Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
JURNAL 2

JURNAL 2

Ratings: (0)|Views: 629|Likes:
Published by Imaa Hussna Calmly
VISUAL THINKING DALAM MEMAKSIMALKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA DAPAT MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
VISUAL THINKING DALAM MEMAKSIMALKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA DAPAT MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

More info:

Published by: Imaa Hussna Calmly on Dec 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/06/2012

pdf

text

original

 
VISUAL THINKING 
DALAM MEMAKSIMALKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWADAPAT MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
Oleh :Edy Surya
(Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Unimed)
Abstrak
Kemampuan untuk memecahkan masalah adalah jantung matematika, visualisasi merupakan intipemecahan masalah matematika. Visualisasi adalah kemampuan untuk melihat dan memahami situasimasalah. Pada dasarnya siswa sangat membutuhkan pembelajaran yang menarik, inovatif, danmenyenangkan.Guru dapat berimprovisasi. Kesulitan yang dialami siswa dalam belajar matematika danrendahnya hasil yang diperoleh dapat disebabkan karena metode pembelajaran tidak sesuai denganmateri ajar dan kemampuan peserta didik. Pembelajaran yang memaksimalkan pemikiran siswa dapatmembangun karakter positif.
Kata kunci : visual thinking, pembelajaran matematika, karakter bangsa 
 
I.
 
Pendahuluan 
Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikanmenengah. Selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah pentingkarena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam prosesbelajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuaidengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Sampai saat ini masih banyak ditemuikesulitan siswa untuk mempelajari dan masih rendahnya hasil belajar matematika.Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa, salah satunya adalah kurangnya minatsiswa menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Khususnya bidang studi matematika yang dianggap palingsulit, sesuai dengan pernyataan Abdurrahman (1999:252) bahwa : ” Dari berbagai bidang studi yang diajarkan disekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang tidakberkesulitan belajar dan lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar ”.Untuk menunjukkan bahwa siswa menguasai matematika ditandai dengan proses pembelajaran dan hasilbelajar matematika yang baik. Salah satu yang menyebabkan hasil belajar yang baik adalah guru harusmempunyai strategi pembelajaran yang tepat seperti dinyatakan oleh Soejadi (dalam Zuhrinurwati, 2005:5)bahwa :Betapapun tepat dan benarnya bahan ajar matematika yang telah ditetapkan belum menjamin tercapainyatujuan pendidikan, dan salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan itu adalah proses pembelajaranyang lebih menekankan pada keterlibatan siswa secara optimal. Sehingga model pembelajaran bukansemata-mata hanya menyangkut kegiatan guru mengajar, akan tetapi juga menitik beratkan pada aktifitasbelajar siswa, serta tidak hanya membuat guru aktif memberikan penjelasan saja, tetapi juga membantu siswa jika ada kesulitan dalam belajar, membimbing diskusi agar dapat membantu membuat kesimpulan yangbenar. Diharapkan pembelajaran yang dilakukan dapat menumbuhkan nilai-nilai luhur bangsa seperti kreativitas(munculnya ide), kejujuran, percaya diri, tolong menolong, saling harga menghargai, dan lain-lain.Permasalahan : Bagaimana
visual thinking 
dalam memaksimalkan pembelajaran matematika siswa di sekolahdapat membangun karakter bangsa. Bagaimana peran guru matematika dalam mengembangkan kemampuan
visual thinking 
siswa.
II.
 
Definisi Visual Thinking 
Visual Thinking 
atau Berpikir Visual adalah proses intelektual intuitif dan ide imajinasi visual, baik dalampencitraan mental atau melalui gambar (Brasseur, 1991 : 130). Goldsmchmidt, 1994; Laseau, 1986) menyatakanmengandalkan proses berpikir bahasa gambar visual, bentuk, pola, tekstur, symbol. Namun Visual Thinkingmemerlukan lebih banyak dari pada visualisasi atau representasi. John Steiner (1997) menyatakan “ Ini adalahmewakili sensasi pengetahuan dalam bentuk struktur ide, itu adalah aliran ide sebagai gambar, diagram,penjelasan model, lukisan yang diatur ide-ide besar dan penyelesaian sederhana.Visual Thinking dapat didefinisikan sebagai sesuatu pemikiran yang aktif dan proses analitis untuk memahami,menafsirkan dan memproduksi pesan visual, interaksi antara melihat, mem-bayangkan, dan menggambarkansebagai tujuan dapat digunakan, dan canggih seperti berpikir verbal.Zimmerman dan Cunningham (1991) menyatakan :Visualisasi adalah proses pembentukan gambar (mental, atau dengan kertas dan pensil atau dengan bantuanteknologi.Visualisasi adalah suatu tindakan dimana seseorang individu membentuk hubungan yang kuat antarainternal membangun sesuatu yang diakses diperoleh melalui indra. Sambungan berkualitas tersebut dapat dibuatdalam salah satu dari dua arah. Visualisasi suatu tindakan dapat terdiri dari konstruksi mental setiap objek atauproses yang satu menghubungkan (dalam pikiran) individu dengan objek atau peristiwa yang dirasakan olehdirinya atau sebagai eksternal. Atau suatu tindakan visualisasi dapat terdiri dari konstruk pada beberapa mediaeksternal seperti kertas, papan tulis atau computer, objek atau peristiwa yang mengidentifikasikan individudengan objek atau proses dalam dirinya atau pikiran.
 
