Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Renjana Pendekar

Renjana Pendekar

Ratings: (0)|Views: 242|Likes:
Published by api-3810342

More info:

Published by: api-3810342 on Oct 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com
1
___________________________________________________________________________
Jilid 1________
Di suatu halaman rumah yang luas dan rindang, di bawah pohon sana seorang kakek

berjubah hijau tampak berdiri tenang dan santai, sambil berdekap tangan sedang menyaksikan
seorang pemuda di depannya lagi menulis. Pemuda itu duduk bersila di depan sebuah meja
pendek, pit (Pensil bulu) yang digunakan menulis itu sebesar lengan bayi, panjangnya kurang
lebih setengah meter. Sebesar itu alat tulisnya, tapi yang ditulis justeru huruf kecil yang
disebut gaya "Siau Kay". Saat itu dia baru habis menulis seluruh isi kitab Lam-hoa-keng.
Sampai huruf terakhir, sampai goresan pensil penghabisan, dia tetap menulis dengan tekun
dan sungguh-sungguh, gerak pensilnya juga tidak kacau sedikitpun.

Di tengah kerimbunan pohon terdengar suara tonggeret yang bising memecahkan kesunyian.
Perlahan-lahan anak muda itu menaruh pensilnya, mendadak ia menengadah, katanya dengan
tertawa terhadap orang tua tadi: "Pertemuan Hong-ti tidak dikesampingkan oleh setiap
Enghiong (Pahlawan, Ksatria) di dunia ini, masa ayah benar-benar tidak mau hadir ?"

"Setelah Lam-hoa-keng selesai kau tulis barulah kau bertanya, dalam hal kesabaran jelas kau
sudah ada kemajuan", ucap si kakek dengan tersenyum. "Tapi pertanyaanmu ini mestinya
tidak perlu kau ajukan, masa kau masih memandang penting sebutan "Enghiong" segala ?"

Pemuda itu mendongak, memandang sekejap pucuk pohon, lalu menunduk pula mengiakan
petuah sang ayah. Rupanya bukan tanpa sebab pemuda itu mendongak dan memandang pucuk
pohon. Terdengar suara kresekan daun pohon yang pelahan, mendadak sesosok bayangan
manusia melayang turun seringan burung hinggap di tanah.

Kiranya pendatang ini adalah seorang pendek kecil cekatan berbaju hitam, di balik
pakaiannya yang hitam ketat ringkas itu tampak otot daging yang kekar, sekujur badan penuh
Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com
2

sikap kewaspadaan, seolah-olah anak panah yang sudah siap pasang pada busurnya, sekali
tersentuh segera akan menjepret.
Namun kedua orang tua dan muda tadi tetap tenang-tenang saja, dengan tak acuh mereka
menandang sekejap tamu tak diundang ini, juga tanpa bicara dan tidak menegur, seakan-akan
si baju hitam memang sejak tadi sudah berdiri di situ.

Mendadak si baju hitam bergelak tertawa, serunya; "Sungguh hebat Gak-san-lojin Ji Hong-ho,
ternyata benar tetap tenang biarpun gunung Thaysan gugur di depannya, tak tersangka
Kongcu juga setenang ini, baru sekarang aku Hek-kap-cu (si merpati hitam) menyaksikan
kehebatannya" Sambil berbicara iapun memberi hormat, sikapnya tampak sangat kagum dan
sangat hormat.

"O. kiranya Hek-tayhiap dari ketujuh tokoh ahli Ginkang," ucap si kakek, Ji Hong ho, dengan
tertawa.

"Mestinya Cianpwe tahu, diantara Bu lim jit kim (tujuh unggas dunia persilatan), aku si Hek-
kap ca inilah yang paling tidak becus." demikian kata si merpati hitam. "Aku tidak berani
menjadi bandit, juga tidak sanggup menjadi tukang kawal. Terpaksa kucari sesuap nasi
dengan kemampuan dan sifatku yang bisa menjaga rahasia untuk mengantarkan surat kepada
cianpwe.

Ji Hong-ho dengan gembira berkata: "Saudara Hek tidak mencari nafkah dengan cara yang tidak jujur dan ini benar-benar kuhormati. Tapi aku menduga-duga, sahabat lama manakah yang meminta saudara Hek untuk mengantarkan surat?"

Hek Kap-cu menjawab: "Kalau orang itu tidak mau mengungkapkan jati dirinya, aku
berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan jati dirinya. Itu adalah kode etik pekerjaanku, aku
juga tahu bahwa cianpwe bisa memaksaku untuk mengungkapkan jati dirinya. Tapi aku juga
tahu bahwa surat ini mengandung suatu rahasia penting dari cianpwe". Sesudah mengucapkan
kata-kata tersebut, dia mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada Ji Hong-ho.

Ji Hong-ho ragu-ragu sejenak dan kemudian ia menyerahkan surat itu kembali kepada Hek
Kap-cu dan berkata: "Tolong, bisakah kau membuka dan membaca surat ini keras-keras
untukku?"

