Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
69Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Resume Kimia Dasar I

Resume Kimia Dasar I

Ratings: (0)|Views: 3,413 |Likes:
Published by MUHAMMAD RAMLI

More info:

Published by: MUHAMMAD RAMLI on Oct 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

 
1 Beberapa Konsep Dasar Mengenai Kimia1.1 PENDAHULUAN
Kita memulai studi mengenai kimia fisik dengan penyataan singkat mengenai beberapa ide dasar dan penggunaan umumnya di bidang kimia. Hal ini merupakan hal yang familiar, tetapi akansangat berharga untuk mengingatnya kembali.
1.2 JENIS BENDA
Dari beragam berbeda yang ada secara umum kita dapat membaginya menjadi dua: (1) zat dan(2) campuran zat.Pada keadaan eksperimental tertentu
 zat 
menunjukkan suatu sifat fisik dan kimia tertentu dantidak dipengaruhi oleh metode preparasi dari zat.Sebaliknya campuran sangat bervariasi pada komposisi kimianya.
1.3 JENIS ZAT
Terdapat dua jenis zat: unsur dan senyawa. Unsur tidak dapat dipecah lagi menjadi zat yang lebihsederhana dengan metode kimai yang biasa, akan tetapi senyawa dapat.Metode kimai yang biasamerupakan metode yang melibtakan energi tidak lebih dari 1000 kJ/mol.
1.4 MASSA ATOMIK DAN MASSA MOLAR 
Setiap atom atau nuklida dapat digambrakan dengan dua angka yang spesifik,
 Z 
dan
 A
, dimana
 Z 
merupakan nomor atom, dan jumlah proton pada inti, dan
 A
nomor massa yang sama dengan
 Z + N 
, dimana
 N 
merupakan jumlah proton pada inti. Atom dari unsur yang berbeda dibedakandengan nilai
 Z 
yang berbeda. Atom dari satu unsur memiliki nilai
 Z 
yang sama tetapi dapatmemiliki nilai
 A
yang berbeda dan disebut
isotop
dari unsur.
1.5 SIMBOL; RUMUS
Rumus dari senyawa dapat diinterpretasikan dengan banyak cara, tetapi biasanya merupakankomposisi relatif dari senyawa. Pada zat seperti quartz dan garam, tidak terdapat molekul diskrit.Sehingga rumus untuk SiO
2
dan NACl hanya diberikan dalam bentuk empiris; rumus ini hnayamenggambrakan jumlah relatif dari atom unsur yang terdapat dalam molekul dan tidak lebih dariitu.
1.6 MOL
Satuan SI untuk jumlah zat adalah
mol 
. Mol didefinisikan sebagai jumlah zat pada 0,012 kgkarbon-12. Satu mol dari sebarang zat mengandung jumlah unsur yang entitasnya tepat dengan0,012 kg karbon-12. Angka ini merupakan konstanta Avogadro,
 N 
A
= 6,022045 x 10
23
mol
-1
.
2 Sifat-sifat Empiris dari Gas2.1 Hukum Boyle; Hukum Charles
Dari ketiga keadaan agregasi, hanya keadaan gas yang memberikan sifat –sifat dengan gambaranyang sederhana. Untuk saat ini kita akan membatasi gambaran ini terhadap hubungannya dengan bebrapa sifat seperti massa, tekanan, volume dan tekanan. Kita harus mengasumsikan bahwasistem berada dalam kesetimbangan sehingga nilai dari sifat-sifat tersebut tidak berubah seiringdengan waktu, selama batasan eksternal dari sistem tidak berubah.
 Persamaan keadaan
dari sistem merupakan hubungan matematis antara nilai-nilai dari keempatsifat diatas. Hanya diperlukan tiga nilai untuk menetapkan keadaan yang ada; nilai kempat dapatdihitung dari persamaan keadaan, yang diperoleh adri pengetahuan yang didapat dari perilakueksperimental dari sistem.Pengukuran kuantitatif yang pertama perilaku tekanan-volume dari gas dilakukan olehRobert Boyle pada tahun 1662. data yang diperolehnya menunjukkan bahwa volume berhubungan terbalik dengan tekanan;
V =C/p
, dimana
 p
adalah tekanan,
volume, dan
merupakan konstanta. Gambar 2.1 menunjukan
sebagai fungsi dari
 p
. Hukum Boyle dapatditulis dalam bentuk 
 p
=
(2.1) persamaan ini hanya berlaku untuk gas dengan massa tetap pada temperatur konstan.
liye.abot@yahoo.com
1
 
