TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN
Teori yang pertama ialah teori korespondensi [
Correspondence Theory of Truth
], yang kadang kala disebut
The accordance Theory of Truth
."Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yangdimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakanhalnya/faktanya"Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [
correspondence
] antara arti yang dimaksud oleh suatupernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataanatau faktanya.Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaan benar itudapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta ataukenyataan yang berhubungan dengan preposisi tersebut. Bila diantara keduanyaterdapat kesesuaian (korespondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakanmemenuhi standar kebenaran/keadaan benar.Sebagai contoh dapat dikemukakan : "
Semarang adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah sekarang
" ini adalah sebuah pernyataan; dan apabilakenyataannya memang Semarang adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah,pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari ARIESTOTELES,(384-322 S.M.)dan disebut teori penggambaran yangdefinisinya berbunyi sebagai berikut :“VERITAS EST ADAEQUATIO INTELCTUS ET RHEI”[kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan].Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970).Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.Kritik: Apabila sudah diketahui kenyataan mengapa perlu dibuatperbandingan, padahal kebenaran sedang dimiliki?
TEORI KONSISTENSI/KOHERENSI TENTANG KEBENARAN
Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi.
The Consistence Theory Of Truth, yang sering disebut dengan The coherence Theory Of Truth
Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan(judgement) dengan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atashubungan antara putusan-putusan itu sendiri.
.
Berdasarkan teori ini, kebenaran ditegakkan atas hubungan antaraputusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dandiakui benarnya terlebih dahulu. Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent [saling berhubungan] dengan proposisi yang benar,atau jika arti yang terkandung oleh proposisi tersebut koheren denganpengalaman kita.Contohnya: