bersifat normatif perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturanperusahaan, atau kesepakatan kerja bersama (perjanjian perburuhan, red), juga perselisihan diluar hal tersebut. Intinya berkaitan dengan kepentinganburuh yang belum terpenuhi secara baik. Lebih jauh Hartono Widodo danJudiantoro (1992 :26) berpendapat perselisihan perburuhan berkaitan dengandua hal, pertama, perselisihan hak seperti tidak dipenuhinya perjanjianperburuhan, dan kedua perselisihan kepentingan, yang berkaitan denganperbedaan pendapat seperti, tuntutan kenaikan gaji.Mengenai hal ini Drs AD Uphadi MS merumuskan beberapa hal yangmenjadi penyebab terjadinya kasus pemogokan. Pertama, didasarkan padaasumsi bahwa di pasar tenaga kerja terjadi penawaran tenaga kerja (
supply
)melebihi permintaan (
demand
). Sehingga pengusaha mempunyai kekuatanuntuk menekan upah (
press- ure
). Dalam kondisi seperti ini, kekuatan tawarmenawar pekerja (
bargainning-power
) tidak ada lagi.Dari kondisi yang tertekan ini akan menimbulkan kesadaran pekerjaakan hak-haknya sehingga timbul dorongan unjuk rasa sebagaipengungkapan kekuatan keberadaannya. Ditambah dengan pengetahuanmereka akan apa yang disebut UMR, buruh sadar dan beranggapan bahwaUMR yang mereka terima belum memenuhi standar. Padahal pengusahamemandang UMR yang belum memenuhi standar tersebut lebih disebabkanterjadinya biaya tinggi dalam produksi, berupa pungutan- pungutan.Di satu sisi alasan ini tampak rasional dan benar sehingga mau takmau biaya tersebut dibebankan kepada ongkos produksi. Naiknya ongkosproduksi akan menyebabkan naiknya harga jual sehingga keuntungan marjin(
margin profit
) cenderung relatif kecil. Secara makro hal ini memperlihatkanbahwa kinerja makro ekonomi terjadi distortif yang eksesnya akanmenimbilkan inefisiensi dalam produksi secara agregat.Untuk meningkatkan efisiensi, maka segala faktor penyebab terjadinyadistorsi harus dipangkas habis yang tidak hanya sebagai gerakan saja tetapiharus benar-benar diimplementasikan. Kondisi yang mengkhawatirkan akibatsering terjadinya unjuk rasa akan dimanfaatkan sebagai isu-isu politik untukmendiskreditkan pemerintaah. Terkadang juga masalah ini dimanfaatkansebagai retorika politik.Kedua, aspek teknologi yang mendorong efisiensi dalam skala produksiyang secara eksplisit akan menekan jumlah penggunaaan tenaga kerja.
Ega & Yeye- Pemogokan & Unjuk Rasa seminar PIO 2005 (3