Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
12Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Islam Moderat

Islam Moderat

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 3,839|Likes:
Published by api-3817997

More info:

Published by: api-3817997 on Oct 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/18/2014

pdf

text

original

 
ISLAM MODERAT
Akhir-akhir ini seperti sudah menjadi keharusan opini di berbagai media massa, bahwa dizaman globalisasi, corak keberislaman yang ‘baik’ adalah menjadi Muslim yang moderat.Dengan kata lain, bukan menjadi Muslim yang liberal atau yang radikal. Istilah“moderat” ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh berbagai kalangan, baik cendekiawan,kepala Negara/pemerintahan Muslim, atau tokoh-tokoh agama. Apakah sebenarnyamakna “Islam moderat”, yang kadang-kadang disamakan dengan istilah “
ummatanwasatha
”?Istilah “moderat” (moderate) berasal dari bahasa Latin ‘moderare’ yang artinya“mengurangi ataumengontrol”. Kamus The American Heritage Dictionary of the English Languagemendefinisikan moderate sebagai: (1)
not excessive or extreme (2) temperate (3)average; mediocre (4) opposed to radical views or measures.
Sebagai satu sistem ajaran dan nilai, sepanjang sejarahnya, Islam tidak menafikankemungkinanmengambil istilah-istilah asing untuk diadopsi menjadi istilah baru dalam khazanahIslam. Tetapi, istilah baru itu harus benar-benar diberi makna baru, yang sesuai denganIslam. Istilah itu tidak dibiarkan liar, seperti maknanya yang asli dalam agama atau peradaban lain. Kita sudah banyak mengambil istilah baru dalam Islam, seperti istilah“agama”, “pahala”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, yang berasal dari tradisi Hindu, tetapi kita berikan makna baru yang sesuai dengan konsep Islam. Dari peradaban Barat saat ini, kitamengambil banyak istilah, seperti istilah “worldview”, “ideologi”, dan sebagainya.Semua istilah bisa diadopsi, asalkan sudah mengalami proses adapsi (penyesuaianmakna) dengan makna di dalam Islam, sehingga tidak menimbulkan kekacauan makna.Sikap wasathiyah adalah karakter ajaran Islam itu sendiri. Istilah wasathiyah, menurut Dr.Muhammad Imarah, termasuk yang sering disalahartikan. Dalam bukunya, M
a’rakah al-Mushthalahat bayna al-Gharb wa al-Islam
(Di Indonesiakan oleh Musthalah Maufur MAdengan judul “Perang Terminologi Islam versus Barat”), Imarah menjelaskan dengancukup panjang lebar makna konsep “al-wasathiyah” di dalam Islam. Istilah al-wasathiyahdalam pengertian Islam mencerminkan karakter dan jatidiri yang khusus dimiliki olehmanhaj Islam dalam pemikiran dan kehidupan; dalam pandangan, pelaksanaan, dan penerapannya.Di dalam istilah ini, tercermin karakter dasar Islam yang terpenting yang membedakanmanhaj Islam dari metodologi-metodologi yang ada pada paham-paham, aliran-aliran,serta falsafah lain. Sikap wasathiyah Islam adalah satu sikap penolakan terhadapekstremitas dalam bentuk kezaliman dan kebathilan. Ia tidak lain merupakan cerminandari fithrah asli manusia yang suci yang belum tercemar pengaruh-pengaruh negatif.Allah berfirman (yang artinya): “
 Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu(umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia.
” (al-Baqarah:143).
 
 Umat yang adil dan umat pilihan adalah ‘ummatan wasatha’ (umat pertengahan). Untuk saat ini, terjemahan “umat pertengahan” atau “umat yang adil dan pilihan” mungkin lebihtepat dari pada umat moderat, mengingat banyaknya kerancuan dalam istilah moderatyang digunakan oleh Barat dan kaum sekular-liberal saat ini. Menjelaskan tentang maknaayat 143 surat al-Baqarah tersebut, dalam Tafsir al-Azhar, Prof. Hamka menyatakan, bahwa kehadiran Nabi Muhammad saw dan umat Islam adalah untuk menjadi jalantengah bagi ekstrimitas dua komunitas Yahudi dan Kristen; umat Yahudi yang lebihcondong kepada urusan dunia semata dan umat Nasrani yang condong kepada kehidupankerohanian semata, dengan memencilkan diri di biara-biara dan tidak kawin.Umat Islam adalah umat yang pertengahan, yang menjadikan urusan fisik sebagai hal penting dan menjadikan urusan batin sebagai hal yang penting pula. Ayat ini berkaitandengan masalah shalat, yang dijadikan contoh sebagai ibadah yang menggabungkanantara urusan fisik dan batin. Dalam shalat, jelas sekali pertemuan tersebut. Shalatdikerjakan dengan badan, melakukan sujud dan ruku’, menghadap kiblat, berpakaianyang bersih dan bebas najis, dan sebagainya. Tetapi semuanya itu juga harus dikerjakandengan hati yang khusyu’.Tampak pula sikap wastahiyah Islam itu pada aturan tentang zakat, yang hanya bisadikerjakan oleh orang yang berharta sesuai dengan aturan nishab. Artinya, umat Islamdiperintahkan mencari harta sebanyak-banyaknya, untuk menegakkan amal salih dansetelah itu bagikan kepada orang yang membutuhkan. Begitu juag dengan aturan puasa,haji, dan sebagainya. Semua itu adalah watak ajaran Islam, yang mementingkan urusan badan dan urusan batin. Sikap wasathiyah Islam itu berbeda dengan sikap umat-umatlainnya, baik kaum Yahudi, Kristen, Hindu, dan sebagainya.Kata Hamka: “Bangkitnya Nabi Muhammmad saw di padang pasir Arabia itu, adalahmembawa ajaran bagi membangunkan ummatan wasathan, suatu ummat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup di dalam kenyataannya. Percaya kepada akhirat lalu beramal di dalam dunia ini. Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkankesihatan rohani dan jasmani, karena kesihatan yang satu bertalian dengan yang lain.Menentingkan kecerdasan fikiran, tetapi dengan menguatkan ibadat untuk menghaluskan perasaan. Mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, karena kekayaan adalah alat untuk  berbuat baik. Menjadi khalifah Allah di atas bumi, untuk bekal menuju akhirat. Karenakelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.Selama ummat ini masih menempuh
 shiratal mustaqim
, jalan yang lurus, selama itu pulamereka akan tetap menjadi ummat jalan tengah.” Dengan posisi sebagai ummatanwasathan itu, maka umat Islam akan menjadi saksi atas umat yang lain.Kata Hamka: “Umat Muhammad menjadi ummat tengah dan menjadi saksi untuk ummatyang lain, dan Nabi Muhammad saw menjadi saksi pula atas ummatnya itu, adakahmereka jalankan pula tugas yang berat tetapi suci ini dengan baik?” Itulah makna“ummatan wasathan”, umat pertengahan, umat yang adil, umat yang menjadi saksi atas
 
