High Quality
Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader required).
Duhai Allah,……..
Duhai yang mendetakkan jantung ini,…….
Duhai yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambaMu
ini,…
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga,……
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah,……..
Duhai yang selalu mengurus diri-diri kami di kala kami tertidur
pulas,……
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung,……..
Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada
suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami,…
….
Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala
kebusukan kami.
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau
singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan
segala kegelapan dengan cahaya di qolbu ini.
Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat
denganMu,……
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu
akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah , kami tidak
ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam
kemaksiatan.,…….
Berikan kepada kami kemudahan, untuk mengenalMu Ya Allah,…
….
Berikan kepada kami jalan untuk bisa mendekat kepadaMu,…….
Jadikan kami menjadi orang-orang yang selalu merasakan,
kehangatan, kasih sayangMu.
Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang selalu nikmat
Kepada-Mu,…….
Jadikan shoadaqoh kami menjadi jalan yang membuat kami akrab
denganMu,…….
Jadikan amal-amal kami sebagai amal -amal yang tulus hanya
karenaMu,…. Ya Allah
jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami,…...
Jangan biarkan hawa nafsu, menjerumuskan kami,…...
Jangan biarkan syahwat membuat kami terjerumus dalam
maksiat,…..
Jangan biarkan amarah membuat kami terhina dalam
kedzoliman,…..
Ya Allah, wahai yang Maha Mendengar, sayangilah kami Ya Allah.
Berkahi sisa umur kami ini,……
Jadikan umur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua
kami, bagi keluarga kami, bagi sebanyak-banyak-Nya umat Mu,…
……
Rabbanaa aatinaa Fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati
hasanataw wa qinaa 'adzaaban naar "Ya Allah, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat, dan peliharalah
kami dari azab neraka"
Wallahu a'lam
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali
diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar
keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh
kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi
diri
Anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra-putri yang hidup Yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir.... Namun,....tidak dari engkau Mereka
ada padamu
Tetapi bukanlah hakmu Sebab pada mereka ada alam pikiran
sendiri
Patut engkau berikan rumah untuk raganya Tetapi,....bukanlah
untuk jiwanya
Engkau boleh berusaha menyamai mereka Namun jangan
membuat mereka menyamaimu
Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan.
Dia terus berdoa pada Allah untuk menyelamatkan jiwanya. Setiap saat, dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat. Namun sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.
Tak lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah-rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.
Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, " Ya Allah, mengapa Kau lakukan ini padaku.
Tiba-tiba...terdengar peluit yang ditiup. Tuittt.....tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini kembali terkejut, ia lalu
Saudaraku, sangat mudah memang bagi kita, untuk marah saat musibah itu tiba. Nestapa yang kita terima, tampak akan begitu berat, saat terjadi dan berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan terus mengeluh. Namun, saudaraku, agaknya kita tak boleh kehilangan hati kita. Sebab, Allah selalu ada pada hati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun.
Dan teman, ingatlah, saat ada " asap dan api " yang membubung dan terbakar dalam hatimu, jangan kecil hati. Jangan sesali semua itu. Jangan hilangkan perasaan sabar dalam kalbumu. Sebab, bisa jadi, itu semua adalah sebagai tanda dan simbol bagi orang lain untuk datang padamu, dan mau menolongmu. Sebab, untuk semua hal buruk yang kita pikirkan, akan selalu ada jawaban yang menyejukkan dari-Nya. Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita. Jangan hilangkan harapan itu.
Add a Comment