Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
43Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian

Ratings:

4.86

(7)
|Views: 5,878 |Likes:
Published by mahfud anshori

More info:

Published by: mahfud anshori on Oct 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

 
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIANA. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis
framing
sebagaimetode.
Framing
bersama semiotik dan analisis wacana beradadalam rumpun analisis isi. Sebagai kelanjutan analisis isikovensional (klasik), analisis
framing
berusaha meninggalkananalisis isi konvensional disebabkan ketidakmampuan membacaurgensi pesan sebagai bagian terpenting dari analisis sosial.Karena itu karakteristik analisis
framing
berada diantara duapendekatan, disatu sisi mempertahankan beberapa pendekatandasar analisis isi dan disisi lain mengembangkan model yangmampu mengungkapkan makna dibalik idiologi atau carapandang
(live word)
media.
1.Konsep
Framing
Berita
Saat pertama kali diperkenalkan oleh Baterson di tahun1995,
framing
dimaknai sebagai struktur konseptual atauperangkat kepercayaan yang mengorganisasi pandangan politik,kebijakan, wacana, serta menyediakan kategori-kategori standaruntuk mengapresiasi realitas. Lebih lanjut Goffman pada tahun1974, mengandaikan
framing
sebagai
strips of behavior 
(kepingan-kepingan perilaku) yang membimbing individumembaca realitas.
1
 Konsep
framing
atau
frame
--- istilah dari ranah psikologi---berangkat dari cara pandang bahwa kontruksi realitas pastibergantung kepada bagaimana cara “sang pemilik ceritamenyampaikannya kepada khalayak. W. A Gamson
2
mengatakan:
1
Agus Sudibyo,
Politik Media dan Pertarungan Wacana
, LKiS,2001,Yogyakarta, hal. 23.
2
 
Ibid 
Agus Sudibyo hal. 221
22
 
“Proses framing berkaitan dengan persoalanbagaimana sebuah realitas dikemas dandisajikan dalam presentasi media. Oleh karenaitu, frame sering diidentifikasi sebagai carabercerita (story line) yang menghadirkankonstruksi makna spesifik tentang objekwacana”.
Kisah Kabayan Pergi ke Kota, tentu akan menjadi kisahmengiris hati bila yang diceritakan adalah tentang bagaimana iatersesat, tidak tahu arah, kecopetan, dan mendapat perlakuanangkuh orang-orang kota. Namun kisah tersebut akan menjadikocak manakala yang diceritakan tentang percekcokan siKabayan dengan penjaga karcis gedung bioskop yangberulangkali menyobek karcisnya ketika hendak menonton filmatau saat masuk sebuah bank dengan semangat berteriak salamdan berjabat tangan dengan nasabah karena dikira sedang adapengajian.Media massa dalam analisis
framing
dipandang sebagaimedia diskusi antara pihak-pihak tertentu dengan idiologi dankepentingan yang berbeda-beda. Mereka berusaha untukmemberi titik tekan kerangka dan prespektif pemikiran tentangsatu objek wacana. Agus Sudibyo mencatat
framing
secaraumum dirumuskan sebagai proses penyeleksian dan penonjolanaspek-aspek tertentu dari realitas yang tergambar dalam tekskomunikasi dengan tujuan aspek tersebut dapat menjadi lebih
noticeable
,
meaningfull
dan
memorable
bagi khalayak.
3
Pada prakteknya
framing
memastikan adanya prioritas isutertentu dengan menghilangkan isu yang lain. Penonjolan inidapat dilacak dari strategi media dalam penempatan berita,
3
 
Ibid.
Agus Sudibyo.
23
 
pengulangan, pemakaian gambar dan grafis, dan labelisasi.
4 
Definisi ini sejalan dengan pendapat Michel Parenti
5
sebagaiberikut :
“Framing is achieved in the way the news ispackaged, the amount of exposure, theplacement (front page of back, lead story orlast), the tone of presentation (sympathetic orslighting), the accompanying headlines andvisual effects, and labelling and vocabulary. Justshort of lying, the media can mislead us in avariety of ways, telling us what to think abaouta story before we have had a change to thinkabout ourselves”.
Pola penonjolan semacam itu dipandang bukan hanyasebagai bias media, namun lebih menukik pada level idiologismedia menyajikan wacana.Proses
framing
menuntut kompleksitas prespektif multidispliner untuk menganalisis fenomena dan aktivitaskomunikasi.
6
Paktek analisis memungkinkan disertakannyakonsep-konsep sosiologis, politik, dan kultural untuk menganalisfenomena-fenoma komunikasi sehingga suatu fenomena dapatbenar-benar dipahami dan diapresiasi berdasarkan kontekssosiologis, politis atau kultural yang melingkupinya. Dalamkonteks ini, teori kritis memberi arahan lapangan kerja (
fieldwork direction
) guna memberi fokus pada kerangka proses
framing
itusendiri.
2.Tekni
Framing
Berita
4
Alex Shobur,
 Analisis Teks Media,
Remaja Rosda Karya, Bandung, 2001 hal.164.
5
 
Op. Cit.
Agus Sudibyo hal. 222
6
 
Op.Cit.
Alex Shobur hal.177.
24

Activity (43)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Pujar Wanto liked this
kurocaki9 liked this
Melan Windboy liked this
Eko Setiawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->