UIN saat ini telah terputus. Dalam hal ini, forum diskusi mengemban tanggung jawab yang cukup besar. \u201cKita harus terus berupaya memahami khazanah intelektual Islam se-komperhensif dan se-otentik mungkin,\u201d kata Lukman.

Rahmat Sahid menggarisbawahi bahwa tanggung jawab disini adalah dalam artian tanggung jawab moral. \u201cTanggung jawab forum diskusi cukup besar, tapi dalam di- mensi horizontal. Forum kajian tidak me- miliki atasan dimana ia harus melapor atau bertanggung jawab,\u201d katanya.[Akhwani,

Pandi, Sabir, Nezt, Susi, Istiana]
Mereka yang zaman dulu hobi diskusi
Dok. INSTITUT
Pelindung Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA Penasehat Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Pemimpin Umum Moh. Hani-

fuddin Mahfudz Sekretaris Umum Saumi Rizkianto Bendahara Umum Rosita Indah Sari Dewan Redaksi Nanang Syaikhu, Idris Thaha, Budi Rahman Hakim, Alamsyah, M. Djafar, Karno Roso Pemimpin Redaksi MS. Wibowo Redaktur Pelaksana M. IrsyadRedaktur Akhwani Subkhi, Ardian Arda, Agnes, Dede Supriyatna, Rose, Haris, Sabir, Titin Sya\ufb01tri, Zaki, Badru, Ira, Istiana Nurmaulida, Susi, Syahiru Direktur Litbang Ali Masykuri Direktur Artistik Dwi SetiyadiIlustrator Pandi MerdekaDirektur

PerusaahaanRosdiana FotograferBadru Alamat Redaksi UIN Syarif Hidayatullah Gd. Student Centre Lt III Ruang 307 Jl. Ir.

H. Djuanda No. 95 Ciputat Jakarta Selatan 15419Careline 0815 8669 1925Homepage http://lpminstitut.wordpress.come-mail lpmisntitut@gmail.com. Redaksi menerima tulisan berupa Opini dan Resensi, ditulis di kertas A4, spasi ganda, font Times New Ro- man ukuran 12. lebih baik disertai dengan soft copy.

Setiap wartawan INSTITUT dibekali tanda pengenal, tidak dibenarkan memberi insentif dalam bentuk apapun kepada wartawan
INSTITUT yang sedang bertugas.

Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa
INSTITUT UIN Jakarta
SK. Rektor No. 23 Th. 1984
Terbit pertama kali 1 Desember 2006

UTAMA
EDISI IV Oktober / XXII/ 2007
11
harapan
T u h a n
mendengarnya. Bukankah
Tuhan tahu segala bahasa doa dengan
segala cara?
Kebiasaan
doa
yang

demikian mengingatkanku pada saat aku masih berstatus mahasiswa beberapa waktu lalu. Aku ingat saat-saat membuat karya ilmiah. Seperti dalam membuat makalah misalnya, apabila penulis ingin mengutip kembali dari buku dan pengarang yang sama, dia tidak perlu menulis kembali nama pengarang, judul buku, tahun terbit dan nama penerbitnya. Cukup menulis tandaibid dan nomor halaman, pembaca akan mengerti tanda itu.

Doanya pun kurasa nyaris sama dengan sistemibid ini. Ketika dia lelah atau malas dengan doa yang panjang, dia mengambil cara lain yang mudah dan praktis. Dan dia yakin bahwa Tuhan mengetahui apa makna doanya itu meski dia tak menyebutkan doanya secara utuh. Aku tidak tahu apakah dia pernah menulis makalah dan mengetahui sistem

ibid atau tidak. Tapi itu tidak penting.

Permasalahannya sekarang adalah aku tidak tahu apa doa yang diucapkannya kemarin. Juga entah kapan yang dimaksudnya kemarin itu karena dia selalu mengatakan kemarin dalam setiap doanya. Aku layaknya pembaca yang menemukan catatan kaki pada sebuah buku dengan tandaibid, sementara catatan kaki sebelumnya hilang karena tersobek. Aku tidak tahu rujukan awalnya. Kenapa aku begitu berhasrat untuk mengetahuinya, itu permasalahan lain pula. Padahal orang itu tak kukenal sama sekali. Apa peduliku dan apa untungku. Tapi begitulah, aku begitu tertarik pada doanya.

Agak lega juga aku bisa memecahkan
persoalan
ini
meski

berdasarkan kemungkinan. Tapi setidaknya itu bisa menjawab sedikit rasa penasaranku.

Malam semakin larut saja. Sebenarnya aku merasangantuk dan lelah, tapi seperti kemarin, aku susah tidur. Aku hanya memandangi langit-langit kamar yang terbuat dari tripleks. Ruangan ini terasa gerah. Bayanganku melayang-layang. Beberapa waktu yang lalu aku adalah mahasiswa. Dan sekarang aku menjadi penjual dan pembeli barang-barang bekas semisal buku, koran, kardus atau apa saja. Ketika hari mulai senja biasanya aku berjualan rokok di terminal atau pasar. Hasilnya aku masih bisa bertahan di kota ini. Pekerjaan yang tak kubayangkan sebelumnya.

