Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
32Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
DPR, DPD, dan MPR RI masa reformasi dan orde baru

DPR, DPD, dan MPR RI masa reformasi dan orde baru

Ratings: (0)|Views: 4,897|Likes:

More info:

Published by: robie kholilurrahman on Oct 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/15/2013

pdf

text

original

 
Kuis Mata Kuliah Sistem Politik IndonesiaHubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas IndonesiaRobie Kholilurrahman (1006694580)
1.
A.
Deskripsikan bagaimana DPR pada masa reformasi!
DPR pada masa reformasi tampaknya mengalami banyak perubahan peraturan. Aturan-aturan main yang disaat orde baru tidak diatur, mulai diatur pada era pasca orde baru ini. Namun, pengaturan itu sayangnya tidak selalu strategis dan membawa dampak positif.Dengan semangat reformasi, para pemangku kepentingan berusaha memperbaiki DPR dengan caramembuat ketentuan-ketentuan baru. Di antaranya adalah merancang renstra, menambah badan-badan baru di bawah setjen seperti Badan Fungsional Keahlian, Budget Office, serta Pengawas Internal.DPR juga berusaha mengimbangi pendulum
trias politica
yang saat orde baru condong ke araheksekutif (
executive heavy
), hingga Gus Dur mengatakan bahwa DPR seperti anak-anak Taman Kanak-Kanak dan berujung turunnya presiden tersebut. Namun, sejak 2009 kecenderungan
executive heavy
mulai terlihatkembali di saat setiap ada polemik, presiden diharapkan masyarakat turun tangan untuk menyelesaikan.DPR juga secara aktif berusaha meningkatkan kapasitasnya dengan cara meningkatkan fasilitas kerjaseperti gedung baru, penambahan staf ahli, wacana dana aspirasi dan rumah aspirasi, dan lain-lain.Berbenahnya DPR ini tampak kontradiktif dengan kinerja dan kapabilitas yang ditemui, mengingat bahwamayoritas anggota DPR pada Kabinet Indonesia Baru Jilid II adalah orang baru dalam artian mereka baru pertama kali berpengalaman menjadi anggota dewan. Civil society Indonesia yang menguat bersamakenyataan ini menyebabkan banyak terbongkarnya skandal moral dan profesionalitas anggota DPR baik secara individual (cth: Arifinto, YZ, dll), fraksi (cth: mengekor dan bungkamnya beberapa fraksi di belakangfraksi partai penguasa), maupun kolektif (cth: sidang yang ricuh dan sidang yang sepi).Hal ini juga tampak disebabkan proses pemilu di Indonesia pasca orde baru yang walaupun mulaisemakin demokratis, namun masih dalam tatanan procedural dan masih jauh dari substansial. Dalam pencalonan anggota dewan melalui parpol pun terjadi mekanisme yang sangat transaksional di mana padaumumnya individu yang ingin dicalonkan dimestikan untuk menyetor modal kampanye dlam jumlah yangsangat besar kepada parpolnya dan setelah terpilih masih diwajibkan menyetor iuran rutin ke parpol. Selainitu, mekanisme kampanye pemilu yang belum rapi menyebabkan seseorang cenderung dipilih karena aspek  popularitas sesaat berdasar masifnya iklan. Hal ini terlihat dalam pemilu 2009, misalnya.Intinya, DPR pada era reformasi (jika era ini bisa dinamakan sedemikian rupa, dan saya sebenarnyalebih memilih untuk menamakan era ini masih sebagai pasca orde baru) berusaha menerapkan nilai-nilaireformasi, namun kebanyakan dari program turunannya masih sekadar institusional dan belum substansialsehingga menjadi tampak 
chaos
dan tingkat kepercayaan rakyat kepada lembaga negara ini pun menjadisangat minim berdasar beberapa survey. Selain itu, DPR juga berusaha mengembalikan keseimbangan
trias politica
yang di masa orde baru cenderung
executive heavy
dengan lebih memainkan fungsi-fungsinya secaralebih tegas.B.
Deskripsikan bagaimana DPD pada masa reformasi!
DPD adalah lembaga negara produk reformasi. Diharapkan, dengan adanya lembaga ini, suara-suara daridaerah bisa sampai ke pusat secara berimbang, mengafirmasi kebijakan desentralisasi yang juga baruditerapkan pasca orde baru. Anggotanya dipilih berdasar kuota daerah, bukan parpol, untuk merepresentasikan
1
 
