Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Daulah Islamiyah yang pertama

Daulah Islamiyah yang pertama

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 780 |Likes:
Published by api-3785166

More info:

Published by: api-3785166 on Oct 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Stockholm, 21 juli 1998.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEMBENTUK NEGARA ISLAM INDONESIA DENGAN SISTIM KHILAFAH
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.

Saudara-saudaraku di tanah air.

Beberapa tanggapan terhadap tulisan "Negara Islam Indonesia berdiri tergantung
kepada tindakan, sikap dan usaha kaum muslimin Indonesia" telah sampai kepada
saya. Dalam tulisan yang singkat ini, dibuat untuk menjawab kepada orang-orang
yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia berdiri adalah hanya sesuatu
yang idealis, tidak setuju dengan adanya Negara Islam, menggunakan dasar Islam
adalah bid'ah, Negara Islam tidak ada dalam Al-Qur'an, ummat Islam masih
berperang satu sama lain, masih tertinggal dalam segala bidang, masih berjalan
pada rel-nya masing-masing, ummat Islam di Indonesia masih berkotak-kotak,
apabila Negara Islam Indonesia berdiri, maka beberapa daerah akan memisahkan
diri dan membentuk federasi.

Pemikiran-pemikiran diatas adalah wajar timbul, dikarenakan telah hilangnya
sistem khilafah yang menjadi dasar diproklamirkan Daulah Islamiyah pertama di
dunia pada tanggal 12 rabi'ul awwal 1H (24 september 622 M) di ibu kota Madinah.
Memang benar negara Islam tidak tercantum dalam Al Qur'an,tetapi Khilafah yang
sudah dipergunakan semenjak berdirinya Daulah Islamiyah pertama tercantum
dalam Al Qur'an. "...Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
dimuka bumi..." (Al Baqarah, 30). "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang
yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah dibumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan sungguh Dia
akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap
menyembahKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barang siapa yang kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik"
(An Nuur, 55).

"Khilafah adalah memusatkan pikiran kepada soal pimpinan kenegaraan, yang
langsung mengenai persoalan politik. Khilafah mengingatkan kepada bentuk
Negara Islam. Negara Islam yang dipimpin oleh seorang Kepala Negara yang
berjabatan khalifah". "Khilafah adalah suatu sistim pemerintahan menurut ajaran
agama Islam. Khilafah dapat diperjuangkan dan didirikan oleh kaum Muslimin
untuk daerah dan tanah air mereka masing-masing, dan dapat pula dibangunkan
untuk seluruh kaum Muslimin didunia" Pernyataan ini diungkapkan oleh salah

seorang tokoh besar Masyumi Almarhum Haji Zainal Abidin Ahmad dalam
bukunya Membentuk Negara Islam, 1955.

"Khilafah bukanlah monarkhi dan bukan pula sultan. Khilafah ialah pimpinan
umum kenegaraan untuk rakyat buat membawa mereka kepada agama yang suci,
menekan golongan yang kuat jangan sampai berbuat sewenang-wenang terhadap
golongan yang lemah didalam tugas kewajibannya dalam negara, sedang terhadap
keluar dia melindungi agama Islam dan menolak serangan dari luar, dan dia
tidaklah dapat berdiri melainkan dengan kemauan rakyat". Inilah kesimpulan
mengenai khilafah yang ditulis oleh Amir Sjakib Arselan dalam bukunya Hadhirul
'Alamil Islami.

Diatas dijelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang khilafah agar supaya kaum
Muslimin tidak bertanya-tanya, sebelum membicarakan segala isinya yang
diperlukan untuk membentuk Negara Islam Indonesia.

Dasar-dasar pokok yang asasi untuk membentuk Negara Islam "Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai
orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan Ulil Amri
diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama dan lebih baik akibatnya" (An Nisaa, 58-59). Disini dapat disimpulkan
empat dasar yang asasi untuk membentuk Negara islam, pertama amanah, kedua
keadilan, ketiga Ketuhanan dan keempat kedaulatan rakyat (ulil amri). Sedangkan
sifat-sifat Negara Islam adalah, negara berdaulat, negara agama, negara hukum,
negara konstitusi, negara musyawarah, negara parlementer, negara republik dan
negara perdamaian.