Suara lain terdengar dari sebelah kanan kamarku. Aku menggeser perhatianku. Seperti malam kemarin, yang kudengar hanyalah suara lenguhan panjang dari dua suara yang menyatu. Aku cuma menelan air liur. Pikiranku melayang-layang membayangkan apa yang terjadi di kamar sebelah. Hasrat purba dalam tubuhku memuai-muai. Tapi

s e p e r t i

kemarin, aku tak dapat lain selain menatap langit-langit. Begitulah aku menghabiskan malam-malamku di ruangan yang hanya disekat oleh tripleks. Dengan hanya pembatas seperti itu, suara- suara yang ditimbulkan dari kamar sebelah gampang terdengar. Apalagi waktu malam ketika sunyi menjulurkan sayapnya. Dari sebelah kiri kamarku terdengar doa, dari sebelah kananku terdegar lenguhan. Dan di ruanganku sendiri aku mendengar suara nyamuk-nyamuk berputar-putar mencari celah untuk mendarat di tubuhku. Hasrat tidurku menguap. Seperti kemarin. Ya seperti kemarin. Jangan-jangan hidup yang kulakoni adalah hidup yang kemarin. Hanya perhitungan waktu saja yang seolah-olah ada hari ini dan esok\u2026

***

Aku bangun kesiangan karena malam tadi aku tidur larut. Pagi yang sepi. Seperti kemarin. Aku membuka pintu supaya udara segar masuk. Aku melihat perempuan muda sedang menjemur pakaian. Perempuan yang semalam menyatu dalam lenguhan panjang. Suaminya sudah pergi bekerja. Perempuan itu cuma mengenakan handuk. Hanya bagian dada dan paha yang tertutup. Seperti kemarin, Aku memperhatikan tubuh yang membelakangi itu. Membayangkan sesuatu yang dilakoni di kamarnya bersama suaminya. Ketika jemuran tinggal satu lagi, cepat-cepat aku masuk kamar lagi. Selintas aku melirik kamar di sebelah kiriku. Pintu itu terkunci. Penghuninya telah pergi. Aku tidak pernah tahu penghuni kamar sebelah kiriku. Dia selalu pergi ketika aku belum bangun. Dan dia datang ketika aku masih di luar. Aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Yang aku tahu, penghuni itu selalu berdoa seperti kemarin. Jangan- jangan ruangan sebelah kiriku itu sebenarnya tak berpenghuni. Dan suara itu adalah suara yang sebenarnya tidak ada. Aku cepat-cepat mengusir pikiran itu.

Dan seperti kemarin, pagi ini pun aku harus pergi mendorong gerobak mencari barang- barang bekas untuk kemudian kujual. Ketika hari mulai senja aku menjual rokok di tempat yang masih ramai. Lalu seperti kemarin pula aku harus pulang malam, dan ketika tiduran di kamarku, aku akan medengar orang yang berdoa itu. Aku menyimaknya. Ketika malam mendekati larut, suara lenguhan panjang terdengar pula dari kamar sebelah. Berhari- hari, berbulan-bulan dan bahkan mungkin bertahun-tahun dan entah sampai kapan aku harus melakukan sesutu seperti kemarin. Atau mungkin tak pernah selesai. Aku tidak tahu.

Gerobak kudorong dari satugang kegang lain. Dari satu pemukiman ke pemukiman lain dengan harap ada orang yang mau menjual barang bekas. Setelah gerobak terisi separuhnya, aku berhenti di bawah sebuah pohon untuk melepas lelah. Saat itulah aku sempat berpikir, \u201capa mungkin aku juga

bisa beribadah
\u2013 k a l a u
memang
ibadah itu mesti\u2013

dengan menggunakan sistem doa yang disuarakan orang itu?\u201d Aku melakukan ibadah satu kali, dan cukup satu kali saja karena hari berikutnya aku tinggal berkata, \u201cTuhan aku beribadah seperti kemarin.\u201d Aku mengangguk-angguk dan tersenyum. Tapi ada pertanyaan lain yang muncul tiba- tiba saja, apakah makan juga demikian. Aku cukup makan satu kali saja. Dan esoknya cukup berkata, \u201cTuhan, aku makan seperti kemarin.\u201d Maka kenyanglah aku. Atau Aku pergi mendorong gerobak satu kali saja. Dan esoknya aku cukup mengatakan, \u201cTuhan, aku mendorong gerobak seperti kemarin.\u201d Lalu dapatlah duit. Ah, pusing, pusing! Aku bukan pemikir atau agamawan. Aku hanya mantan mahasiswa. Aku melanjutkan kembali mendorong gerobak dari satugang kegang lain. Dari satu pemukiman ke pemukiman lain.