Eksperimen selanjutnya oleh Charles menunjukan bahwa konstanta C merupakan fungsidari temperatur. Hal ini merupakan bentuk kasar dari hukum Charles.Gay Lussac melakukan pengukuran volume gas dengan massa tetap dan menemukan bahwa volume merupakan suatu fungsi yang linier dengan temperatur. Hal ini diungkapkandengan persamaan
bt a
+=
(2.2)dimana
merupakan temperatur dan
a
serta
b
merupakan tetapan. Plot volume sebagai fungsidari temperatur ditunjukkan pada Gambar 2.2. Intersep pada sumbu vertikal adalah
a =
0
,volume pada 0
O
C. Slope dari kurva merupakan turunan dari
 
(
 p
b
=
sehingga persamaan2.2 dapat ditulis dalam bentuk 
 p
     +=
0
(2.3)Eksperimen yang dilakukan Charles menunjukan bahwa untuk suatu gas dengan massatetap di bawah tekanan tetap, peningkatan
relatif 
pada volume per derajat peningkatantemperatur 
 sama untuk semua gas
yang dia ukur. Pada tekanan tetap peningkatan volume per derajat adalah peningkatan volume per derajat adalah (∂
V/∂t 
)
 p
; sehingga peningkatan relatif volume perderajat pada 0
o
C adalah (1/
o
)(∂
V/∂t 
)
 p
. Kuantitas ini merupakan
koefisien ekspansitermal 
pada 0
o
C, dimana kita gunakan simbol α
0
:
.1
00
 p
     =
α 
(2.4)Kemudian persamaan (2.3) dapat dituliskan dalam bentuk α
0
;
,1)1(
00000
      +=+=
α α α 
(2.5)yang telah memadai, karena persamaan ini menunjukkan volume gas dalam bentuk volumenya pada nol derajat dan suatu konstanta α
0
, yang sama untuk semua gas, sehingga hampir tidak dipengaruhi oleh tekanan pada saat dilakukan pengukuran. Jika kita mengukur α
0
pada tekananyang berlainan kita akan mendapatkan untuk semua gas α
0
mendekati nilai pembatas yang sama pada
 p =
0. Bentuk dari pers. (2.5) menunjukkan koordinat perubahan yang akan sangat berguna.; yang dinamakan sebagai
, suatu ukuran temperatur baru, yanag didapatkan daritemperatur sebelumnya melalui persamaan
.1
0
+=
α 
(2.6)Persamaan (2.6) mendefinisikan sebuah skala temperatur yang baru, yang disebut temperatur dengan
 skala gas
, atau lebih tepatnya temperatur dengan skala gas ideal. Hal penting dari skalaini adalah fakta bahwa nilai pembatas α
0
dan juga 1/ α
0
memiliki nilai yang sama untuk semuagas. Sebaliknya, α
0
bergantung pada skala temperatur yang dipergunakan untuk 
. Jika
dalamderajat Celsius (
o
C), maka 1/ α
0
=273,15
o
C. Skala
yang dihasilkan secra numerik identik dengan skala temperatur termodinamik, yang akan kita bahas secara mendetail pada bab 8.Satuan SI untuk temperatur termodinamik adalah kelvin (K). Temperatur pada skalatermodinamik seringkali disebut sebagai temperatur absolut atau temperatur kelvin. Menurut pers. (2.6)
+==
15,273
.(2.7)Persamaan (2.5) dan (2.6) digabungkan untuk menghasilkan
,
00
α 
=
(2.8)yang menyatakan volume dari gas pada tekanan tetap sebanding dengan temperatutermodinamik.
2.2 MASSA MOLAR GAS. HUKUM AVOGADRO; HUKUM GAS IDEAL
Pers. (2.1) dan (2.8) dapat digabungkan menjadi
 pTCV
00
α=
(massa tetap)(2.9)Karena
0
=
 Bw
, dimana
 B
adalah konstanta dan
w
adalah massa dari gas,. Denganmempergunaka hasil ini untuk pers (2.9) kita mendapatkan
, pwTBV
0
α=
(2.10)
liye.abot@yahoo.com
2
 
