Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemogokan & Unjuk Rasa-Ega

Pemogokan & Unjuk Rasa-Ega

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,697 |Likes:
Published by api-27351652
pemogokan merupakan realita
pemogokan merupakan realita

More info:

Published by: api-27351652 on Oct 19, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
Pemogokan dan Unjuk RasaElga Andina & Dian Yuniarti
Dipresentasikan pada seminar Psikologi Industri & OrganisasiMaret 2005Fakultas PsikologiUniversitas Airlangga2005
 
Ega & Yeye- Pemogokan & Unjuk Rasa seminar PIO 2005 (1
 
Pendahuluan
Hubungan industrial di Indonesia mulai memasuki fase-fase moderat.Perubahan wacana yang beredar pun mengubah pola pikir pelaku industri,baik pengusaha maupun buruh. Isu-isu pemerataan semakin gencarditeriakkan.Pada era yang serba materialis ini, manusia menginginkan lebih danlebih. Akibatnya setiap tahun terlihat peningkatan jumlah konflik antara buruhdan pengusaha (www.tempointeraktif.com).Dari data Depnaker, sejak tahun 1990 sampai 1999 intensitaspemogokan para pekerja meningkat drastis setiap tahun. Jumlah kasuspemogokan pekerja pada tahun 1990 terjadi 60 kasus. Pada tahun 1991meningkat menjadi 130 kasus. Kemudian tahun 1994 terjadi 296 kasus.Sedangkan tahun 1995 terdapat 276 kasus pemogokan. Terjadi penurunandibanding tahun sebelumnya. Tahun 1996 meningkat kembali menjadi 315kasus, dan kondisi tersebut terus meningkat menjadi 405 kasus tahun 1999lalu. Jadi, rata-rata selama tujuh tahun terakhir terjadi 210 kasus setiaptahunnya dan kecenderungan meningkat sekitar 61 persen.Jika dilihat secara garis besar, unjuk rasa atau pemogokan padadasarnya terjadi karena adanya ganjalan atau ketidakharmonisan hubunganantara pekerja dan pengusaha. Adanya tuntutan yang diajukan pekerja, yangtidak ditanggapi atau tidak dapat dipenuhi oleh pengusaha, seringkalimenimbulkan gejolak dan konflik yang diikuti unjuk rasa dan pemogokan.Menurut Indra Ibrahim (2001) dalam makalah “Pengatasan Unjuk Rasa diIndustri Tekstil” tuntutan para pengunjuk rasa dapat dibagi menjadi duakategori, yaitu tuntutan normatif dan tuntutan non normatif. Mogok kerjaacapkali terjadi, dilakukan pekerja perusahaan swasta. Biasanya hal ituterjadi sebagai bentuk protes keras atas situasi kerja dan permasalahanhubungan kerja dengan pihak perusahaan, yang bukan secara perorangan,tetapi pekerja secara kolektif.Undang-undang Nomor 25 tahun 1997 tentang Tenaga Kerjamenggunakan istilah Perselisihan Industrial, pada pasal 77 menyebutkanalasan mogok kerja karena, pengusaha tidak memenuhi ketentuan yang
Ega & Yeye- Pemogokan & Unjuk Rasa seminar PIO 2005 (2
 
bersifat normatif perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturanperusahaan, atau kesepakatan kerja bersama (perjanjian perburuhan, red), juga perselisihan diluar hal tersebut. Intinya berkaitan dengan kepentinganburuh yang belum terpenuhi secara baik. Lebih jauh Hartono Widodo danJudiantoro (1992 :26) berpendapat perselisihan perburuhan berkaitan dengandua hal, pertama, perselisihan hak seperti tidak dipenuhinya perjanjianperburuhan, dan kedua perselisihan kepentingan, yang berkaitan denganperbedaan pendapat seperti, tuntutan kenaikan gaji.Mengenai hal ini Drs AD Uphadi MS merumuskan beberapa hal yangmenjadi penyebab terjadinya kasus pemogokan. Pertama, didasarkan padaasumsi bahwa di pasar tenaga kerja terjadi penawaran tenaga kerja (
supply
)melebihi permintaan (
demand
). Sehingga pengusaha mempunyai kekuatanuntuk menekan upah (
press- ure
). Dalam kondisi seperti ini, kekuatan tawarmenawar pekerja (
bargainning-power
) tidak ada lagi.Dari kondisi yang tertekan ini akan menimbulkan kesadaran pekerjaakan hak-haknya sehingga timbul dorongan unjuk rasa sebagaipengungkapan kekuatan keberadaannya. Ditambah dengan pengetahuanmereka akan apa yang disebut UMR, buruh sadar dan beranggapan bahwaUMR yang mereka terima belum memenuhi standar. Padahal pengusahamemandang UMR yang belum memenuhi standar tersebut lebih disebabkanterjadinya biaya tinggi dalam produksi, berupa pungutan- pungutan.Di satu sisi alasan ini tampak rasional dan benar sehingga mau takmau biaya tersebut dibebankan kepada ongkos produksi. Naiknya ongkosproduksi akan menyebabkan naiknya harga jual sehingga keuntungan marjin(
margin profit
) cenderung relatif kecil. Secara makro hal ini memperlihatkanbahwa kinerja makro ekonomi terjadi distortif yang eksesnya akanmenimbilkan inefisiensi dalam produksi secara agregat.Untuk meningkatkan efisiensi, maka segala faktor penyebab terjadinyadistorsi harus dipangkas habis yang tidak hanya sebagai gerakan saja tetapiharus benar-benar diimplementasikan. Kondisi yang mengkhawatirkan akibatsering terjadinya unjuk rasa akan dimanfaatkan sebagai isu-isu politik untukmendiskreditkan pemerintaah. Terkadang juga masalah ini dimanfaatkansebagai retorika politik.Kedua, aspek teknologi yang mendorong efisiensi dalam skala produksiyang secara eksplisit akan menekan jumlah penggunaaan tenaga kerja.
Ega & Yeye- Pemogokan & Unjuk Rasa seminar PIO 2005 (3

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
evaolyviantis liked this
Hurip Hidayat liked this
Tresno liked this
Acong Jie liked this
Randy Brahmantyo liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->