Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
asam oksalat

asam oksalat

Ratings: (0)|Views: 199|Likes:
Published by Aya Risma

More info:

Published by: Aya Risma on Dec 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/08/2013

pdf

text

original

 
 
69
Pengaruh Asam Oksalat, Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan KTanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit
 Effect of Oxalic Acid, Na
+
 , NH 
4+
 , and Fe
3+
on Availability of Soil K,Plant N, P, and K Uptake, and Maize Yield in Smectitic Soils
D.
 
N
URSYAMSI
1
,
 
K.
 
I
DRIS
2
,
 
S.
 
S
ABIHAM
3
,
 
D.A.
 
R
ACHIM
3
,
DAN
A.
 
S
OFYAN
4
ABSTRAK
Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektitmempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkanmenjadi lahan pertanian, asal disertai dengan pengelolaan tanahdan tanaman yang tepat. Walaupun kadar K total tanah tinggi,tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah,karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. Penelitian yangbertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat,Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
terhadap ketersediaan K tanah, serapan N,P, dan K, serta produksi tanaman jagung (
 Zea mays
, L.) padatanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telahdilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan RumahKaca Balai Penelitian Tanah, Bogor. Percobaan menggunakanempat contoh tanah
bulk
yang diambil dari Bogor (HapludalfTipik), Cilacap (Endoaquert Kromik), Ngawi (Endoaquert Tipik),dan Blora (Haplustalf Tipik). Percobaan inkubasi di laboratoriumdan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalamRancangan Acak Kelompok, ulangan tiga kali, dan percobaan potmenggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanamanindikator. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat, yaitu: 0,1.000, 2.000, dan 4.000 ppm, sedangkan faktor kedua adalahpenambahan kation, yaitu: tanpa kation, Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
 masing-masing dari NaCl, NH
4
Cl, dan FeCl
3
dengan takaran 50% jerapan maksimum. Takaran Fe
3+
50% jerapan maksimummenyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang dimusim berikutnya dengan takaran Fe
3+
: 0, 125, 250, 375, dan500 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat,Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
nyata meningkatkan K tersedia baik diAlfisols maupun Vertisols, dimana pengaruhnya di Vertisols lebihtinggi dibandingkan Alfisols. Tingkat kekuatan perlakuan dalammelepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalahFe
3+
> NH
4+
> Na
+
> asam oksalat. Asam oksalat nyatameningkatkan serapan N, P dan K tanaman di Vertisols,sedangkan Fe
3+
takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan Ktanaman di Alfisols serta N, P, dan K tanaman di Vertisols. Asamoksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagungumur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik danEndoaquert Tipik, sedangkan Fe
3+
takaran 125 ppm nyatameningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromikdan Endoaquert Tipik.
Kata kunci : Asam oksalat, Na
+
 , NH 
4+
 , Fe
3+
 , K tersedia, Jagung,Tanah yang didominasi smektit 
ABSTRACT
Smectitic soils have high prospect to be developed foragricultural land under a proper soil and plant management. Thesoils are commonly high in total K content. It’s availability forplant growth, however, is relatively low due to fixation bysmectite in interlayer space. Researches aimed to study theeffect of oxalic acid, Na
+
, NH
4+
, and Fe
3+
on availability of soilK, plant N, P, and K uptake, as well as maize yield in smectiticsoils have been conducted in Laboratory of Research and SoilTest and Green House of Indonesian Soil Research Institute,Bogor. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor(Typic Hapludalfs), Cilacap (Chromic Endoaquerts), Ngawi (TypicEndoaquerts), and Blora (Typic Haplustalfs) were used forexperiments. Incubation and pot experiments were set up usingFactorial Randomized Completely Block Design with threereplication and pot experiment used maize of Pioneer 21 varietyas plant indicator. The first factor was oxalic acid rates: 0;1,000; 2,000; and 4,000 ppm, while the second one wasapplication of cations: without cation, Na
+
, NH
4+
, and Fe
3+
fromNaCl, NH
4
Cl, and FeCl
3
respectively with 50% of maximumadsorption rate. The Fe
3+
with 50% of maximum adsorption ratecaused plant death, thus the experiment was repeated in the nextseason with Fe
3+
rates: 0, 125, 250, 375, and 500 ppm. Theresults showed that oxalic acid, Na
+
, NH
4+
, and Fe
3+
 significantly increased the availability of soil K in both Alfisolsand Vertisols where the effect was higher in Vertisols thanAlfisols. The effectiveness of the treatments to release K fromnon available to available K form in the soils was in order of Fe
3+
 > NH
4+
> Na
+
> oxalic acid. Oxalic acid significantly increasedplant N, P, and K uptake in Vertisols, while 125 ppm of Fe
3+
 significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N, P,and K uptake in Vertisols. Oxalic acid significantly increased 4-week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs andTypic Endoaquerts, while 125 ppm of Fe
3+
significantly increasedthe yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts.
Key words : Oxalic acid, Na
+
 , NH 
4+
 , Fe
3+
 , Soil available K,Maize, Smectitic soils.
PENDAHULUAN
Kalium merupakan hara makro yangdibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah Ndan P. Umumnya kalium diserap tanaman dalam
1.
 
