P. 1
Konsensus DM Tipe 2 Indonesia 2011

Konsensus DM Tipe 2 Indonesia 2011

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 21,238 |Likes:
Published by Leo Fernando

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: Leo Fernando on Nov 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2014

pdf

text

original

 
KONSENSUS
PENGELOLAANDANPENCEGAHANDIABETESMELITUSTIPE2DIINDONESIA
2011
PERKUMPULANENDOKRINOLOGIINDONESIA
 
1
KonsensusPengelolaandanPencegahanDiabetesMelitusTipe2
I.PENDAHULUAN
B
uku panduan berikut berisikan konsensus pengelolaan danpencegahan bagi penyandang diabetes yang merupakan revisi konsensuspengelolaan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia hasil kesepakatan parapakar DM nasional yang mulai dirintis PB PERKENI sejak pertemuan tahun1993 di Jakarta. Revisi buku konsensus 2010 merupakan revisi bukukonsensus pengelolaan DM yang keempat. Setelah revisi buku konsensuspertama tahun 1998 dan revisi kedua tahun 2002, dilakukan revisi ketigayang diselesaikan tahun 2006. Mengingat sebagian besar penyandangdiabetes adalah kelompok DM tipe 2, konsensus pengelolaan berikutterutama disusun untuk DM tipe 2, sedangkan untuk kelompok DM tipe 1dan pengelolaan diabetes pada kehamilan, dibicarakan dalam bukupanduan tersendiri.Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderunganpeningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjurudunia. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandangdiabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHOmemprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 jutapada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senadadengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009,memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaanangka prevalensi, laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030.Laporan dari hasil penilitian di berbagai daerah di Indonesia yangdilakukan pada dekade 1980-an menunjukkan sebaran prevalensi DM tipe2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan di Manado.Hasil penelitian pada rentang tahun 1980-2000 menunjukkan peningkatanprevalensi yang sangat tajam. Sebagai contoh, pada penelitian di Jakarta(daerah urban), prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 naik menjadi5,7% pada tahun 1993 dan meroket lagi menjadi 12,8% pada tahun 2001.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003,diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebanyak133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM sebesar 14,7% pada daerah urbandan 7,2%, pada daerah rural, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapatsejumlah 8,2 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 5,5 juta didaerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk,diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk yang
 
2
KonsensusPengelolaandanPencegahanDiabetesMelitusTipe2
berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada urban(14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandangdiabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural.Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 olehDepartemen Kesehatan, menunjukkan bahwa prevalensi DM di daerahurban Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensiterkecil terdapat di Propinsi Papua sebesar 1,7%, dan terbesar di PropinsiMaluku Utara dan Kalimanatan Barat yang mencapai 11,1%. Sedangkanprevalensi toleransi glukosa terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% diPropinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi Papua Barat.Data-data di atas menunjukkan bahwa jumlah penyandang diabetesdi Indonesia sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untukdapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis/subspesialis atau bahkan olehsemua tenaga kesehatan yang ada.Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitassumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar,maka semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, sudahseharusnya ikut serta dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalamupaya pencegahan.Pada strategi pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes,peran dokter umum menjadi sangat penting sebagai ujung tombak dipelayanan kesehatan primer,. Kasus DM sederhana tanpa penyulit dapatdikelola dengan tuntas oleh dokter umum di pelayanan kesehatan primer.Penyandang diabetes yang berpotensi mengalami penyulit DM perlusecara periodik dikonsultasikan kepada dokter spesialis penyakit dalamatau dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolisme, dandiabetes di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi di rumah sakitrujukan. Demikian pula penyandang diabetes dengan glukosa darah yangsukar dikendalikan dan penyandang diabetes dengan penyulit. Pasiendapat dikirim kembali kepada dokter pelayanan primer setelah penanganandi rumah sakit rujukan selesai.Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang akandiderita seumur hidup. Dalam pengelolaan penyakit tersebut, selain dokter,perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain, peran pasien dan keluargamenjadi sangat penting. Edukasi kepada pasien dan keluarganya bertujuandengan memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit,pencegahan, penyulit, dan penatalaksanaan DM, akan sangat membantumeningkatkan keikutsertaan keluarga dalam usaha memperbaiki hasil

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->