Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pendidikan

pendidikan

Ratings: (0)|Views: 412|Likes:
Published by Haji Suteja
Locke vs. al-Ghazali
Locke vs. al-Ghazali

More info:

Published by: Haji Suteja on Dec 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/23/2012

pdf

text

original

 
KONSEP DIRI PEZIARAH KUBUR MAKAM SUNAN GUNUNG JATI CIREBONOLEH:SUTEJA (DOSEN IAIN SYEKH NURJATI CIREBON)BAB IPENDAHULUANA. Konteks PenelitianAura sakral terasa di komplek Astana Sunan Gunung Jati Cirebon. Ucapan doa dan dzikir keluar tak henti-henti dari mulut para peziarah. Sebagian yang lain membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Kesucian semakin bertambah manakala sejumlah peziarahyang sedang mengalami ekstase dalam kondisi dzikrullah dengan ayunan kepala dantubuh seraya menyebut keesaan dan kebesaran Tuhan. Seorang ibu yang kulit mukanya mulai mengeriput, terus meneteskan air mata, tak sedikit di antara mereka, terus memilin butir-butir tasbih di tangan kanannya seraya memejamkan mata demi menjaga kekhusyukan.Tiap hari, ratusan peziarah berdatangan. Mereka datang tidak hanya dari wilayahIII Cirebon, peziarah juga datang dari daerah lain di Jawa dan luar Jawa. Seringpula terlihat peziarah mancanegara, seperti peziarah dari Cina. Peziarah dari Cina, biasanya datang untuk nyekar ke makam Putri Nio Ong Tien, Putri Kaisar HongGie dari Dinasti Ming yang diyakini sebagai salah satu istri Sunan Gunung Jati.Mereka membakar hio dan melakukan persembahyangan sesuai tradisi agamanya.Dalam waktu-waktu tertentu, peziarah yang datang ke komplek Astana sangatlah banyak jumlahnya. Menariknya, siklus itu berjalan secara periodik setiap tahun, seperti di bulan Syawal, Maulid atau 1 Muharram, atau setiap malam Jum’at biasa maupun Jum’at Kliwon. Para pengamat dan peneliti akan terheran-heran melihat ratusan bahkan sampai ribuan orang datang untuk melakukan ziarah, sehingga komplek Astanadipenuhi oleh peziarah yang datang secara bergantian. Semua peziarah yang datangmemiliki berbagai tujuan dan motivasi, mulai dari yang sifatnya sederhana seperti hanya berwisata melihat bangunan arsitektur yang unik dan benda-benda purbakala, sampai dengan yang memiliki keinginan-keinginan yang berat, seperti peziarahyang sedang menghadapi persoalan dalam hidup, usahanya bangkrut atau ingin naikpangkat, mendapat jodoh dan sebagainya. Mereka yang datang berziarah ke komplekAstana Sunan Gunung Jati ingin memperoleh barokah (ngalap berkah) dari karomahatau kemuliaan sang sunan dan para luluhur Cirebon yang dikuburkan di komplek Astana Sunan Gunung Jati.Bagi peziarah, makam para wali khususnya diyakini memiliki karomah atau nilai kekeramatan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa, karena kepribadian para wali semasa hidupnya yang mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam. Karena nilai kekeramatan itulah makam-makam tersebut dipercaya dapat mempermudah terkabulnya doa yang dipanjatkan. Begitu juga dengan makam Sunan Gunung Jati yang dipercaya memiliki derajat karomah yang sangat tinggi. Pertautan masa yang teramat jauh berabad-abad lamanya antara Sunan Gunung Jatidengan peziarah khususnya bukanlah masalah yang akan mengurangi keyakinan. Mereka berkeyakinan bahwa peninggalan sang wali bisa digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dalam rangka mengharapkan ‘berkah dan karomah’. Salah satunya adalah dengan cara ziarah mengunjungi makam dan peninggalan beliau.Ziarah adalah sebuah fenomena yang selalu disaksikan oleh manusia sepanjang sejarah anak Adam. Ziarah tidak terbatas hanya pada masyarakat muslim atau umat beragama lainnya. Akan tetapi menjadi perhatian berbagai macam masyarakat dengan berbagai kecenderungan pikirannya. Melakukan ziarah adalah tindakan yang disengajaoleh setiap pelakunya. Orang yang melakukan ziarah disebut peziarah. Mereka adalah salah satu “aktor kehidupan” yang memerankan sebuah panggung drama kehidupan, yang memiliki hasrat, harapan dan kehidupan yang unik. Mereka menciptakan dunia dan
 
