Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cerpen_Kenapa Harus Begini

Cerpen_Kenapa Harus Begini

Ratings: (0)|Views: 6 |Likes:
Published by Maria Azmi
Seperti hari kemarin, hari ini aku masih saja sibuk memilih sekian banyak perlengkapan pernikahan. Mulai dari undangan, gaun, dekorasi hingga sajian untuk para undangan. Maklumlah pernikahanku sudah didepan mata, tepatnya tiga bulan lagi. Huft… pekerjaan yang sedikit banyak agak melelahkan, namun sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Ini adalah salah satu moment yang sangat sakral bagi hidup manusia, tak terkecuali aku. Dan aku tak ingin acara ini berantaka harus begini?
Seperti hari kemarin, hari ini aku masih saja sibuk memilih sekian banyak perlengkapan pernikahan. Mulai dari undangan, gaun, dekorasi hingga sajian untuk para undangan. Maklumlah pernikahanku sudah didepan mata, tepatnya tiga bulan lagi. Huft… pekerjaan yang sedikit banyak agak melelahkan, namun sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Ini adalah salah satu moment yang sangat sakral bagi hidup manusia, tak terkecuali aku. Dan aku tak ingin acara ini berantaka harus begini?

More info:

Published by: Maria Azmi on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2011

pdf

text

original

 
Kenapa harus begini?
oleh: Maria Azmi
Seperti hari kemarin, hari ini aku masih saja sibuk memilih sekian banyak perlengkapan pernikahan. Mulai dari undangan, gaun, dekorasi hingga sajian untuk paraundangan. Maklumlah pernikahanku sudah didepan mata, tepatnya tiga bulan lagi. Huft…pekerjaan yang sedikit banyak agak melelahkan, namun sangat menggembirakan. Bagaimanatidak? Ini adalah salah satu moment yang sangat sakral bagi hidup manusia, tak terkecualiaku. Dan aku tak ingin acara ini berantakan karena ada salah satu yang kurang.Hari ini aku harus segera memutuskan gaun mana yang akan kupilih untuk acara
 preweeding
nantinya. Aku dan calon suamiku dengan segera memilih beberapa contoh yang ada.Bingung dan perdebatan antara kami berduapun masih menghiasi acara kami karena adaperbedaan selera antara kami berdua. Tak lama perhatian kami berpusat pada sepasang gaunputih yang nampak sederhana namun elegan. Kami saling berpandangan dan salingtersenyum simpul.“Sepertinya kita cocok dengan yang ini”, ucap Rizky calon suamiku sambilmemandangku penuh arti.Aku tersenyum lega padanya. Dan alhasil, acara hari ini nampaknya sudah selesai.***Malam ini serasa semakin panjang saja, pikiranku masih saja berpusat pada acarakutadi. Sedikit banyak coba kubayangkan gaun itu menempel ditubuhku. Pasti semua matatertuju hanya padaku. Kupandangi selembar foto liburanku bersama Rizky saat pertama kamimemutuskan untuk memulai suatu hubungan.“Rasanya baru kemarin kita saling berjabat tangan dan semoga kita lebih bahagia lagisetelah ini”, gumanku dengan wajah yang tampak sumringah.“Huh.. rasanya aku sudah tak sabar menanti hari itu tiba”, gumanku lagi sambilmemeluk foto itu.***Waktu seakan berjalan dengan cepatnya, tak terasa acara sakral yang akan segerakami laksanakan sudah didepan mata. Seminggu lagi tepatnya kegiatan tersebut akan digelar.Segala kelengkapanpun sudah siap. Hatiku semakin dag… dig… dug.. enggak karuan.Berharap semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai rencana.***“Selamat pagi calon istriku”, sapa Rizky yang ternyata sudah menungguku sejak tadidiruang tamu.“Pagi juga sayang, apa acara kita hari ini?” tanyaku dengan nada riang sembarimenghampirinya.“Maaf ya sayang, hari ini aku tidak bisa menemanimu mempersiapkan serangkaianacara penting kita. Hari ini aku harus berangkat dinas keluar kota”, ucap Rizky.Sontak aku terkejut, rasanya aku tidak ingin dia pergi. Tapi ini juga penting untuk kelanjutan hidup kami nantinya.“Ya sudah, nanti kamu hati-hati dijalan. Masalah kelengkapan pernikahan kita, nantikita bicarakan lagi setelah kamu pulang”, ucapku dengan nada terbata-bata dan mata berkaca-kaca.“Jangan sedih, aku hanya pergi seminggu dan akan segera kembali untukmu dan acaraistimewa kita.”, ucapnya seraya mencoba menenangkanku.
 
