Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
NELAYAN DALAM BAYANG JURAGAN

NELAYAN DALAM BAYANG JURAGAN

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 1,026 |Likes:
Published by api-26397366
Gratis dari Wilson Therik
Gratis dari Wilson Therik

More info:

Published by: api-26397366 on Oct 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

 
1
NELAYAN DALAM BAYANG JURAGAN
 
POTRET KEHIDUPAN NELAYAN TRADISIONAL BAJODI TANJUNG PASIR, PULAU ROTE, NUSA TENGGARA TIMUR
1
 
Wilson M.A. Therik
Peserta Program Doktor Studi PembangunanProgram PascasarjanaUniversitas Kristen Satya Wacana – Salatiga
Tulisan ini lebih banyak berbicara tentang kehidupan nelayan tradisional Bajo (kelompok nelayan migran asal Sulawesi Selatan) di perkampungan Tanjung Pasir, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Melalui tulisan ini penulis mencoba untuk membuka wacana studi pembangunan (development studies) di Indonesia dengan menampilkan hasil penelitian berupa aktivitas sosial ekonomi nelayan tradisional Bajo di Tanjung Pasir, Pulau Rote.
Pertama 
, hasil penelitian ini menunjukkan adanya perkembangan dalam kerangka analisis yang digunakan (dengan pendekatan antropologi ekonomi). Di sini penulis berupaya untuk melakukan terobosan baru dalam perspektif dan analisis, yang membuka kemungkinan dilakukannya penelitian-penelitian lanjutan di masa yang akan datang.
Kedua 
, penulis berupaya untuk menghimpun data dengan rinci dan sedetail mungkin, sehingga memungkinkan dilakukannya interpretasi kembali atas data dengan menggunakan paradigma yang berbeda di masa yang akan datang.
Ketiga 
, penelitian ini belum terlalu lama dilakukan (April 2006, Juli- Agustus 2006 dan September-Oktober 2006), sehingga data yang ditampilkan boleh dikatakan masih “hangat”. Namun, dalam konteks penelitian ilmu sosial di Indonesia, penulis menyadari bahwa di mana orang masih sangat sering mempersoalkan kekinian data, karena itu data yang ditampilkan dalam tulisan ini adalah data terandalkan dari sisi metodologi penelitian.
Keempat 
, relevansi praktis hasil-hasil kajian empiris dan model analisis abstraksi teoretis dari temuan penelitian di Tanjung Pasir dalam tulisan ini setidaknya dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan-  persoalan ekonomi dalam masyarakat kita terutama masyarakat nelayan tradisional di Indonesia.
PENDAHULUAN
 Pada akhir 1980-an, terdapat gelombang kedatangan warga suku Bajo yangmerupakan Sub Etnis Suku Bugis dari pesisir Pulau Wanci. Awalnya para pendatang inihanya tinggal untuk sementara waktu dan umumnya kembali lagi ke Pulau Wanci pada
1
Makalah ini telah dipresentasikan pada Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Mahasiswa Program PascasarjanaUKSW pada tanggal 8 Februari 2007 dan Diskusi Bulanan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi KawasanTimur Indonesia (PSKTI) UKSW pada tanggal 20 Februari 2007.
 