ummat yang lain, dengan menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia.Dengan pandangan dan sikap ‘wasatha’, setiap Muslim dilarang melakukan tindakan‘tatharruf’ atau ekstrim dalam menjalankan ajaran agama. Umat Islam merupakan umat penyeimbang dari umat umat-umat agama lain. Umat Islam mampu menyeimbangkanantara kehidupan dunia dan akhirat, tidak terlalu materialis duniawi, seperti kaum Yahudiatau meninggalkan kehidupan dunia seperti berbagai pemeluk agama lainnya. UmatIslam menyeimbangkan antara aspek jasmani dan ruhani. Itulah makna umat wasathan,umat pertengahan.Tetapi, konsep ‘al-wasathiyyah’ bukan berarti sikap yang tidak berpihak kepadakebenaran, tidak memiliki pendirian untuk menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Al-Wasathiyyah juga tidak bermakna sikap ‘plin-plan’, dengan mengorbankankebenaran demi untuk mencapai tujuan keduniawian.Saat ini, ada kecenderungan pengaburan sikap al-Wastahiyyah pada beberapa kalangan,dan menyamakannya dengan konsep moderatisme Islam yang kabur maknanya. Malah,ada yang menggunakan istilah “Islam moderat” dengan makna yang sama dengan istilah“Islam Inklusif” atau “Islam Pluralis”. Melalui konsep dan kedok istilah “IslamModerat” itu pula, kemudian disebarkan paham “Pluralisme Agama” (
 At-Ta’addudiyahal-Diniyyah
), yang menyatakan semua agama itu adalah sama dan benar.Karena munculnya berbagai kerancuan makna konsep “pertengahan” (al-wastahiyyah)atau “moderatisme” di kalangan masyarakat Muslim Indonesia saat ini, maka sudahsangat mendesak dilakukannya suatu pengkajian yang serius dan ilmiah terhadap konsep“al-wasathiyyah” dalam Islam, agar tidak terjadi kerancuan dan pengaburan makna.Kita mengimbau, para cendekiawan dan tokoh-tokoh umat agar sangat berhati-hati dalammenggunakan istilah “Islam moderat”, dan tidak begitu saja menyamakannya denganistilah “ummatan wasathan”. Jika terpaksa menggunakannya, berikanlah definisi yang jelas, yang berbeda dengan definisi yang dipopulerkan oleh kaum liberal dan pluralis saatini. Sebab, “moderatisme Islam” saat ini juga sedang dijadikan sebagai bahan kampanyeuntuk meliberalkan Islam di Indonesia, sebagaimana diprogramkan oleh LSM-LSM asingyang beroperasi di Indonesia, seperti
The Asia Foundation
dan sebagainya. Lebih baik dan lebih aman jika saat ini kita tidak ikut-ikutan menambah daftar panjang predikatIslam, seperti “Islam modernis”, “Islam tradisionalis”, “Islam liberal”, “Islamfundamentalis”, “Islam radikal”, “Islam salafi”, “Islam rasional”, “Islam militan”, “Islamkonservatif”, “Islam kanan”, “Islam kiri”, “Islam garis keras”, “Islam kultural”, “Islamstruktural”, dan sebagainya. Lebih baik kita menyebut “Islam” saja. Islam yang satu, dantidak memecah belah menjadi berbagai jenis Islam, yang maknanya kabur dan tidak jelas.David E. Kaplan menulis dalam artikelnya, Hearts, Minds, and Dollars,(www.usnews.com, 4-25-2005), bahwa saat ini, AS menggelontorkan dana puluhan jutadollar dalam rangka kampenye untuk – bukan hanya mengubah masyarakat Muslim – tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telahmenyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingannasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam.

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
AQ Rahman liked this
Fahmi Abdillah liked this
Rhia Susanthi liked this
eqaisy liked this
Kic Krebet liked this
ferdyui liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->