Aku terus saja memandangnya. Berharap dia mengerti aku akan selalu menantikedatangannya itu dan nampaknya dia mengerti. Ia tersenyum simpul sambil memandangwajahku yang nampak sangat sedih.***Sudah hampir seminggu, tapi Rizky tak kunjung pulang. Padahal besok adalah hariyang paling sakral buat kami. Aku terus saja merindukan dan mengkhawatirkannya. Berkali-kali kucoba menghubunginya, namun tak ada satupun jawaban. Akupun semakin gelisah.Pikiranku semakin tidak karuan, kerjaanku hanya mondar mandir saja. Sesekali aku melihatkeluar jendela, tapi dia juga tak kunjung datang.Rasanya waktu hari ini telah habis dengan kegelisahan yang tak kunjung mereda.Kulihat lagi jam ditangan, sepertinya waktupun semakin cepat dan akan berganti hari, tapi dia juga tak kunjung ada dihadapku.“Mungkin besok pagi”, gumanku mencoba menenangkan kegalauan hati dan mencobakembali kamar untuk istirahat.Kucoba merebahkan diri dan memejamkan mata, namun rasanya masih belummengantuk. Kuambil lagi ponsel-ku. Kucoba lagi menghubunginya tapi masih saja tak ada jawaban. Kukirim pesan singkat padanya, berharap dia segera kembali menghubungiku.Malam semakin larut dan pikirankupun semakin kalut. Kuambil foto Rizky diatasmejaku. Kupandangi senyumnya yang nampak kala itu hingga terlelap.***Hari ini hari bahagiaku. Sebelum matahari memancarkan sinarnya, aku sudah bangundan memulai berbagai persiapan. Sepertinya akupun sudah tak sabar mendengar
ijab qobul
 yang akan diucap Rizky.“Wah tampaknya mbak sangat bahagia sekali, saya ucapkan selamat ya mbak”, ucapperias pengantin yang sedang mendandani aku.“Ia mbak… saya sudah menunggu hari ini. Makasih ya mbak”, jawabku dengansenyum sumringah.“Wah cantik sekali putriku ini”, ucap ibuku dari balik pintu sambil memandangwajahku.“Nak, terkadang kenyataan tidak seperti yang kita bayangkan. Kamu harus tabah dansabar menghadapi semua ini. Sabar ya sayang, ibu akan selalu ada disisimu”, ucap ibudengan berlinang air mata.“Maksud ibu apa? Ini kan hari yang sudah aku tunggu. Kenapa ibu menangis? Danmengapa ibu bicara begitu? Apa yang terjadi?” jawabku dengan penuh kegelisahan.“Maafkan ibu nak, ibu tak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi ibu mintapadamu, sekarang kamu ikut ibu kesesuatu tempat.” ucap ibu dengan nada yang semakinlirih.Akupun menggangguk. Dengan segera aku dan ibu pergi ketempat yang ibu maksud.Hatiku gelisah, pikiranku tidak karuan dan persaanku carut marut. Berbagai pertanyaan adadikepalaku tapi tak kutemukan satu jawabanpun atas berbagai pertanyaan tersebut.Kupandangi lagi wajah ibu yang berlinang air mata. Kuingat lagi kata-katanya tadi. Pikirankusemakin kacau.***“Bukannya ini rumah Rizky bu? Kenapa kita kesini? Kenapa tidak bertemu dirumahkita saja, kan acaranya dirumah kita?” tanyaku.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->