Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pedang Pusaka Kahyangan

Pedang Pusaka Kahyangan

Ratings: (0)|Views: 935 |Likes:
Published by api-3810342

More info:

Published by: api-3810342 on Oct 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Sian Ku Po Kiam > karya Khu Lung > buyankaba.com
1
__________________________________________________
Jilid 1.....

Tiong chiu berlalu Angin yang bertiup pada saat musim rontok membawa kesejukan.
Matahari juga lebih cepat menarik diri di bandingkan musim panas Saat ini hari belum terlalu
senja Namun kegelapan mulai menyebar.

Di daerah Kwaciu terdapat sebuah tapal batas yang mengandung sejarah Di jalanan mulai terlihat penerangan dinyalakan Di ujung sebelah utara ada sebuah rumah makan kecil. Di depan pintu tergantung sebuah lentera yang redup. Mungkin hampir kehabisan minyak. Cahayanya makin pudar karena tiupan angin. Papan-papan cantang hanya disandarkan di tembok.

Ruangannya tidak besar Hanya ada lima meja dan kursi Semuanya dirapatkan dengan tembok
Namun semua meja itu tensi penuh Tamu tamu ini tentu saja tak tergesa gesa menyeberangi
Sungai. Kalau tidak, mereka pasti tidak akan mempunyai waktu bersantap dengan tenang.

Tamu-tamu yang duduk di lima meja tersebut mempunyai penampilan yang berbeda Tiga
orang yang duduk paling depan adalah laki-laki bertubuh tinggi besar. Masing-masing
membawa sebuah bungkusan kain yang bentuknya panjang. Isinya pasti pedang atau golok
Wajah mereka tampak garang Dapat diduga bahwa ketiga orang itu bukan dari golongan baik
baik.

Di pintu bagian kiri duduk dua orang laki-laki Tampang mereka kelihatan jujur.
Kemungkinan besar dari kalapgan pedagang. Yang satu bertubuh gemuk dan yang satunya
lagi malah kurus D atas meja terdapat tumpukan kain berwarna-warni. Ternyata pedagang
kain. Di tengah tengah ruangan ada dua meja. Yang kiri merupakan seorang pemuda berusia
dua puluhan.

Alisnya hitam berbentuk golok. Bibirnya merah dan giginya putih bersih Bukan hanya
penampilannya saja yang enak dipandang tingkahnya pun lembut dan berpendidikan. Sekali
pandang sudah dapat dipastikan bahwa pemuda ini seorang su-seng (pelajar). Meja dalam
sebelah kanan diisi oleh seorang perempuan berusia kira kira dua puluh tiga atau empat tahun
Dia hanya seorang diri. Pakaiannya adalah stelan celana berwarna hijau pupus Rambut

Sian Ku Po Kiam > karya Khu Lung > buyankaba.com
2

kepalanya diikat dengan sehelai selendang berwarna hijau pula. Pinggangnya ramping hanya
kulitnya saja yang agak hitam, namun malah menambah kemanisan wajahnya Meskipun
dandanannya seperti seorang perempuan desa, tapi penampilannya tidak kampungan.

Di bagian paling pojok dekat pintu rumah menuju dapur duduk seorang pemuda. Bajunya
lusuh Wajahnya kotor dan hitam. Mungkin sedang mengadakan perjalanan jauh. Dia duduk
disudut yang gelap. Kepalanya tertunduk. Sama sekali tidak memperdulikan keadaan
sekitarnya. Dia menikmati bakmi dihadapannya dengan penuh selera.

Pemilik rumah makan ini adalah seorang laki laki tua berpungggung bungkuk. Kepalanya
tertutup sebuah topi kecil. Di pundaknya tersampir sehelai kain lap berwarna biru.
Tampaknya sudah kumal dan berminyak Dia juga bertindak sebagai koki, bagian tukang
potong sayur, menuangkan teh, mengantar makanan dan melap meja Pokoknya semua
pekerjaan ditanganinya sendiri. Tentu saja dia sangat kerepotan dalam melayani tamu.

Blangg!!! terdengar suara keras seseorang yang menggebrak meja Kemudian dilanjutkan
dengan bentakan yang kasar....

"Hei Lao pan .. aku menyuruh kau membawakan lagi tiga kendi arak, tapi kau tidak melayani
sejak tadi. Apakah telingamu tuli. Toayamu masih banyak urusan yang harus diselesaikan
setelah kenyang makan dan minum, Cepat!"