2akhir musim melaut. Kedatangan mereka telah membawa perubahan besar di TanjungPasir-Papela mulai dari pengumpulan produk-produk kelautan seperti lola
(trochus)
danteripang hingga penangkapan hiu secara intensif di Pulau Pasir (Fox, 2002).Setelah bertahun-tahun, banyak warga Bajo ini yang kemudian membangunrumah dan menetap secara permanen di Papela di daerah dekat pantai. Akhirnya, wilayahdari Papela ini, yang dikenal sebagai Tanjung Pasir, secara resmi “dirancang” sebagaibagian yang terpisah dari Dusun Papela. Motif migrasi nelayan Bajo di Tanjung Pasir,Pulau Rote dapat digolongkan atas tiga alasan, yaitu: 1) Adanya keinginan untuk memperbaiki nasib ke arah yang lebih baik; 2) Mengikuti orang tua yang datang keTanjung Pasir untuk menjadi nelayan dan 3) Dilahirkan di Tanjung Pasir oleh orang tuayang datang untuk menjadi nelayan.Pendataan melalui pengamatan langsung yang dilakukan oleh penulis di seluruhkawasan Tanjung Pasir pada Agustus 2006 terdapat 96 rumah Bajo yang ditempati 102Kepala Keluarga (403 Jiwa, yaitu 225 Laki-laki dan 178 Perempuan). 17 rumahmenggunakan jasa PLN, 55 rumah mengandalkan generator dan 24 rumah menggunakanlampu pelita, seluruh rumah di kawasan Tanjung Pasir berarsitektur rumah Bajo (rumahbergaya panggung) yang dibangun di atas pasir laut. Ada 103 tape/radio, 42 televisi danantena parabola, 3 unit sepeda motor dan 5 sepeda dayung. Jumlah perahu (body)sebanyak 437 buah terdiri dari body batang 350 buah, body jolor 75 buah dan perahulayar 12 buah. Jenis usaha yang ada di kawasan Tanjung Pasir yakni 1 toko, 5 kios dan 1kios isi ulang pulsa Telkomsel. Jumlah nelayan di Tanjung Pasir sebanyak 172 orang diantaranya 165 orang bekerja sebagai nelayan buruh dan 7 KK dari 102 KK merupakannelayan juragan. Data Statistik Kecamatan Rote Timur Tahun 2005 melaporkan bahwamayoritas warga Dusun Papela khususnya yang berdomisili di perkampungan TanjungPasir tidak tamat Sekolah Dasar (SD) dan kebanyakan diantaranya adalah buta huruf.Hanya 12% dari total penduduk di Tanjung Pasir yang tamat SD. Seluruh warga TanjungPasir beragama Islam.Untuk ke perkampungan Tanjung Pasir bisa melalui dua jalur yakni jalur daratdan jalur laut. Jalur darat melalui Dusun Papela, kendaraan bermotor berhenti di DusunPapela karena kawasan Tanjung Pasir yang berpasir dan tidak mungkin dilalui kendaraanbermotor, selanjutnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki + 80 m ke Tanjung
 
3Pasir. Jalur laut dengan menggunakan perahu, biasanya yang melewati jalur laut iniadalah nelayan Rote dari Desa Daiama, salah satu desa nelayan di Kecamatan RoteTimur. Mayoritas penduduk Desa Daiama adalah nelayan rumput laut dan petani bawangyang sering mengantar hasil produksi kebun mereka untuk dijual di Tanjung Pasir danPapela.Secara administratif Tanjung Pasir berada dalam wilayah pemerintahan DusunPapela, Kelurahan Londalusi, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao. TanjungPasir jelas berbeda dengan daerah lain di Papela dan Pulau Rote mengingat fakta bahwarumah-rumah di sana merupakan rumah panggung dan dibangun dari pelepah daunkelapa dengan tiang-tiang kayu yang sederhana; sementara rumah-rumah lain di Papeladibangun di tanah dan dengan bahan yang lebih tahan lama. Minimnya air juga sangatterasa di Tanjung Pasir. Kondisi ini yang membuat penulis tertarik untuk melakukaneksplorasi secara mendalam sejak bulan April 2006, Juli-Agustus 2006, Oktober-November 2006.
POTRET KEHIDUPAN NELAYAN TRADISIONAL BAJO DI TANJUNG PASIR
 
Pola Tempat Diam dan Rumah
 
Dari sisi penataan ruang rumah, sesungguhnya sudah ada pembagian ruang rumahyang baku sesuai dengan adat istiadat orang Bajo, namun dalam praktek terdapatbeberapa variasi. Variasi ini terjadi terutama karena jumlah kepala keluarga yang terdapatdalam sebuah rumah. Sebuah rumah yang didiami satu kepala keluarga memilikikonsekuensi ruang yang berbeda dengan rumah yang didiami dua keluarga atau lebih.Pada umumnya pembagian ruang rumah Bajo terdiri dari 1 ruang tamu, 1 ruang tidur dan1 kamar mandi/tempat mencuci sedangkan halaman bawah (kolong) dari rumahpanggung biasanya dimanfaatkan untuk beberapa aktivitas seperti memasak,memperbaiki peralatan tangkap, tempat melepas lelah dan tempat bermain anak-anak.Tanjung Pasir ditutupi air laut setinggi 0,5 m saat musim ombak.
 
Dari sisi kesehatan dan kebersihan lingkungan (termasuk sanitasi), rumah nelayanBajo di kawasan Tanjung Pasir sangat jauh dari standar hidup sehat dan bersih.
Pertama,
seluruh rumah Bajo di Tanjung Pasir tidak memiliki MCK (Mandi, Cuci, Kakus/WC)yang memadai. Untuk urusan mandi, berbekal tirai dari bambu, seng bekas dan batangkelapa lalu dibuatkan kamar mandi sederhana berukuran 1 x 1 m
2
di samping atau di

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->