Daulah Islamiyah yang pertama, setelah Rasulullah saw wafat, adalah daulah
Islamiyah yang memiliki empat dasar tersebut diatas dan telah diteruskan dan
dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin ( Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin
Khattab, Khalifat Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib). Dibawah
Khulafaur Rasyidin inilah (11 H-40 H, 632 M-661 M) betul-betul sistem khilafah
diterapkan dalam Daulah Islamiyah. Cara pengangkatan khalifah dilaksanakan
secara langsung melalui wakil-wakil rakyat yang disebut dengan ulil amri. Khalifah
Abu Bakar diangkat dan dipilih langsung oleh ulil amri. Khalifah Umar bin
Khattab dipilih setelah dicalonkan oleh Khalifah Abu Bakar dan disetujui oleh para
ulil amri. Khalifah Usman bin Affan dipilih bersama lima orang calon lainnya
termasuk Ali bin Abi Thalib. Khalifah Ali bin Abi Thalib dipilih oleh ulil amri,
setelah Khalifah Usman bin Affan dibunuh. Dengan cara pemilihan dan
pengangkatan khalifah melalui ulil amri inilah, maka boleh kita pakai istilah
modern "Republik Parlementer". Jadi Daulah Islamiyah (Negara Islam) dimasa

Khulafaur Rasyidin adalah berbentuk "Republik Parlementer" yang bersistim
khilafah.

Hancur dan hilangnya sistem khilafah dalam Daulah Islamiyah setelah berakhirnya
masa Khulafaur Rasyidin dan munculnya Dinasti Umayah (40 H-132 H, 661 M-750
M) yang disebut dengan monarkhi "parlementer",Dinasti Abbassiyah ke I (132 H-
218 H, 750 M-833M) yang disebut dengan monarkhi "konstitusionil", Dinasti
Abbassiyah ke II (218 H-247 H, 833 M-816 M) yang disebut dengan monarkhi yang
absolut, Dinasti Abbassiyah ke III (247 H- 322 H, 816 M-934 M) yang disebut
dengan zaman anarkhi, Zaman diktator (Amirul umara) (324 H-334 H, 934 M-945
M) , Dinasti Sultan Bani Buyah ( 334 H-467 H, 945 M-1075 M), Dinasti Fathimiyah
( 297 H-567 H, 909 M-1171 M) yang disebut dengan pemerintahan theokrasi,
Dinasti Umaiyah di Andalus ( 300 H-422 H, 912 M-1031 M) yang berusaha
mengembalikan sistim khilafah dan dinasti Usmaniyah di Turki (699 H-
1341H,1385M-1923M) yang disebut dengan autokrasi sultan yang diktator.

Setelah berdirinya dinasti Umayah dengan ibu kotanya Damaskus di Syria,
pengangkatan khalifah bukan secara langsung lewat ulil amri, melainkan langsung
diangkat dan dipilih berdasarkan keturunan. Begitu juga di masa dinasti
Abbassiyah yang berkedudukan di ibu kota Bagdad di Irak dan di masa dinasti
Fathimiyah di Magribi (Maroko sekarang) sampai dinasti Usmaniyah di Turki.
Daulah Islamiyah yang memakai sistim khilafah yang telah dijalankan oleh
Khulafaur Rasyidin hilang dan hancur ketika Dinasti-dinasti tersebut muncul.
Hanya ketika dinasti Umaiyah ( negara otonom) yang berkedudukan di Andalus
pada tahun 300 H - 422 H,
912 M - 1031 M berusaha mengembalikan sistim khilafah dengan menggalakkan
kembali fungsi ulil amri sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi dan
dilaksanakan oleh Khulafaur Rasyidin.

Kalau kita mempelajari apa yang telah di laksanakan oleh Khulafaur Rasyidin
dengan Daulah Islamiyah-nya yang mempunyai sistim khilafah, maka tidak benar
kalau ada yang mengatakan bahwa Negara yang mempunyai asas Islam adalah
bid'ah. Dan tidak benar kalau ada orang yang mengatakan bahwa membentuk
Negara Islam Indonesia adalah sesuatu hal yang idealis. Dan tidaklah menjadi
suatu alasan dengan adanya pertentangan diantara kelompok muslim, organisasi
muslim dan negara yang mempunyai mayoritas penduduknya muslim untuk tidak
berusaha kembali membentuk Negara Islam yang bersistim khilafah di bumi ini.

Marilah kita bersama-sama untuk memikirkan, melaksanakan dan membentuk Daulah Islamiyah yang bersistim khilafah dimanapun kita berada, terutama kita kaum Muslimin Indonesia membangun Negara Islam Indonesia dengan sistim khilafah*.*

Wassalam.
Ahmad Sudirman

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nur Isti Hasanah liked this
kusubandio liked this
fitri_ukm liked this
Afif Hamka liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->