Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
c.3

c.3

Ratings: (0)|Views: 321|Likes:
Published by Mblackdeden

More info:

Published by: Mblackdeden on Oct 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/24/2011

pdf

text

original

 
RINGKASAN EKSEKUTIFPENELITIAN PROGRAM LEGISLASI NASIONALLatar Belakang
Program Legislasi Nasional (Prolegnas) secara sempit dapat diartikansebagai penyusunan suatu daftar materi perundang-undangan atau daftar judulRUU yang telah disepakati. Daftar urutan tersebut dibuat oleh DPR/Pemerintahberdasarkan urgensi dan prioritas pembentukannya. Prolegnas dalam arti luasmencakup program pembinaan hukum, pengembangan yurisprudensi,pembinaan program perjanjian (termasuk ratifikasi konvensi internasional).Maka telah ditetapkan Propenas sebagai lampiran Tap MPR No.V/MPR/2000. Namun, dalam kenyataannya Propenas belum berhasilmengarahkan Prolegnas ke arah yang diinginkan. Hal ini antara lain sebagaikonsekuensi dan konfigurasi politik Orde Baru yang tidak kondusif, yangsampai saat ini masih kuat berakar.
Hasil Studi
Beberapa kesimpulan yang dihasilkan antara lain penyusunan Prolegnasmasih dalam taraf mencatat daftar keinginan, bukan daftar kebutuhan, karenadaftar undang-undang yang dituangkan melalui Propenas tersebut terbuktibelum mampu secara optimal mengakomodasi kebutuhan riil masyarakat (para
 stakeholders
). Proses pembentukan, perubahan (revisi), dan pencabutan suatuundang-undang dalam kenyataan belum memberikan akses yang seimbangkepada setiap
stakeholder
dalam menyuarakan kepentingannya. Di samping itu,mekanisme penyusunan sampai dengan tahap pengesahan suatu undang-undang, baik menurut Keputusan Presiden Nomor 188 Tahun 1998 maupunmenurut Peraturan Tata Tertib DPR tidak menjamin pemberian akses yangmemadai bagi masyarakat (
stakeholders
) dalam menyampaikan aspirasi mereka.Prolegnas yang dicantumkan dalam Propenas, BPHN, Baleg DPR, dan LoIberawal dari sejumlah indikator yang berbeda penekanannya, namun pada
 
dasarnya bermuara kepada tiga faktor utama, yaitu adanya: (a) desakan untukmemberi respon terhadap tuntutan reformasi di bidang hukum, (b) anggapanbahwa pemulihan ekonomi tidak mungkin berjalan tanpa didukung olehpembenahan perangkat hukum positif, (c) urgensi untuk menyikapiperkembangan regional dan global. Bervariasinya indikator yang digunakanmenunjukkan ketidakjelasan politik hukum Indonesia, khususnya yang terkaitdengan politik pembentukan hukum.Penerapan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Propenas Tahun2000—2004 ternyata juga tidak efektif. Hal ini dapat diamati dari beberapa hal.Pertama, jumlah undang-undang yang diproduksi dalam kurun waktu 2000—2002 ternyata hanya sekitar seperempat dari jumlah keseluruhan produk yangdirekomendasikan Propenas. Kedua, sebagian dari rancangan undang-undangyang diprogram untuk periode 2003—2004 sebagian besar tidak sesuai denganrekomendasi Propenas. Kondisi demikian terjadi karena terdapat kebutuhanmendesak yang diserap oleh departemen/LPND, yang sebelumnya tidakterakomodasikan oleh Propenas. Di luar itu, terdapat tekanan eksternal (pihakinternasional) yang cukup berperan dalam pergantian prioritas pembentukan,perubahan, dan pencabutan suatu undang-undang.Pendekatan sistematis untuk menjalankan Prolegnas belum secarasungguh-sungguh diperhatikan.
Beberapa Kelemahan
Dalam tataran kebijakan makro, kelemahan ini karena ketidakjelasan politikhukum nasional. Padahal politik hukum inilah yang memberi arahan ke arahmana Prolegnas harus digulirkan.Kelemahan lain terdapat pada tataran struktural. DPR dan Pemerintahsebagai lembaga masih menggunakan pola pendekatan yang berbeda. Di satusisi, landasan normatif yang digunakan masih belum sama, tetapi di sisi lain
 
“arogansi sektoral” (baca: kepentingan sepihak) pada masing-masing institusi juga sangat mendominasi.
Rekomendasi
Rekomendasi kebijakan dalam Prolegnas mengharuskan adanya penetapanrentang waktu yang agak panjang (5 sampai 10 tahun). Perlu ada sebuah institusiindependen (komisi) di bidang perarturan perundang-undangan.DPR dan Pemerintah sebagai dua lembaga pembentuk undang-undangmenetapkan politik hukum nasional. Untuk menetapkan politik hukum ini, DPRdan Pemerintah dibantu oleh institusi independen (komisi di bidang peraturanperundang-undangan) yang secara khusus diberi tugas menjabarkannya menjadidaftar kebutuhan undang-undang (baca: Prolegnas) untuk dijadikan pedomanpenyusunan Repeta.Penyusunan dan perumusan suatu undang-undang selain terkait masalahsubstansi, juga harus memperhatikan aspek teknis. Maka peran para tenagaperancang undang-undang (
legal drafters
) sangat penting. Di sisi lain, standarkualitas perancangan undang-undang harus ditetapkan pula.Mekanisme sosialisasi suatu undang-undang perlu diberi perhatian dalammengoptimalkan efektivitas keberlakuan suatu undang-undang.Penyusunan Prolegnas dan perumusan suatu undang-undang wajibditunjang oleh hasil penelitian hukum yang sungguh-sungguh komprehensifdan mendalam, baik dari sudut substansi maupun metodologinya. Hasilpenelitian tersebut merupakan salah satu dasar untuk penyusunan naskahakademik, dan keberadaan naskah akademik dinyatakan sebagai prasyarat wajib(bukan sekadar anjuran) untuk pembuatan sebuah undang-undang.Mekanisme penyusunan undang-undang dituangkan dalam sebuah produkhukum yang berlaku baik untuk undang-undang yang berasal dari hak inisiatifDPR maupun dari hak inisiatif Pemerintah.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->