BAB IPENDAHULUANA.
Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, perspektif lama mengenai proses belajar-mengajarmasih saja belum bisa ditinggalkan. Banyak pendidik yang masih berkiblat padaasumsi tabula rasa John Locke. Locke mengatakan bahwa pikiran seorang anak adalah seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan-coretangurunya. Begitu kuatnya doktrin dari asumsi ini, sehingga tak jarang pembelajaranmenjadi bersifat
teacher centered
yang menjadikan siswa sebagai penerimapengetahuan yang pasif.Seiring dengan berkembangnya zaman, tuntutan dalam dunia pendidikan punsudah banyak berubah. Paradigma lama mengenai pendidikan sudah harusditinggalkan untuk kemudian beralih pada perspektif baru dunia pendidikan dimanakegiatan belajar mengajar didasarkan pada beberapa pokok pemikiran sebagaiberikut:1.
Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa,2.
Siswa membangun pengetahuan secara aktif,3.
Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswasehingga kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan pada proses daripadahasil, dan4.
Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara gurudan siswa.Menurut Lie (2002: 11), siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisidengan muatan-muatan informasi apapun yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu,alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga salingmengajar dengan sesama siswa lainnya. Bahkan penelitian menunjukkan bahwapengajaran oleh rekan sebaya
(peer teaching)
ternyata lebih efektif daripadapengajaran oleh guru. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstrukturdisebut sebagai sistem
cooperative learning
. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator.Falsafah yang mendasari model pembelajaran
Cooperative learning
adalahkesadaran bahwa manusia merupakan mahluk sosial. Namun sayangnya, kebanyakanpengajar enggan untuk menerapkan sistem kerjasama di dalam kelas dengan