Hek Kap-cu berkata: "Tapi, isi surat ini mengandung rahasia cianpwe...."
Ji Hong-ho tersenyum: "Oleh karena itu, aku ingin anda membacakannya untukku karena aku
sama sekali tidak mempunyai rahasia. Aku tidak takut siapapun mengetahui isi surat ini".

Hek Kap-cu sangat terkesan dan sambil tersenyum: "Tidak ada rahasia sama sekali! Hanya Cianpwe yang bisa mengucapkan kata-kata ini" Hek Kap-cu membuka sampul surat itu dan menemukan lembaran lembaran suratnya. Lembaran-lembaran surat itu saling lengket satu sama lain dan Hek kap-cu membasahi jari-jarinya dengan ludah dan memisahkan lembaran- lembaran suratnya. Dia mulai membaca surat itu keras-keras: "Yang terhormat saudara....\u201d.

Tiba-tiba Hek Kap-cu jatuh dan kejang-kejang. Ji Hong-ho sangat terkejut dan segera
bergegas menolongnya. Sesudah memeriksa denyut nadinya, ia segera tahu bahwa Hek Kap-
cu tidak akan bertahan lebih lama lagi, dengan suara keras ia bertanya: "Sesungguhnya siapa
yang menyuruh kau menyampaikan surat ini kesini ? Siapa? Lekas katakan!"

Renjana Pendekar > Karya Khulung > Diceritakan oleh : GAN KL > buyankaba.com
3

Mulut Hek-kap-ca terpentang, tapi tak dapat mengucapkan sepatah katapun, air mukanya dari
hijau berubah pucat, dari pucat berubah merah, dari merah lantas berubah menjadi hitam,
hanya sekejap saja air mukanya sudah berubah beberapa warna. Kulit daging mukanya juga
mendadak lenyap secara ajaib, seraut muka yang sesaat sebelumnya masih segar dan sehat,
kini mendadak berubah menjadi sebuah tengkorak yang hitam.

"Racun! Lihay amat racun ini !" seru pemuda tadi dengan melenggong.

Perlahan Ji Hong-ho berdiri, ucapnya sambil menghela napas sedih: "Sebenarnya akulah yang
hendak dicelakai dengan surat berbisa ini, tak tersangka dia yang menjadi korban. Meski
bukan aku yang membunuh dia, tapi jelas dia mati lantaran diriku ... "
Dilihatnya kulit daging sekujur badan Hek-kap- cu juga muali menyusut dan hilang dalam
waktu singkat, dari bagian bajunya menggelinding keluar beberapa potong biji emas.
Mungkin inilah imbalan bagi jasanya menyampaikan surat ini, tapi juga imbalan bagi
jiwanya.

Melihat beberapa potong emas itu, mendadak Ji Hong-ho malah menjemput kembali surat
tadi. Si pemuda terkesiap, serunya cepat: "He, akan diapakan, ayah?!"

Ji Hong-ho tampak sudah tenang kembali, katanya dengan perlahan: "Orang ini mati lantaran
diriku, betapapun harus kubalas budinya. Apalagi, begini keji cara orang yang hendak
membunuh diriku ini, kalau cara yang satu gagal, tentu dia nasih ada tipu-daya yang kedua.
Jika hal ini sampai terjadi maka hidupku tentu akan menyesal dan merasa berdosa, kan lebih
baik akupun mati agar hatiku bisa tenteram"

"Tapi ... tapi, ayah tidak ingin mencari tahu sesungguhnya siapa yang hendak mencelakai engkau?. Selama hidup ayah tiada bermusuhan dengan siapapun, sungguh aneh, siapakah gerangan ..."

Belum habis ucapan pemuda tadi, se konyong konyong terdengar suara "Blang" yang keras,
beberapa potong emas tadi mendadak meledak, semua benda seperti pot air, kertas tulis,
tatakan tinta dan sebagainya yang berada diatas meja pendek tadi sama tergetar dan jatuh ke
tanah.

Ji Hong-ho sendiri tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak, padahal sebenarnya dia sudah
melompat mundur beberapa meter jauhnya untuk kemudian lantas melayang balik ke tempat
semula. Sorot matanya yang semula tenang-tenang itu kini mengandung rasa marah, ucapnya
sambul mengepal tangannya: "Keji benar orang ini, ternyata di dalam lantakan emas juga
diberi obat peledak, bahkan sudah diperhitungkan saat meledaknya setelah Keh-kap-cu
menyerahkan surat padaku, jelas bukan cuma aku saja yang ingin dibunuhnya, malahan orang
yang menyampaikan surat inipun akan dibinasakan agar tutup mulut untuk selamanya."

Air muka pemuda tadi juga berubah, katanya dengan gemas: "Orang macam apakah yang
berhati keji dan juga perencana yang rapi ini?. Jika orang ini tidak ditumpas, bukankah dunia
persilatan akan ... "

"Sebenarnya hal inipun tak dapat menyalahkan dia." Ji Hong-ho memotong ucapan pemuda
itu dengan tersenyum pedih. "Jika secermat ini dia berusaha membunuh diriku, mungkin
karena pernah ku berbuat sesuatu kesalahan, makanya dia sedemikian benci padaku."

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Harti Lena liked this
Udin Labu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->