Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ekonomi Syariah Di Indonesia

Ekonomi Syariah Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 904|Likes:
Published by Aloeng Ps

More info:

Published by: Aloeng Ps on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2012

pdf

text

original

 
Ekonomi syariah di indonesiaBeberapa pakarekonomi Islamseperti Dr. Muhammad NejatullahSiddiqi dan Dr. Mohammad Obaidullah sertapemikirkeuangan syariahseperti Pr.Dr. Volker Nienhaus melontarkan kritik terhadap praktekekonomi Islamsaat ini, khususnya di sektorkeuanganIslam yang dilakukan oleh mayoritas negara muslim. Kritikan Siddiqi seperti yangtercuplik dalam artikelnya Muhammad Fahim Khan (Islamic Science of Economics: to be or not to be); “Most of us have been busy competing withconventional economics on its own terms, demonstrating how Islam favorscreation of more wealth, etc. We have had enough of that. It is time todemonstrate how modern man can live a peaceful, satisfying life by shiftingto the Islamic paradigm that values human relations above materialpossessions”Sementara itu Dr. Mohammad Obaidullah mengungkapkan bahwa salah satukelemahan industri keuangan terletak pada mekanisme fatwa dalammenjustifikasi transaksi-transaksi keuangan. Obaidullah berargumentasibahwa ruang lingkup interpretasi yang sangat luas dan beragam, dimana haltersebut menyediakan ruang pula pada interpretasi yang kontradiktif,membuat fatwa dimungkinkan menjadi sekedar alat dalam membenarkanpraktek konvensional masuk ke sendi-sendi sistem keuangan Islam. Fatwasaat ini cenderung hanya menggunakan sudut pandang hukum saja. Hal inimembuat mekanisme fatwa menjadi overlook pada esensi-esensi transaksikeuangan Islam.Oleh sebab itu beberapa kalangan menganjurkan agar mekanismepenyusunan fatwa mengikutsertakan pandangan ekonomi yang mampumenyuguhkan pertimbangan esensi transaksi berikut implikasiperekonomiannya. Dengan begitu fatwa menjadi lebih lengkap memandangdan me-review sebuah transaksi, sehingga mampu memelihara dan menjagakarakteristik keuangansyariahagar selalu in-line dengan semangat ekonomiIslam-nya. Esensi keuangan Islam terletak pada dukungannya terhadapaktifitas ekonomi produktif, dimana aktifitas sektor riil menjadi muara semuatransaksi keuangan Islam.Sedangkan Prof.Dr. Volker Nienhaus berpendapat bahwa dalam praktekkeuangan syariah banyak ditemui structure products yang diyakini telahsesuai dengan prinsip-prinsip syariah, dimana produk-produk tersebut pada
 
dasarnya tidak dapat diterima secara umum, namun beberapa Sharia Boarddan Sharia Scholar mengakui kesyariahan produk tersebut, seperti produk Tawarruq and Comodity Murabaha, Collateralized Debt Obligations, ShortSelling, Profit Rate Swaps dan Total Return Swaps. Dan ketika produk-produktersebut diterapkan ternyata akan mengakibatkan terjadinya unrestrictedliquidity (Tawarruq and Comodity Murabahah), speculation (CollateralizedDebt Obligations dan Short Selling) dan sharia conversion (Profit Rate Swapsdan Total Return Swaps). Konsekwensi dari penerapan produk-produk sepertiitu, ekonomi tidak mengalami peningkatan wealth dan juga dapatmengakibatkan systemic anomalies dan systemic vulnerability.Implikasi selanjutnya adalah pada tahap awal akan terjadi SystemicCommingling, dimana Islamic Finance berinteraksi dengan konvensional,yang diikuti dengan Islamic Finance melakukan emulation (peniruan)terhadap produk-produk konvensional. Pada tahap selanjutnya akan terjadiSystemic Inclusion, dimana Islamic Finance berintegrasi denganConventional Finance, sehingga terjadi absorption Islamic Finance dalamoperasi Conventional Finance, yang pada akhirnya sulit untuk membedakanantara produk Islamic Finance dan produk Conventional Finance. Hal initerjadi karena beberapa hal, diantaranya: (i) adanya kompetisi daribank-bank konvensional; (ii) adanya demand akan emulated products (karenamasyarakat yang belum well educated pada Islamic Economic/Finance); (iii)lebih tingginya profit dari structure products; (iv) sharia scholar yangmengutamakan legalistic approach dari pada substansi ekonomi Islam danunfavourable regulatory environment (sesuai kritik Obaidullah). Sehinggaagar Islamic Finance tetap sejalan dengan cita-cita penerapan keuangansyariah, maka pada masa yang akan datang perlu diupayakan cara-caramempertahankan distinction dari Islamic Finance meski dalam prakteknya dilapangan ia akan berdampingan (Systemic Coexistence) denganConventional Finance.Kritikan-kritikan seperti ini, sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan parapakar akan keberhasilan sistem ekonomi Islam dalam menjawab tantangankerapuhan sistem ekonomi yang sedang berlangsung. Bahkan kritikan inimulai memunculkan keraguan terhadap keefektifan ekonomi/keuangan Islamsebagai sistem ekonomi alternatif yang mampu menggantikan sistemekonomi mainstream. Operasionalnya yang tidak berbeda, struktur produkyang sama, esensi transaksi yang identik, bahkan tidak ada perbedaanmencolok dari prilaku pelaku ekonomi membuat banyak pihak mulaibertanya-tanya, mampukah ekonomi/keuangan Islam bertahan lama. Karena
 