kepentingan daerahnya masing-masing. Namun sayangnya, tampaknya konstitusi yang menjaga keberadaanDPD masih setengah-setengah sehingga belum memiliki ’tools’ untuk menjadi sepowerful DPR.Juga terjadi kericuhan birokrasi, bahwa DPD sebagai legislatifkah ataukah Kemendagri sebagaieksekutifkah yang mewenangi desentralisasi, sehingga permasalahan-permasalahan yang disebabkan otonomidaerah menjadi tambal sulam penanganannya karena ketiadaan skema koordinasi yang jelas antara dualembaga negara ini bersama pemerintah setempat.Intinya, keberadaan DPD pasca orde baru merupakan sebuah langkah positif untuk menghentikansecara bertahap sentralisasi kuat yang diterapkan orde baru, yang menyebabkan ketimpangan sosial ekonomiyang sangat jauh. Namun, hingga reformasi berumur belasan tahun saat ini, DPD belum berhasil menjadi penyambung lidah daerah yang baik ke pusat, di antaranya tampak disebabkan oleh lemahnya UU yangmengatur dan mindset sentralistik dan elitis yang masih kuat tertanam dalam pola pikir generasi yang kinimenjabat sebagai anggota dewan.C.
Deskripsikan bagaimana MPR pada masa reformasi!
MPR mendapatkan kembali kekuatannya sebagai penyeimbang eksekutif pada awal masa reformasi. Denganmelemahnya pengaruh dan kekuasaan eksekutif karena tumbangnya rezim orde baru dan semangat reformasi,MPR bisa menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik sebagai lembaga tertinggi negara dan representasirakyat Indonesia. MPR menunjukkan kekuasaan SI (Sidang Istimewa) untuk meng-
impeach
kepala negarasebagai mandataris MPR jika dianggap gagal menjalankan tugasnya dengan cara menolak pidato pembelaan.Hal ini dilakukan dua kali; kepada Habibie dan Gus Dur.MPR pada masa reformasi di bawah kepemimpinan Amien Rais juga melakukan empat kaliamandeman UUD sebagai salahsatu tupoksinya, yang pada masa Orde Baru dihalangi oleh tappres tahun 1983tentang referendum. Dengan menghapuskan tap tersebut, UUD tidak lagi dianggap sebagai kitab suci yangtidak boleh diganggu gugat. Selain itu, MPR juga mengamandemen pasal 2 ayat 1 UUD dengan melepaskandiri dari status lembaga tertinggi negara dan representasi tunggal rakyat Indonesia. Sehingga, presiden danwakil presiden tidak lagi hanya dipilih oleh anggota MPR melainkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Namun,setelah itu MPR seperti kembali kehilangan kekuatannya. Tidak ada lagi amandeman UUD dan tidak pernahlagi terlihat mengkritisi pemerintah eksekutif.Intinya, MPR pada masa reformasi mengalami turbulensi. Mulai dari usaha untuk mengimbangi
executive heavy
orde baru, bisa dilihat dengan dua kali menurunkan presiden dan empat kali amandemenUUD. Namun setelah itu tanpa sebab yang disengaja MPR kembali melemah dan
executive heavy
kembalitampak pada paruh kedua KIB (Kabinet Indonesia Bersatu) jilid II. Fenomena ini tampaknya disebabkan oleh buruknya mekanisme pemilu dalam hal ini rekrutmen anggota DPR yang notabene juga anggota MPR pada pemilu 2009 sehingga MPR menjadi kurang terlihat keaktifannya dalam menjalankan tugas-tugaskelembagaan, sekaligus tampak adanya upaya untuk membatasi wewenang MPR menjadi hanya proseduralseperti melantik presiden dan wakil presiden dan memberhentikannya dengan catatan sesuai UU.
2.
 
Apa perbedaannya dengan di masa Orde Baru?
2

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->