Peneliti pada Balai Penelitian Tanah, Bogor.2.
 
Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,IPB, Bogor.3.
 
Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,IPB, Bogor.4.
 
Direktur Perluasan Areal, Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air,Departemen Pertanian.
ISSN 1410 – 7244
 
J
URNAL
T
ANAH DAN
I
KLIM
N
O
.
 
28/2008
70bentuk K larut (
soluble K 
) yang berada dalam reaksikeseimbangan dengan K dapat dipertukarkan(
exchangeable K 
) dan K tidak dapat dipertukarkan(
non-exchangeable K 
). Kalium tidak dapatdipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural
 
(Kirkman
et al 
., 1994). Bentuk K larut dan dapatdipertukarkan merupakan bentuk K yang cepattersedia sehingga sering disebut sebagai K tersediaatau K aktual. Sementara itu bentuk K tidak dapatdipertukarkan merupakan bentuk K yang lambattersedia sehingga disebut sebagai K potensial.Tanaman akan mengalami kekahatan apabila Kaktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebihrendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkantanaman untuk pertumbuhannya).Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantungaspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat, kapasitas tukar kation,daya sangga, kelembaban, suhu, aerasi dan pHtanah (Havlin
et al 
., 1999). Selain faktor tanah daniklim, spesies dan varietas tanaman jugaberpengaruh terhadap serapan K, dimana tanamanyang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dansebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. Salah satu mekanisme ketoleranantanaman terhadap kekurangan hara adalah dengancara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitarakar (
rhizosphere
). Selanjutnya asam organik dapatmelarutkan hara (P, K, Fe, Mn, dan lain-lain) yangsebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagitanaman (Marschner, 1997). Dengan demikian makapengelolaan hara K untuk meningkatkan produksitanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebutdi atas.Tanah-tanah yang didominasi mineral liatsmektit mempunyai prospek yang cukup besar untukdikembangkan menjadi lahan pertanian tanamanpangan asal disertai dengan pengelolaan tanamandan tanah yang tepat. Tanah-tanah tersebutmempunyai penyebaran yang cukup luas di tanahair, yaitu lebih dari 2,12 juta ha (Vertisols sekitar2,12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols danAlfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar,Jateng, dan Jatim), Sulawesi (Sulsel, Sulteng, danGorontalo), dan Nusa Tenggara (Lombok) (PusatPenelitian Tanah dan Agroklimat, 2000).Walaupun kadar K total tanah (K potensial)tinggi, tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual)sering menjadi masalah karena K difiksasi olehmineral liat tipe 2:1, seperti dari golongan smektit(Borchardt, 1989) dan vermikulit (Douglas, 1989)yang dominan di tanah tersebut. Penelitian yangdilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanah-tanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (
K-fixing capacity 
) dan daya sangga terhadap K (PBC
K
)yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre, 1987).Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upayauntuk mengatasi fiksasi K tanah sehinggaketersediaannya bagi tanaman meningkat.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asamorganik dan sejumlah kation (NH
4+
, Na
+
, dan lain-lain) mempunyai peranan yang sangat penting dalammeningkatkan ketersediaan K tanah. Asam oksalatdan sitrat dapat melepaskan K tidak dapatdipertukarkan (K
tdd
) menjadi K dapat dipertukarkan(K
dd
) dan K larut (K
l
) pada tanah-tanah yangberbahan induk batu kapur, dimana asam oksalatmempunyai efektivitas yang lebih tinggidibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo,1993). Song and Huang (1988) juga melaporkanbahwa K
tdd
dari struktur mineral yang mengandung K(biotit, muskovit, mikroklin, dan ortoklas) dapatdilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat.Beberapa kation seperti Ca
2+
dan Na
+
dapatmenggantikan posisi K di dalam struktur mineralmuskovit akibat pelapukan (Shidu, 1987). Selain ituNH
4+
dan K
+
dapat berkompetisi dalam menempatikompleks jerapan di posisi
inner 
dari ruang antarlapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou andLumbanraja, 2002; Kilic
et al 
., 1999). Kompetisitersebut sering terjadi terutama di tanah yangdidominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut,seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa, 1987). Selainitu Na
+
dari
sodium tetraphenyl boron
dapatmelepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanahmerah (Alfisols), hitam (Vertisols), dan aluvial(Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon, 1992).
 