struktur sosialnya sendiri, termasuk dunia simbolnya.Berbagai kajian dapat digunakan untuk mengungkap fenomena peziarah. Salah satunya adalah dengan kajian disiplin ilmu komunikasi. Setiap praktek komunikasi padadasarnya adalah suatu representasi budaya. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas yang tak terpisahkan, sebagaimana yang dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya” (Mulyana, 2005:14). Budaya dan komunikasi mempunyai hubungan yang timbal balik. Diskursus tentang komunikasi, tidak dapat terhindar dari diskursus budaya.Ziarah dan peziarahnya merupakan suatu kehidupan yang unik dan merupakan subkultur budaya yang khas. Fenomena sosial tersebut dapat ditinjau dari proses interaksi simbolik di antara mereka. Pendekatan interaksi simbolik sebagai suatu pendekatan komunikasi dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana peziarah berinterkasi dengan sesama peziarah, dengan para kuncen (juru kunci makam) dan mungkin berinteraksi dengan “yang ada di dalam kubur”. Pendekatan interaksi simbolik tidak hanyamenganalisis kehadiran manusia di antara sesamanya, tetapi juga motif, sikap, juga nilai yang mereka anut.Seperti komunitas lainnya, para peziarah di komplek Astana Sunan Gunung Jati mempunyai budaya tersendiri yang meliputi seluruh perangkat nilai dan perilaku mereka yang unik. Mereka menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisatampil sebagai sebuah komunitas. Pada panggung inilah, mereka keluar dari panggung kehidupan sebenarnya yang dijalani sehari-hari. Panggung-panggung ini berkemampuan menjadi pemompa semangat (motivasi), pemberi solusi pada masalah yang sedang dihadapi (to solve the problems), dan memberikan sedikit pelepas dahaga sertamenjadi pegangan dalam menjalani peran di panggung kehidupan yang sebenarnya yakni kehidupan sehari-hari. Bagaikan seorang aktor, mereka menunjukkan atribut mereka melalui bahasa verbal, maupun nonverbal, busana, pembawaan diri, pernik atau aksesoris dan alat atau simbol-simbol lainnya.Ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon adalah sebuah tradisi yang masuk kedalam budaya keagamaan umat Islam khususnya. Para paziarah yang datang untuk melakukan aktivitas tahlilan, dizkrullah ataupun memanjatkan doa kepada Allah SWT, latar belakang kehidupan mereka sangat beragam dari mulai kelas petani, nelayan, pedagang, pengusaha, karyawan swasta, PNS, TNI, POLRI, Presiden/Wakil Presiden, dan bahkan para kyai dan ulama. Mereka datang dengan berbagai kepentingan (motivasi atau niat) yang hanya dapat dipahami dari ungkapan-ungkapan atau bahasa verbalmaupun nonverbalnya.B. Fokus KajianBerdasarkan uraian di atas, maka studi ini akan difokuskan untuk menelaah perilaku dan mengungkap alasan atau motivasi apa yang mendorong peziarah melakukan ziarah.C. Pertanyaan Penelitian1. Bagaimana proses ritual ziarah di Astana Gunung Jati Cirebon?1. Bagaimana konsep diri peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon?2. Apa motif peziarah melakukan ziarah ke Astana Gunung Jati Cirebon?D. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang :1. Proses ritual ziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.2. Konsep diri peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.3. Motif peziarah di Astana Gunung Jati Cirebon.E. Kegunaan Penelitian
 
Kegunaan penelitian ini dapat dilihat dari sisi teoritis dan praktis, antara lain adalah:1. Kegunaan Teoritis* Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi kajian Ilmu Komunikasidalam kaitannya dengan pemahaman tentang konsep-diri peziarah.* Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan pengetahuan bagi peneliti khususnya dan para mahasiswa lain pada umumnya mengenai apa, mengapa, dan bagaimana peziarah melakukan ritual ziarah di komplek Astana Gunung Jati, khususnya konsep diri dan motivasi dari peziarah.* Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat pengetahuan bagi masyarakat Cirebon khususnya dan bangsa Indonesia umumnya mengenai konsep-diri peziarah. Jugasebagai perangsang untuk lebih memahami kekayaan dan seluk beluk tradisi di Indonesia.* Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Departemen Pariwisata danKebudayaan Cirebon dalam upaya membuat program alternatif di bidang kebudayaansehingga dapat mendukung terlestarikannya kebudayaan tradisional yang ada di Cirebon.* Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Departemen Pariwisata danKebudayaan Cirebon sehingga bisa membuat rencana atau program untuk mengembangkan potensi wisata ziarah di Cirebon.1. Kegunaan PraktisE. Kerangka PemikiranKerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini dadasarkan pada pendekatan interaksi simbolik, khususnya gagasan-gagasan yang diungkapkan oleh George Herbert Mead dan Erving Goffman. Teori-teori dari kedua tokoh tersebut dapat dianggap sebagai teori yang saling melengkapi. Interaksi simbolik mengandung inti dasar pemikiran umum tentang komunikasi dan masyarakat (Littlejohn, 1997:271).Interaksi simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham inimenolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama (Mulyana, 2008:61).Teori interaksi simbolik berusaha memahami manusia sebagai subjek utama dalam percaturan sosial, meletakkan manusia sebagai pelaku aktif dan proaktif. Pada dasarnya teori interaksi simbolik mengetangahkan soal “diri” (self) dengan segala atribut dunia luarnya. Cooley menyebutnya dengan the looking-glass self. Cooley berpendapat bahwa konsep-diri individu secara signifikan ditentukan oleh apa yang ia pikirkan tentang pikiran orang lain mengenai dirinya, jadi menekankan pentingnyarespons orang lain yang ditafsirkan secara subjektif sebagai sumber primer datamengenai diri. Ringkasnya, apa yang diinternalisasikan sebagai milik individu berasal dari informasi yang ia terima dari orang lain (Mulyana, 2008:74). Artinya,interaksi manusia selalu dipenuhi dengan simbol-simbol, baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan diri sendiri. Diri tidak terisolasi, melainkan bersifat sosial. Dengan demikian teori interaksi simbolik memandang dan memperlakukan manusia sebagai diri sendiri sekaligus diri yang bersifat sosial.Interaksi simbolik telah mengilhami lahirnya perspektif-perspektif lain, seperti

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->