Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kucing Kehujanan_ Cerpen Ernest Hemingway

Kucing Kehujanan_ Cerpen Ernest Hemingway

Ratings: (0)|Views: 779|Likes:
Published by Irwan Bajang
Sambil iseng belajar melayout dengan Indesign, saya layout saja cerpen-cerpen dunia. Salah satunya saya dapat cerpen bagus karya Ernest Hemingway. Silakan dibaca kalau berkenan.

Sumber isi: http://sastradunia.wordpress.com/
Sambil iseng belajar melayout dengan Indesign, saya layout saja cerpen-cerpen dunia. Salah satunya saya dapat cerpen bagus karya Ernest Hemingway. Silakan dibaca kalau berkenan.

Sumber isi: http://sastradunia.wordpress.com/

More info:

Published by: Irwan Bajang on Nov 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/18/2011

pdf

text

original

 
 Kucing Kehujanan
Cerpen
Ernest Hemingway
| Alih bahasa
Syafruddin Hasani
Sepasang suami-istri Amerika singgah di hotel itu.Mereka tidak mengenal orang-orang yang lalu-lalang danberpapasan sepanjang tangga yang mereka lewatipulang-pergi ke kamar mereka. Kamar mereka terletak dilantai kedua menghadap laut. Juga menghadap ke tamanrakyat dan monumen perang. Ada pohon palmbesar-besar dan pepohonan hijau lainnya di tamanrakyat itu. Dalam cuaca yang baik biasanya ada seorangpelukis bersama papan lukisnya. Para pelukis menyukaipepohonan palm itu dan warna-warna cerah darihotel-hotel yang menghadap ke taman-taman dan laut.Di depan monumen perang tampak iring-iringanwisatawan Italia membentuk barisan membujur untukmenyaksikan monumen itu. Monumen yang tampakkemerahan dan berkilauan di bawah guyuran hujan. Saatitu sedang hujan. Air hujan menetes dari pohon-pohonpalm tadi. Air berkumpul membentuk genangan di jalanberkerikil. Ombak bergulung-gulung membuat garis
 
panjang dan memecah di tepi pantai. Beberapa sepedamotor keluar dari halaman monumen. Di seberanghalaman, pada pintu masuk sebuah kedai minum,berdiri seorang pelayan memandang ke halaman yangkini kosong.Si istri Amerika tadi berdiri di depan jendelamemandang keluar. Di sebelah kanan luar jendelamereka ada seekor kucing yang sedang meringkuk dibawah tetesan air yang jatuh dari sebuah meja hijau.Kucing tadi berusaha menggulung tubuhnya rapat-rapatagar tidak ketetesan air.
“Aku akan turun ke bawah dan mengambil kucingitu,” ujar si istri.
 
“Biar aku yang melakukannya untukmu,” kata
 suaminya dari tempat tidur.
“Tidak, biar aku saja yang mengambilnya
. Kucingmalang itu berusaha mengeringkan tubuhnya di bawah
sebuah meja.”
 Si suami meneruskan bacaannya sambil berbaringbertelekan di atas dua buah bantal pada kaki ranjang.
“Jangan berbasah
-
basah,” ia memperingatkan.
 Si istri turun ke bawah dan si pemilik hotel segeraberdiri memberi hormat kepadanya begitu wanita tadimelewati kantornya. Mejanya terletak jauh di ujungkantor. Ia seorang laki-laki tua dan sangat tinggi.
“Il piove,” 
ujar si istri. Ia menyukai pemilik hotel itu.
“Si, si, Signora, brutto te
mpo
. Cuaca sangat buruk.”
 Ia berdiri di belakang mejanya yang jauh di ujungruangan suram itu. Si istri menyukai pria itu. Ia sukacaranya dalam memberi perhatian kepada para tamu. Iasuka pada penampilan dan sikapnya. Ia suka cara pria
 
tadi dalam melayaninya. Ia suka bagaimana pria itumenetapi profesinya sebagai seorang pemilik hotel. Iapun menyukai ketuaannya, wajahnya yang keras, dankedua belah tangannya yang besar-besar.Dengan memendam perasaan suka kepada pria itu didalam hatinya, si istri membuka pintu dan menengokkeluar. Saat itu hujan semakin deras. Seorang laki-lakiyang memakai mantel karet tanpa lengan menyeberangmelewati halaman kosong tadi menuju ke kedai minum.Kucing itu mestinya ada di sebelah kanan. Mungkinbinatang tadi berjalan di bawah atap-atap. Ketika si istrimasih termangu di pintu masuk sebuah payung terbukadi belakangnya. Ternyata orang itu adalah pelayanwanita yang mengurusi kamar mereka.
“Anda jangan berbasah
-
basah,” wanita itu
tersenyum, berbicara dalam bahasa Itali. Tentu pemilikhotel tadi yang menyuruhnya.Bersama pelayan wanita yang memayunginya si istriberjalan menyusuri jalan berkerikil sampai akhirnya iaberada di bawah jendela kamar mereka. Meja ituterletak di sana, tercuci hijau cerah oleh air hujan, tapikucing tadi sudah lenyap. Tiba-tiba ia merasa kecewa. Sipelayan wanita memandanginya.
“Ha perduto qualque cosa, Signora?” 
 
“Tadi ada seekor kucing,” jawab si istri.
 
“Seekor kucing?”
 
“Si, il gatto.” 
 
“Seekor kucing?” Pelayan wanita tadi tertawa.“Seekor kucing di bawah guyuran hujan?”
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->