D.
 
N
URSYAMSI
ET AL
.
 
:
 
P
ENGARUH
A
SAM
O
KSALAT
,
 
N
A
+
,
 
NH
4+
,
DAN
F
E
3+
TERHADAP
K
ETERSEDIAAN
K
 
T
ANAH
,
 
S
ERAPAN
N,
 
P,
DAN
K
 
T
ANAMAN
 
71Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebu-tuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols dilahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail, 1997).Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitianini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberianasam oksalat, Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
terhadapketersediaan K tanah, serapan N, P, dan K, sertaproduksi tanaman jagung (
 Zea mays
, L.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit.
BAHAN DAN METODE
Percobaan dilaksanakan di LaboratoriumPenelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca, BalaiPenelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empatcontoh tanah
bulk
yang diambil dari Bogor (B1),Cilacap (B2), Ngawi (B3), dan Blora (B4).Pengambilan contoh tanah
bulk
mempertimbangkan:bahan induk tanah, iklim, kadar K
dd
dan mineral liatsmektit tanah. Hasil klasifikasi tanah berdasarkandeskripsi profil tanah di empat lokasi tersebutdisajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisispendahuluan keempat contoh tanah tersebutdisajikan pada Tabel 2. Sifat-sifat kimia danmineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan olehNursyamsi
et al 
. (2007). Selanjutnya penelitiandilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan, yaitupercobaan inkubasi di laboratorium dan percobaanpot di rumah kaca.
Percobaan inkubasi di laboratorium
Percobaan menggunakan Rancangan AcakKelompok Faktorial. Faktor pertama adalah takaranasam oksalat, yaitu: 0, 1.000, 2.000, dan 4.000ppm. Faktor kedua adalah penambahan kation,yaitu: tanpa kation, Na
+
, NH
4+
, dan Fe
3+
masing-masing dalam bentuk NaCl, NH
4
Cl, dan FeCl
3
 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3).Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali.Bahan tanah dikering-udarakan, ditumbuk,diayak dengan saringan 2 mm, lalu dimasukan kedalam pot sebanyak 1 kg pot
-1
bobot kering mutlak(BKM). Semua pupuk diberikan dalam bentuklarutan, lalu tanah diaduk hingga homogen. Tanahdiinkubasi selama 12 minggu dan kadar airdipertahankan dalam kondisi kapasitas lapangdengan cara menambahkan air bebas ion seminggudua kali. Selanjutnya contoh tanah diaduk hinggahomogen setiap minggu.Setelah inkubasi mencapai 12 minggu, contohtanah diambil sekitar 250 gram, dikeringudarakan,digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. Bentuk-bentuk K yang meliputi: K
l
, K
dd
, K
tdd
, K
t
ditetapkandengan metode yang diuraikan oleh Helmke danSparks (1996); Knudsen
et al 
. (1982); dan Wooddan DeTurk (1940). Tahapannya adalah sebagaiberikut :
Tabel 1. Klasifikasi tanah di daerah penelitian
Table 1. Soil classification of site experiments
Kode
 
Lokasi
 
Bahan induk
 
Zone agroklimat
*)
 
Klasifikasi tanah
 
B1 Bogor Batu kapur B1 Hapludalf Tipik, halus, smektitik, isohipertermikB2 Cilacap Sedimen liat berkapur B1 Endoaquert Kromik, sangat halus, berkapur,smektitik, isohipertermikB3 Ngawi Sedimen liat berkapur C3 Endoaquert Tipik, sangat halus, berkapur,smektitik, isohipertermikB4 Blora Batu kapur C2 Haplustalf Tipik, halus, berkapur, campuran, semiaktif, isohipertermik*) Oldeman (1975)

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->