Dari bentakan itu saja, biarpun tidak usah melihat siapa orangnya sudah dapat dipastikan
tamu-tamu yang berwajah garang di depan pintu yang mengeluarkan suara itu. Mata mereka
mendelik Di kening terlihat urat hijau yang menyembul keluar Tampaknya mereka sudah
minum cukup banyak. Gebrakan yang keras di meja, hamplr saja membuat lilin yang sedang
menyala tumpah.

Baju ketiga orang itu telah terbuka. Bulu-bulu dada yang lebat membuat orang-orang yang menatap mereka semakin ketakutan, Mungkin mereka sengaja memperiihatkan kegarangan mereka agar dilayani lebih cepat

Tamu-tamu yang lain memang sudah sejak pertama tidak menyukai tampang ketiga orang
tersebut. Perbuatan mereka yang kasar semakin membuat para tamu membungkam. Pemilik
rumah makan tersebut cepat-cepat memberikan reaksi sebelum orang-orang kasar itu
bertambah marah.

"Baik baik," sahutnya tergopoh-gopoh.

Orang tua itu segera masuk ke dalam dapur untuk memenuhi pesanan mereka Dalam waktu
sekejap dia sudah keluar lagl dengan tangan membawa arak Langkah-langkahnya bagai orang
kelabakan Dia meletakkan pesanan tersebut di atas meja. Wajahnya dibuat secerah mungkin.

"Sam wi khek kuan. Harap maafkan Tidak biasanya rumah makan saya seramai hari ini
Sedangkan yang melayani hanya seorang, jadi agak terlambat memenuhi pesanan para tuan,"
katanya

Laki-laki kasar yang duduk di sebelah dalam, dengan tidak sabar merebut arak dl tangan
orang tua itu
Sian Ku Po Kiam > karya Khu Lung > buyankaba.com
3
"Sudah. Sudah. Jangan banyak omong! Pergi sana! bentaknya

Orang tua itu mana berani bicara lebih banyak lagi. Ia hanya mengiakan saja, lalu ngeluyur
untuk melayan, tamu yang lain, Laki-laki kasar tadi menuangkan arak bagi kedua rekannya,
kemudian memenuhi cawannya sendiri. Diangkatnya cawan tersebut Sekali teguk saja, arak
itu telah berpindah ke perutnya matanya memandang laki laki di hadapannya dengan seksama

Laki-laki yang dipandangnya adalah seorang setengah baya dengan bercak-bercak putih di wajah. Tampaknya orang itu merupakan Lao toa dari rombongan tersebut. Sedangkan rekan yang satu lagi menikmati araknya dengan kepala mangut-mangut.

Laki-lak kasar yang tadi menggebrak meja bangkit dari duduknya Kaki sebelah kirinya ditangkringkan dikursi kayu. Matanya menatap tajam kepada kedua orang yang diduga pedagang tadi.

"Apakah sam wi datang dari Si Pao?\u201d. tanyanya. Si Pao merupakan daerah perdagangan
paling besar di tenggara.
Mendengar nada yang kurang ramah dari laki lak kasar itu kedua orang tersebut segera

berdiri. Yang bertubuh lebih gamuk segera memamerkan seulas senyuman.
"Betul.. betul Enghiong\u201d sahutnya
"Toaya bernama Pek Phi Long (Sengala berhidung putih) Pek Seng Bukan segala macam

Enghiong atau keturunan beruang (Hiong dalam bentuk tulisan yang lain artinya beruang),"
jawab laki-laki kasar itu
"lya lya maaf," kata pedagang bertubuh gemuk itu gugup. Tangannya saling menggenggam
dengan gemetar. Waiahnya tampak pucat Dia sudah ketakutan sekali
Kalian datang dari tempat yang jauh, di sepanjang perjalanan tidak pernah terjadl apa-apa
tahukah kalian apa sebabnya?" tanya Pek Phi Long kembali
Pedagang bertubuh gemuk itu memandang dengan terkesima. Dia bingung mendapat

pertanyaan seperti itu.
"Siaute tidak tahu ." sahutnya gagap-gugup
Pek Phi Long tartawa kering.
"Kalian harus mengerti. Perjalanan Kang Wi selamanya tidak aman Para penguasa di jalan

jalan yang kalian lalui tidak mungkin membiarkan dua ekor kambing gemuk seperti kalian
lewat begitu saja Bahkan mencium baunya pun tidak " katanya
Pedagang bertubuh gemuk itu tidak tahu arah tujuan percakapan Pek Phi Long Dia terpaksa

mengangguk saja berkali-kali
"Betul! Betul\u201d.
Pek Phi Long mengalihkan pandangannya ke arah laki laki setengah baya dengan bercak