Dilema Zakat sebagai PAD di Aceh
Jum'at, 11 Maret 2011
Oleh:
Sayed Muhammad Husen
Kisah awal zakat sebagai bagian dari PAD (Pendapatan Asli Daerah) di Aceh, termuat dalamUU Nomor 18/2001 tentang Otsus NAD. Selanjutnya dimuat lagi dalam Pasal 180 UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Ketentuan ini tak dikenal di daerah lain diseluruh Indonesia. Masalah pun muncul. Dalam setiap pemeriksaan BPK atau Inspektorat,zakat sebagai PAD tetap dipersoalkan, apakah ketentuan tersebut telah diimplementasikanoleh Baitul Mal Aceh (BMA) dan Baitul Mal Kabupaten/Kota (BMK) se Aceh.Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) BMA, Prof DR Al Yasa’ Abubakar MA,ketentuan zakat sebagai PAD sebagai “pelengkap” ketentuan zakat dapat mengurangi pajak penghasilan terhutang (Pasal 192 UUPA). Jika zakat telah diakui sebagai pengurang pajak dan itu artinya pendapatan negara/dearah berkurang, maka penyeimbangnya berupa pemasukan dana negara dalam bentuk zakat sebagai PAD.Dalam implementasinya, tentu, bisa memunculkan masalah, sebab zakat sebagai PAD masihharus dikecualikan dari ketentuan keuangan yang ada. Pada satu sisi pengelolaan zakatsebagai syariat Islam harus tetap independen dan mematuhi ketentuan syariat. Zakat harusdisalurkan kepada delapan
asnaf.
Pada sisi lain, harus pula memperhatikan ketentuankeuangan PAD. “Mematuhi” regulasi dan prosesur keuangan daerah.Di antara masalah yang muncul, misalnya kabupatan/kota tertentu diharuskan menender penyaluran dana zakat untuk pembelian becak mesin kepada mustahik (penerima zakat);zakat yang dicairkan dari dari Bendara Umum Daerah (BUD) diperlakukan sebagai danahibah; zakat yang disetor tak bisa ditarik ditarik seruhnya; zakat yang ditarik dari BUD bukandari sumber zakat, tapi sumber lainnya; penarikan zakat mesti menunggu pengesahan APBDyang seringkali terlambat; dan beberapa masalah lainnya.Lebih tragis lagi, karena dianggap tak patuh terhadap ketentuan zakat sebagai PAD, KepalaBMA 2005-2010, Drs H Amrullah, sempat diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Aceh (2010).Beberapa BMK juga secara terburu-buru menyetor zakat sebagai PAD, tanpa menuggu aturanoperasional, misalnya Perbub/Perwalkot tentang Tata Cara Penyetoran dan Penarikan Zakat pada BUD, akibat “tekanan” BPK atau inspektorat.Dalam beberapa kesempatan sosialisasi juga muncul gugatan dari kalangan ulama, mengapazakat harus dicatat dulu sebagai PAD. Apakah dengan begitu, zakat yang suci tak akan bercampur dengan sumber PAD lainnya yang kadang masih syubhat. Bagaimana pula BMAdan BMK mengatur likuiditas zakat, sebab mekanisme pencairan dana zakat yang sangat birokratik. Bahkan, pernah Ketua PW NU Aceh, Tgk H Faisal Ali meminta ketetuan zakatsebagai PAD diamandemen.Sebagai solusi terhadap “kesemrautan” zakat sebagai PAD, maka Pergub Nomor 55/2010tentang Tata Cara Penyotoran dan Pencairan Zakat pada Bendahara Umum Daerah, telahmemberikan beberapa perlakukan khusus, misalnya, zakat dapat dicairkan sebelum APBDdisahkan; zakat yang melebihi target pendapatan dapat ditarik seluruhnya; penarikan zakatmengacu kepada data-data terakhir yang disahkan DPS; sisa zakat tahun lalu dapat ditarik