pada akhirnya dengan kecenderungan yang ada saat ini ekonomi/keuanganIslam akan blended (melebur) dalam sistem ekonomi mainstream juga.Keuangan Syariah IndonesiaDitengah kritikan seperti itu, Indonesia secara perlahan mulai dikenal luasoleh dunia, memiliki aplikasi ekonomi/keuangan syariah yang berbedadengan negara-negara kebanyakan. Indonesia yang dalam foruminternasional keuangan syraiah dikenal “ortodok” (mengambil istilah Dr. ZetiAkhtar Azis, Gubernur BNM bank sentralnya Malaysia) atau konservatidalam penerapan prinsip-prinsip syariah, kini dikenali memiliki praktekekonomi Islam yang lebih mendekati substansi ekonomi Islam (jika sulit jugadiklaim lebih syariah) serta relatif komplit pada semua aspek ekonomi.Perkembangan ekonomi syariah bukan hanya di sektor yang memang telahbanyak dikembangkan seperti perbankan, pasar modal dan lembagakeuangan non-bank lainnya, tetapi perkembangannya merambah padasektor keuanganmikro, keuangan sosial dan praktek-praktek usaha riil yangmencoba memenuhi prinsip-prinsip syariah.Disamping itu, sensitifitas berbagai kalangan terhadap praktek syariahmembuat aplikasinya oleh pelaku ekonomi termasuk regulatornya, sangatberhati-hati dengan terus mengedepankan substansi prinsip-prinsip syariahyang telah digariskan. Esensi keuangan syariah yang mensyaratkanketerkaitan erat transaksi keuangan dengan usaha produktif ekonomi (riil)membuat produk-produk keuangan syariah Indonesia relatif memiliki bentuk,warna dan karakteristik yang berbeda dengan negara-negara lain.Sebagai contoh di sektor perbankan, jika membandingkan perbankan syariahIndonesia dengan Malaysia, maka terlihat bagaimana karakteristikperbankan yang berbeda yang dimiliki Indonesia dan Malaysia. Dari strukturproduk, produk perbankan syariah Malaysia dominan dikuasai oleh produkfixed income yang mekanisme akadnya mirip konvensional. Produkpembiayaan dominan yang dulu dikuasai oleh akad bay’ al innah kiniberganti nama dengan commodity murabaha (99%!), yang esensimekanismenya sama saja.Commodity murabaha identik dengan akad kredit konvensional mengingatesensi transaksi produktif (ekonomi riil) tidak ada dalam transaksi tersebut.Uniknya atau mungkin ironisnya, dalam satu kesempatan seorang direktursalah satu bank syariah Malaysia pernah menyebutkan bahwa produkpembiayaan bank syariah berbasis bagi-hasil tidaklah cocok dengan bisnisbank (syariah), sehingga direktur ini bersikeras bahwa produk berbasis jual-

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->