yang merupakan hubungan umum antara empat variabel
,
w, T,
dan
p
. Masing-masing gasmemiliki nilai yang berbeda untuk konstanta
 B
.Untuk gas pada keadaan standar massa gas ,
dinyatakan sebagai
.TV pB1M
0000
            α=
(2.11)Karena keadaan standar sulit untuk dicapai, rasio
 R = p
0
0
/T 
0
memiliki nilai yang tetap dansama untuk semua gas dan disebut
konstanta gas
. Pers. (2.11) dapat ditulis dalam bentuk 
0
α 
 B R
=
atau
0
α 
 R B
=
.Mempergunakan nilai
 B
ini kta mendapatkan
. pRTMwV
     =
(2.12)Anggaplah jumlah massa karakteristik dari gas yang terdapat dalam massa
w
adalah
n = w/M 
.Maka
V = nRT/p
, atau
nR p
=
(2.13)Pers. (2.13) merupakan
hukum gas ideal 
, yang sangat penting untuk studi semua gas. Hukum initidak mengandung suatu bentuk khusus untuk suatu gas, akan tetapi dapat dipergunakan untuk semua gas.
2.3 PERSAMAAN KEADAAN; SIFAT EKSTENSIF DAN INTENSIF
Hukum gas ideal,
 pV = nRT 
, merupakan hubungan antara empat variabel yang menggambarkankeadaan gas. Sehingga persamaan ini disebut
 persamaan keadaan
. Variabel dari persamaan inidibagi menjadi dua golongan:
n
dan
merupakan variabel ekstensif (sifat ekstensif), sedangkan
 p
dan
meruapakan variabel intensif (sifat intensif). Nilai dari sifat ekstensif didapat dengan menjumlahkan nilai yang terukur dari keseluruhansistem. Sedangkan sifat internsif meiliki nilai yang sama dimanapun di dalam sistem. Rasio daridua variabel ekstensif 
 selalu
merupakan variabel intensif. Dengan membagi
dengan
n
kitamendapatkan volume molar 
V  
:
.
 p Rn
==
(2.15)Jika hukum gas ideal ditulis dalam bentuk 
,
 RV   p
=
(2.16)yang merupakan hubungan dari tiga
variabel intensif 
:
 
tekanan, temperatur, dan volume molar.Hal ini sangat penting karena sekarang kita tidak perlu lagi risau apakah kita sedang berurusandengan 20 g atau 20 ton bahan yang sedang dipelajari.
2.4 SIFAT GAS IDEAL
Jika nilai tertentu diberikan pada kedua variabel
 p,
V  
 ,
dan
, nilai dari ketiga variabel dapatditentukan dari hukum gas ideal. Sehingga, dua buah variabel adalah variabel
independen
;variabel yang tersisa adalah variabel
dependen
.Isoterm dari gas ideal berbentuk hiperbola persegi (Gbr 2.4) ditentukan oleh hubungan
.
 R p
=
(2.17)Untuk setiap kurva
memiliki nilai konstan yang berbeda.Pada gambar 2.5 semua titik berhubungan dengan koordinat
V  
dan
dan dihubungkan padatekanan yang sama, dan dinamakan
isobar 
. Isobar dari gas ideal digambarkan oleh persamaan
,
 p R
     =
(2.18)dimana tekanan berada pada beragam tekanan konstan.Gambar 2.6 menunjukan hubungan antara
 p
dan
, garisnya merupakan garis volume molar konstan,
isometrik 
, dan digambarkan dengan persamaan
,
 R p
     =
(2.19)Jika kita mengintai dengan seksama Gbr 2.4, 2.5, dan 2.6 dan pers. (2.17), (2.28), dan (2.19)mengarah pada suatu kesimpulan yang aneh mengenai gas ideal. Sebagai contoh, Gbr 2.5 dan
liye.abot@yahoo.com
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->