Seorang anak dan seorang dewasa. Apa bedanya?
Banyak, tentu saja. Anatomi tu
b
uh
dan faalnya
berbeda. Sehingga ahli-ahli pediatri selalu
m
enekankan jangan menganggap anak itu seorang dewasa
dalam bentuk mini. Bayi akan dicium bila mengompol, dan untuk hal yang sama sekretaris akan
dipecat. Kita tertawa geli melihat anak-anak yang berlari-larian telanjang kaki dan badan; bila ya
n
g
melakukannya orang dewasa kita akan memanggil polisi atau Hansip.
Kita kenal beraneka pe
nggolongan dalam masyarakat. Wanita dibedakan dari kaum
pria. Buruh
mengelompokkan diri terpisah dari kaum majikan. Golongan
b
erdasarkan agama, suku, profesi
.
subprofesi, dan sebagainya. Di samping semua itu ada golongan anak-anak dan orang dewas
a
Apakah yang paling unik yang
terdapat pada golongan anak-anak, dan tidak terdapat pad
a berbagai
jenis golongan lain?
Jawabnya sederhana: tiadanya hak untuk membela kepentingannya sendi
ri
Bedakan dengan golongan
berdasarkan jenis seks, agama, suku, profesi dsb tadi! Apakah karena
kodrat seorang anak yang tergantung pada orang tua atau walinya menghapuskan hak tadi? Entah
lah.
Yang jelas, telah terjadi perlakuan distriminatif terhadap golongan lemah ini. Dalam CDK
No.25
yl
dr. Sutan Assin telah menyinggung bagaimana
produsen obat
menghindari kesulitan-kesulitan
dalam uji klinik pada anak dengan mencantumkan kalimat "tidak dianjurkan untuk anak-anak"
dalam
pamflet obat mereka. Kita kenal pula perlakuan diskriminatif seperti:
pembenaran pemukulan
penganiayaan oleh o
rang
tua terhadap anaknya, sering demi "kasih
sayangnya." Penganiayaan
anak (child abuse) ini m
enjadi masalah yang peka di Amerika
Seri
kat, karena tidak jarangmengakibatkan cacat/kematian.Sehingga ada sanksi bagi dokter yan
g
tidak melaporkan kecurigaan akan penganiayaan anak. (Entah
karena perbedaan sosio-buday
a,
entah karena tiadanya laporan, masalah ini hampir tak pernah dibicarakan di Indonesia)
pengesahan pemukulan murid sebagai cara mengajar
pelarangan terhadap anak-anak untuk mengunjungi rumah sakit.
Karena tak bisa membela haknya, entah berapa banyak anak telah dikateter hanya demi
ujian
mahasiswa. Belum
yang ditusuk jarinya. Tahun Internasional Anak-anak telah berlalu. Lewat pul
a
masa b
u
lanmadu. Semua kembali pada pekerjaan rutin. Tinggal anak-anak itu yang menantikan
masa depan dan hak-haknya yang lebih baik.
Siapa yang mau memikirkannya?
---