***

Aku masih tetap penasaran. Aku seolah disimpan di tengah-tengah gurun tak tahu mana tepi. Tak tahu mana pangkal mana ujung. Mungkin aku harus menunggu akhir doa itu meski aku tidak tahu apakah doa itu akan ada ujung dan berakhir. Aku berharap dari ujung itu aku bisa tahu awalnya. Seperti dalam sebuah \ufb01lm, aku dihadapkan pada alur

\ufb02ash back. Dan seperti pembaca sebuah buku

yang kehilangan catatan kaki, aku mungkin masih bisa menemukan rujukannya pada daftar pustaka.

Karena itulah aku tidakabsen menguping doa yang diucapkan oleh orang dari kamar sebelah kiriku. Meski aku dapat menduga bahwa bunyinya akan sama seperti kemarin. Tetapi pada suatu sore, aku mendadak ada sedikit urusan dengan bos rokok. Semula aku ingin menyelesaikannya sore itu juga, tapi ternyata tidak selesai. Aku mencari akal supaya aku tetap bisa mendengar doa orang itu. Maka sore itu aku pulang dulu ke kamarku. Aku memasang tape recorder dekat sekat pembatas. Aku merekamnya. Kemudian aku pergi dengan tenang. Kaset itu akan menggantikan tugas telingaku. Nanti malam aku akan memutarnya.

Setelah selesai urusan, aku langsung pulang. Aku tak sabar dengan tape recorder yang kupasang. Sesampai di kamar, yang pertama kulakukan adalah memutartape

recorder itu. Aku menyimaknya. Tidak
seperti kemarin, suara itu sekarang seperti
ini,

\u201cTerima kasih, Tuhan, akhirnya engkau telah mengabulkan doaku. Tidak seperti kemarin, dia, orang di samping kamarku sekarang tidak \u2018menguping\u2019 lagi ketika aku berdoa\u2026\u201d

Semanggi II, 17 September 2007

*Penulis adalah mahasiswa Tafsir
Hadits FUF UIN Jakarta, bergiat di
PIRAMIDA CIRCLE

\u201cYa Tuhan,

aku berdoa seperti doa yang kuucapkan kemarin. Kabulkanlah doaku, Tuhan...\u201d

Akhirnya aku bisa mendengar dengan jelas suara bisik dari kamar sebelah kiriku. Sebelumnya hanyalah gemeremang saja. Seperti desis. Gemeremang yang tak jelas itu menjadi perhatianku sejak aku menjadi penghuni ruangan 3x3 ini beberapa hari yang lalu setelah sewa kontrakanku di tempat lain habis. Entah kenapa aku jadi penasaran. Diam-diam aku selalu menyimak. Bisik-bisik itu biasanya kudengar ketika aku sedang tiduran di atas selembar tikar melepas lelah sehabis kerja. Saat itulah lamat-lamat telingaku mendengar gemeremang suara yang berasal dari kamar sebelah kiriku. Aku memasang telinga berusaha menyimak suara itu. Telingaku aku tempelkan ke tripleks pembatas ruangan. Tapi aku tidak berhasil mendengar dengan jelas. Kemudian sepi. Entah apa yang kemudian dilakukannya. Mungkin tidur. Dan malam inilah suara itu menjadi jelas. Ternyata doa. Suara itu sendiri menyebutnya doa.

Aku tak habis pikir atas doa yang diucapkannya. Belum pernah aku mendengar doa semacam itu. Biasanya doa memakai bahasa Arab yang tak kupahami sama sekali. Mungkin doa tak mesti kita pahami artinya. Ada juga doa yang menggunakan bahasa terjemahan, biasanya berbunyi seperti ini, \u201cYa Tuhan, ampunilah dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, limpahkan rezeki yang halal, panjangkanlah usia kami, selamatkanlah kami di dunia dan akhirat.\u201d Sungguh aku baru mendengar doa yang terdengar dari ruangan sebelah.

Doa itu menjadi bahan pemikiranku. Suaranya masih terngiang di telingaku. Aku mereka-reka kemungkinan tentang doa itu. Orang itu mungkin orang yang senang mengucapkan doa yang panjang-panjang. Segala permohonan dia kemukakan. Doa yang panjang tentunya memerlukan waktu lama. Esoknya dia mengucapkan doa yang kurang lebih sama. Dan esoknya dia juga melakukan hal yang sama. Terus begitu. Tapi pada suatu waktu, dia mengalami kejenuhan juga dengan doa-doa panjang. Mungkin dia dalam keadaan lelah dan

ngantuk berat. Tetapi keinginan untuk

berdoa seperti kemarin tetap ada. Maka keluarlah ucapan seperti ini, \u201cYa Tuhan, aku berdo\u2019a seperti do\u2019a yang aku ucapkan kemarin. Kabulkanlah doaku, Tuhan...\u201d Esok harinya dia melakukan hal yang sama. Dia berdoa dengan hanya menyebutkan \u2018seperti kemarin\u2019 saja. Kemudian berdoa semacam itu menjadi kebiasaan. Tetapi tetap dengan

Oleh : Abdullah (Abah)
Allawi*
Seperti Kemarin Dalam Ibid Sebuah Doa
CERPEN

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
mulyono018 liked this
uliiel liked this
radigunawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->