KUMPULAN artikel Majalah Human CapitalMenjadi CEO Partner, Jangan Cuma BBM (Baru Bisa Mimpi)
Oleh: Paulus Bambang WSBanyak buku yang menyebut SDM seharusnya menjadi
strategic partner
atau
business partner
. Jargon ini lantas menjadi mantera SDM dalam seminar supayadianggap penting oleh SDM lain. Mereka sudah merasa ‘berbeda’ karena sudahberalih ke ‘next level’ menjadi ‘memiliki pekerjaan yang dianggap strategis’. Entaholeh siapa dan definisi siapa yang mengatakan pekerjaan tertentu adalah strategisdan yang lain administratif.Membenturkan aspek administratif dan strategis sering dilakukan sehingga keduanyaseperti paradoks yang dikotomis. Orang SDM yang sangat ahli dalam aspekpenggajian misalnya, sering dikatakan sebagai administratif. Sebaliknya orang SDMyang bisa menerangkan strategi perusahaan dianggap sudah menjadi mitrastrategis. Kadang kulit dan persepsi dibangun untuk menutupi substansi yangsebenarnya. Itu sebabnya banyak orang SDM yang kelihatan "lelah" dan "burn out"bukan karena adanya "tekanan" tugas tapi karena "tekanan" persepsi dari temanseprofesi. Belum lagi ditambah dengan gempuran rekan sejawat yang menganggapSDM berjalan di atas air.Bagi saya, SDM sudah menjalankan fungsinya kalau sudah menjadi
CEO partner
,bukan hanya sebagai
strategic
atau
business partner
yang berkonotasi jenis aktivitasatau pekerjaan. Sebagai
CEO partner
, SDM berjalan seiring dengan CEO. Sepertiseorang istri terhadap suaminya. Menjadi penolong yang setia. Dalam bahasamodern, SDM seharusnya menjadi ‘CEO ad interim’ bila CEO berhalangan. Ini adalahtitik ideal bagi perusahaan menghadapi tatangan 10 tahun ke depan.Sekali lagi saya tegaskan, menghadapi tantangan perubahan pengelolaan manusia(
human being
, bukan sekedar
human resources
atau
human capital
), petinggi SDMmenjadi pemegang kunci sentral dalam mengelola bisnis di lanskap baru sepuluhtahun mendatang. (Lebih jauh tentang masalah ini akan saya jelasan pada edisidepan). Kalau SDM mampu menjadi ‘CEO partner’, maka keduanya merupakankombinasi yang saling membutuhkan dengan kompetensi yang sepadan denganperan yang berbeda. Seperti Batman dan Robin atau The Incredible dan Elactic Girl.
The perfect couple
yang saling mengisi.Apa tandanya bila SDM menjadi CEO Partner? Pertama, ia merupakan bagian dari‘inner circle’ yang merumuskan misi, visi, sasaran perusahaan jangka panjang.Menjadi bagian berarti terlibat aktif dalam perumusan dan penyusunan setiapelemen. Bukan hanya berkontribusi pada fungsi SDM saja. Lebih ideal lagi kalau SDMadalah fasilitator dalam ‘strategic planning cycle’ perusahaan. Sebagai fasilitator,SDM adalah fungsi yang paling netral dan mampu melihat segala sesuatu dalamkeseimbangan. Karyawan dan pemangku kepentingan lain. Jangka panjang danpendek. Kebutuhan materi, emosi dan spiritual dari seluruh pemagku kepentingan.