TAFSIR ZAMAN: UPAYA KONSTRUKSI TAFSIR INTEGRATIF { 2}
BAB IPENDAHULUANA.
LATAR BELAKANG
Perbincangan tafsir dalam konteks metodologis, semakin hari semakin menarik sajadimana para konstruktor, rekonstruktor bahkan dekonstruktor epistemologi dan metodologitampak berlomba mencari sebuah alternatif yang mampu mengakomodasi problematikasosial dari masa ke masa hingga di era modern ini. Tidak hanya itu, para ilmuan Baratdengan orientalisnya juga tuut serta memberi warna_terlepas dari motifasi penyeranganataukah pembelaan atau mungkin saja pelurusan atas desain desain ilmu ilmu keislaman,yang jelas kesemuanya telah memberi pengaruh positif bagi ummat Islam berupa adanyamotifasi pengkajian ulang secara insetntif dan elaboratif dalam upaya menemukan,menjawab, dan meperkenalkan kembali ilmu ilmu Islam yang sejatinya telah ada sejak permulaan al-Quran diturunkan.Islam adalah agama yang amat sangat terbuka denga kondisi apapun dan ramah akandialektika serta kritik. Islam tidak hanya merekonstruksi struktur sosial, sistemkemasyarakatan, sistem moral dan sistem-sistem lainnya yang telah lama disalah gunakan bangsa-bangsa terdahulu, namun Islam juga telah membangun bangunan-bangunan ilmu pengetahuan baik apa yang disebut dengan epistemologi, teori dan istilah-istilah yang kitakenal sekarang ini. Dan hal ini bisa kita rasakan dengan munculnya ribuan disiplin ilmumulai dari al-Quran dan cabang-cabangnya, Tafsir dan cabang-cabangnya, al-Hadits dancabang-cabangnya, Fiqih dan cabang-cabangnya, Tasawwuf dan cabang-cabangnya, Filsafatdan cabang-cabangnya, Logika, Kalam, Tauhid, dan lain lain.Disiplin-disiplin ini berjalan secara evolutif mengikuti perkembangan zaman dimanadisiplin ilmu itu berhadapan dengan kehidupan social. Tampa bermaksud mendesakralisasiilmu, kenyataanya bahwa disiplin ilmu keislaman telah lama berevolusi dengan zamannya.Kita ketahui bagaimana corak ilmu masa kenabian_yang oleh beberapa peneliti ilmu padamasa ini digambarkan dengan puncak peradaban ilmu dan religiutas yang sangat praktis,kemudian lahirlah era Khulafa ar-Rosyidin yang dikenal dengan empat tipologi pemikiran,kemudian lahir lagi dua model pemerintahan yang sangat monumental dengan sistem yang berbeda, begitu selanjutnya sampai era modern dan kontemporer ini. Disiplin ilmu di masingmasing priode ini memiliki corak yang berbeda dan bagai pohon yang memiliki cabang sertaranting-ranting yang semakin hari semakin tumbuh, namun tidak berarti tumbangsebagaimana pohon aslinya.