Arcavi (2003) menyatakan visualisasi matematika dengan kiasan sebagai “melihat yang gaib”. Iamenganggap matematika sebagai dunia yang lebih “abstrak” berurusan dengan benda-benda dan entitas cukupberbeda dari fenomena fisik, yang meningkatkan kebutuhan untuk bergantung pada visualisasi dalam bentukyang berbeda dan pada tingkat yang berbeda. Presmeg (1986) mendefinisikan metode visual sebagai salah satuyang memilih gambar visual, dengan atau tanpa diagram, seperti bagian penting dari metode solusi. Metode nonvisual di sisi lain tidak bergantung pada citra visual.Siswa menggunakan metode visual dalam pemecahan masalah matematika dipengaruhi dua faktor :1.Kebaharuan dari masalah, dan 2. Persepsi siswa dari guru mereka dalam preferensi pemecahan masalah.Ternyata bahwa siswa lebih suka menggunakan metode visual untuk masalah soal cerita dan metode non visualuntuk soal yang lebih mereka kenal (familiar).
III. Peran Visualisasi 
Visualisasi memainkan fungsi yang berbeda atau peran pada siswa menggunakannya untuk memecahkanmasalah. Ada tujuh (7) peran visualisasi (Presmeg, 1986) : 1) Untuk memahami masalah. Denganmerepresentasi masalah visual, siswa dapat memahami bagaimana unsur-unsur dalam masalah berhubungansatu sama lain, 2) Untuk menyederhanakan masalah. Visualisasi memungkinkan siswa untuk mengidenfikasilebih sederhana versi masalah, peme-cahan masalah dan kemudian memformalkan pemahaman soal yangdiberikan dan mengidentifikasi metode yang digunakan untuk semua masalah seperti itu, 3) Untuk melihatketerkaitan (koneksi) ke masalah terkait. Ini melibatkan masalah yang berkaitan yang diberikan sebelumnyadalam pengalaman pemecahan masalah, 4) Untuk memenuhi gaya belajar individual. Setiap siswa punyaproferensi sendiri ketika menggunakan representasi visual ketika menyelesaikan masalah, 5) Sebagai penggantiuntuk komputasi/perhitungan. Jawaban masalah dapat diperoleh secara langsung dari representasi visual itusendiri, tanpa memerlukan komputasi, 6) Sebagai alat untuk memeriksa solusi. Representasi visual dapatdigunakan untuk memeriksa kebenaran dari jawaban yang diperoleh, 7) Untuk mengubah masalah ke dalambentuk matematis. Bentuk matematis dapat diperoleh dari representasi visual untuk memecahkan masalah.Kemampuan untuk memecahkan masalah adalah jantung matematika, visualisasi merupakan intipemecahan masalah matematika. Visualisasi adalah kemampuan untuk melihat dan memahami situasi masalah.Memvisualisasikan suatu situasi atau objek melibatkan “Memanipulasi mental berbagai altenatif untukmemecahkan masalah yang berkaitan dengan suatu situasi atau objek tanpa manfaat manipulative kongkrit(MOE, 2001: 51). Visualisasi dapat menjadi alat kognitif yang kuat dalam masalah pemecahan matematika hal iniditandai sebgai ketrampilan yang penting dalam pembelajaran dan penerapan matematika serta membangunkarakter positif bagi siswa.Ruseffendi (2006 : 78) menyatakan “Sampai abad 20 di AS pengajaran itu untuk melatih otak.Pengetahuan yang dianggap bisa melatih otak itu mata pelajaran yang sukar. Mata pelajaran yang sukargeometri dan bahasa latin digunakan untuk melatih otak, karena sukarnya dipilih sebagai pelajaran wajib….”Pengajaran matematika di Amerika Serikat mendapat pengaruh pendidikan progresif dari John Dewey danpengajaran yang mengutamakan kepada pengertian dan belajar bermakna dari William Brownell.Di Indonesia, siswa di sekolah kesulitan dalam belajar matematika khususnya dalam memahamipermasalahan mempresentasikan apa yang ada dalam pikirannya
(visual thinking)
dan memecahkan masalahmatematika padahal pemecahan masalah matematika merupakan jantung dari matematika dan visualisasimerupakan inti dari matematika. Padahal diharapkan pembelajaran matematika mengacu pada prinsip siswabelajar aktif, dan
“learning how to learn” 
yang rinciannya termuat dalam empat pilar pendidikan yaitu :
(1)learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be 
, dan (4)
learning to live together 
, Kurikulum matematikasekolah memuat rincian topic, kemampuan dasar matematika, dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa pada jenjang sekolah.Pada hakekatnya belajar matematika adalah berpikir dan berbuat atau mengerjakan matematika. Disinilahmakna dan strategi pembelajaran matematika adalah strategi pembelajaran yang aktif, yang ditandai oleh duafaktor : a. Interaksi optimal antara seluruh komponen dalam proses belajar mengajar di antarnya antarakomponen utama yaitu guru dan siswa, b. Berfungsinya secara optimal seluruh ‘’sense’’ yang meliputi indera,emosi, karsa, karya, dan nalar. Hal itu dapat berlangsung antara lain jika proses itu melibatkan aspek visual,audio, maupun teks (Anderson, 1981).
 
