Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
57Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
SKRIPSI (BAB I-V)

SKRIPSI (BAB I-V)

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 4,239 |Likes:
Published by Muhammad Bryant

More info:

Published by: Muhammad Bryant on Oct 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2014

pdf

text

original

 
 
1
 
BAB IPENDAHULUAN1.1.
 
Latar Belakang Masalah
Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunannasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saatmaupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secaraparsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatantanggap darurat (
emergency response)
. Kurang adanya kebijakan pemerintah yangintegral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapapenyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi.Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi GunungMerapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapisudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganankasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat parakorban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak darikemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringanyang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalambentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah
1
.Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulanganbencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminanpemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan
1
Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011
 
 
 
2
 
sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggarandan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi danrehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana.Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengandikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang PenanggulanganBencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PerkaBNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan BadanPenanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri(Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata KerjaBPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden(Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentangPenyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan PeraturanPemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta LembagaInternasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam PenanggulanganBencana.Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulanganbencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai daripengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2)Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para
 
 
3
 
pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3)Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehinggamewujudkan ketahanan
(resilience)
terhadap bencana
2
.Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi,dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangankebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perludimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencanasesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalammenanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasipenanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisiendan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulanganbencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasionalmencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahuisejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana didaerah.Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentangPenanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan PenanggulanganBencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan BencanaDaerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b)pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dariBPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana danpenanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)
2
Sulis Setyawan,
 Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia
, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->