Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
15Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PEMIKIRAN GUSDUR-Abdurrahman Wahid Siap Print

PEMIKIRAN GUSDUR-Abdurrahman Wahid Siap Print

Ratings: (0)|Views: 1,248 |Likes:
Published by Heri Kustadi
PEMIKIRAN GUSDUR
PEMIKIRAN GUSDUR

More info:

Published by: Heri Kustadi on Nov 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

 
MAKALAHABDURRAHMAN WAHID, DAN KEUNGGULAN GAGASANMODERNISASINYAMata Kuliah : Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam
Dosen Pengampu : Dr. H. Suaidi Asyari, MA.Ph.D
Oleh :
HAMDINIM. Pp. 210.1.1246
PROGRAM PASCASARJANAKONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAMINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERISULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI2011
1
 
ABDURRAHMAN WAHID, DAN KEUNGGULAN GAGASANMODERNISASINYAA.Pendahuluan
Studi tentang pemikiran Abduurahman Wahid yang lebih dikenal dengansebutan “Gus Dur” merupakan pintu gerbang bagi ”arus balikpenelitian Islam,khususnya Islam yang sering dikategorikan sebagai tradisionalis, dari paradigmamodern mindedness (pengagungan terhadap modernitas) kepada preketieuwmindset riset yang lebih ”menghormati tradisi”. Sejak awal 1950 hingga dekade1970-an, penelitian terhadap Islam Indonesia mengalami bias modernisasi. Adadua agen di sana. Pertama, Muslim modernis yang memang sejak dekade 1930-antelah berseteru dengan Muslim tradisional, sehingga lahirlah NU yang meskipun bukan reaksi atas puritanisme, namun telah lama menyimpan pergulatan panjangdengan komunitas Muslim pengikut Syekh Abduh, semisal SI, Muhammadiyah,al-Irsyad, dan Persis. Puncak seteru tersebut terjadi ketika NU keluar dariMasyumi dan berdiri sebagai partai sendiri pada 1952. Dari sinilah, kajian tentang(politik) NU berjalin kelindan dengan sinisme Masyumi, karena NU dianggapmengkhianati perjuangan Islam melalui koalisi dengan pihak nasionalis.Membicarakan pemikiran Abdurrahman Wahid, tidak bisa terlepas darikenyataan bahwa Ia berada pada posisi
beyond the symbols
1
. Berbagai macamsimbol yang baca ini goblog peran melekat pada dirinya. Hal ini disebabkan oleh pemahaman Abdurrahman Wahid sendiri terhadap realitas sosial yang multidimensi, sehingga tanggapan atas realitas tersebut tidak bisa bersifat monolitik.Secara psikologis, Abdurrahman Wahid besar diantara “tiga dunia”; yakni pertama, dunia pesantren yang penuh dengan ortodoksi, berstruktur hirarkis,feodal dan serba mengedepankan etika formal. Kedua, dunia Timur Tengah yangterbuka dan keras, dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasional dan sekular 
2
.Dari kompleksitas kepribadian inilah, terbentuk perspektif pemikiran dan perhatian yang multi dimensi. Mulai dari revivalisme pesantren, kritik  pragmatisme pembangunan, pembaruan pemikiran agama, pribumisasi Islam, penjagaan budaya, sistem politik demokratis, dsb. Disisi lain berbagai peran yang2
 
 bisa saling berlawanan satu sama lain yakni kyai, ketua ormas tradisional, pemikir liberal-humanis, politisi, aktivis LSM, budayawan, dan Presiden RI, membuatAbdurrahman Wahid tak bisa lepas dari kontradiksi. Contoh, ketika sebagai presiden dari kalangan muslim malah mengusulkan diperbolehkannya lagi ajarankomunisme berkembang, padahal sebagai presiden apalagi muslim, ia seharusnyatetap mengubur ideologi “sesatyang dikutuk kaum muslim dan bersifattraumatik dalam rekaman sejarah orang Indonesia, semuanya terjadi karenaAbdurrahman Wahid selain berperan sebagai presiden-kyai, juga seorang pemikir humanis.Berdasarkan hal di atas, maka dalam makalah ini akan diuraikan mengenaigagasan modernisasi Abdurrahman Wahid.
B. Pembahasan
Dalam
Teologi Politik Gus Du
(2004), Listiyono Santoso menelusuri pemikiran Abdurrahman Wahid dari perspektif paradigma teologinya.Pengambilan angle (sudut pandang) ini merupakan penggambaran pemikirandemokrasi Abdurrahman Wahid ketika berhadapan dengan isu relasi antara agamadan negara. Karena dalam kehidupan demokratisasi terlebih Indonesia, keinginanuntuk menyatukan agama dengan negara pada tataran formal state merupakankegelisahan sepanjang masa, meskipun sejak Proklamasi 1945, Indonesia oleh beberapa
 founding fathers
(termasuk agamawan) sudah final merumuskan bentuk negara Indonesia adalah nation state berdasarkan azas pluralisme Pancasila.Abdurrahman Wahid sendiri menurut Listiyono juga setuju dengan penyatuan agama dengan negara, makanya pemikiran politik Abdurrahman Wahid(dan seluruh
concern
pemikirannya) bersifat teologis. Hanya saja, penyatuanagama dan negara bagi penganut Islam substantif ini tidak bersifat formal, sebabIslam tidak mengenal doktrin tentang negara, tetapi sebagai agama, Islammerupakan landasan keimanan warga negara dan pemberi motivasi spiritualdalam menjalankan negara. Pemikiran Abdurrahman Wahid ini memilikikecenderungan kepada preketieuw sekularisasi politik yang lebih mengartikan3

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
BC Kandangan liked this
Komaru Zaman liked this
izza meliza liked this
Finda Oktavia liked this
Yendra Alyeva liked this
Sopian Manaloe liked this
Dglank Arda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->