Tiga Cara Berpikir (Lesley K Sword, 2005).Auditory Thinking Visual Thinking Kinaesthetic ThinkingGambar 1.The 3 main ways of thinking correspond with how ourbrain processes our basic senses-eyes, ears, bodiesand feelingsPadahal pembelajaran matematika khususnya geometri dapat dihubungkan dengan lingkungan sekitar siswasehingga berhubungan dengan keadaan sehari-hari, dan pembelajaran matematika dilakukan dengan situasiyang menyenangkan sehingga ide/ kreativitas, percaya diri, kejujuran, saling menghargai teman dan tolongmenolong, dan lain-lain dari karakter siswa yang diharapkan akan muncul.Siswa biasanya kesulitan menjembatani pengetahuan informal ke matematika sekolah. Dalam mengatasi gap(kesenjangan) tsb dibutuhkan waktu (pembelajaran), pengalaman (latihan) dan bimbingan dalam pengajaranoleh guru. Penggunaan terstruktur materi konkrit penting untuk mengamankan
link 
tsb, tdk hanya pada awal nilai-nilai dasar, tetapi juga selama tahap-tahap pengembangan konsep tingkat tinggi matematika. Siswa perlupenekanan khusus pada berbagai bentuk representasi (objek atau gambar/visual) dari apa yang mereka maksudatau mereka pikirkan.Setelah siswa memahami konsep-konsep dasar kemudian menghindari penggunaan objek tetapi dpt dilanjutkandengan visual pikiran dengan mengkomunikasikan pada masalah pemecahan soal cerita atau masalah terapanmatematika.Kasus kesalahan pekerjaan siswa pada permasalahan Lingkaran, siswa dan guru di SMP kelas VIII terbiasaberpikir rutin.Gb1. Sebuah Lingkaran Gb 2. Tiga perempat lingkaranPada Bangun sebuah LingkaranLuas Lingkaran =
.r.r (Benar)Keliling Lingkaran = 2.
.r(Benar)Tetapi hasil pekerjaan siswa untuk bangun tigaperempat lingkaran
Luas ¾ Lingkaran = ¾. (
.r.r) (Benar)• Keliling ¾ lingkaran = ¾. (2.
.r ) .? (Salah, siswa berpikir rutin sehingga Siswa dan guru terjebak dalamberpikir rutin,
Routine Thinking, seharusnya (¾ .
2.
.r ) + 2r
 
)
Kasus masalah Aplikasi Matematika 
Sebuah kolam renang diketahui panjang kolam 60 meter, lebar kolam 20 meter dalam Kolam yang dangkal 1 meter dan kolam yang ujung satu lagi 5 meter. Dasar kolam renang landai dari yang dangkal hingga yang dalam. Jika kolam diisi penuh air. Permasalahan yang diberikan kepada siswa : a.Gambarlah situasi kolam renang tersebut. b. Tentukan volume air kolam renang tersebut. Hasil yang diperoleh pada kasus ini 
 
: Siswa dan guru tidak dapat berpikir visual atau mempresentasikan kasus tersebut dan memecahkan masalah kolam renang tersebut.
BRAINHEARINGSEEING
sad- happyBodies and Feelings

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->