Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Banten Era Kesultanan

Sejarah Banten Era Kesultanan

Ratings: (0)|Views: 145 |Likes:
Published by echyntazmk

More info:

Published by: echyntazmk on Dec 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

 
Banten pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhanyang sangat ramai,sertadengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Bantenyang berada di jalur perdagangan internasional, berinteraksi dengan dunia luarsejak awal abad Masehi. Kemungkinan pada abad ke-7 Banten sudahmenjadipelabuhan internasional. Dan sebagai konsekuensi logisnya, Islam diyakini telahmasuk dan berakulturasi dengan budaya setempat sebagaimana diceritakandalam berita Tome Pires pada tahun 1513.Proses Islamisasi Banten, yang diawali oleh Sunan Ampel, yang kemudianditeruskan oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang seluruh kisahnyaterekam dalam naskah
Carita Purwaka Caruban Nagari 
. Fase sejarah pentingmenguatnya pengaruh Islam terjadi ketika Bupati Banten menikahkan adiknya,yang beernama Nyai Kawunganten, dengan Syarif Hidayatullah yang kemudianmelahirkan dua anak yang diberi nama Ratu Wulung Ayu dan Hasanuddinsebagai cikal bakal dimulainya fase sejarah Banten sebagai Kerajaan Islam(Djajadiningrat, 1983:161). Bersama putranya inilah Sunan Gunung Jatimelebarkan pengaruh dalam menyebarluaskan agama Islam ke seluruh tatarSunda hingga saatnya Sang Wali kembali ke Cirebon .Takluknya Prabu Pucuk Umun di Wahanten Girang (Banten Girang) padatahun 1525 selanjutnya menjadi tonggak dimulainya era Banten sebagai kerajaanIslam dengan dipindahkannya pusat pemerintahan Banten dari daerah pedalamanke daerah pesisir pada tanggal 1 Muharam tahun 933 Hijriah yang bertepatandengan tanggal 8 Oktober 1526 (Michrob dan Chudari, 1993:61).Atas pemahaman geo-politik yang mendalam Sunan Gunung Jatimenentukan posisi istana, benteng, pasar, dan alun-alun yangharusdibangun didekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Surosowan. Hanya dalam
 
waktu 26 tahun, Banten menjadi semakin besar dan maju, dan pada tahun 1552Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negarabagian Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai raja di KesultananBanten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan(Pudjiastuti,2000:61).Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, sebagaimana dilaporkanoleh J. de Barros, Banten merupakan pelabuhan besar di Jawa, sejajar denganMalaka. Kota Banten terletak di pertengahan pesisir sebuah teluk, yang lebarnyasampai tiga mil. Kota itu panjangnya 850 depa. Di tepi laut kota itu panjangnya400 depa; masuk ke dalam ia lebih panjang. Melalui tengah-tengah kota adasebuah sungai yang jernih, di mana kapal jenis jung dan gale dapat berlayarmasuk. Sepanjang pinggiran kota ada sebuah anak sungai, di sungai yang tidakseberapa lebar itu hanya perahu-perahu kecil saja yang dapat berlayar masuk.Pada sebuah pinggirankota itu ada sebuah benteng yang dindingnya terbuat daribata dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannyaterbuat dari kayu, terdiri dari duatingkat,dan dipersenjatai dengan senjata yangbaik. Di tengah kota terdapat alun-alun yang digunakan untuk kepentingankegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat dan sebagai pasar di pagi hari. Istanaraja terletak di bagian selatan alun-alun. Di sampingnya terdapat bangunan dataryang ditinggikan dan beratap, disebut Srimanganti, yang digunakan sebagaitempat raja bertatap muka dengan rakyatnya. Di sebelah barat alun-alun didirikansebuah mesjid agung (Djajadiningrat,1983:84).Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten merupakan salah satu pusatperniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata administrasimodern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnyaperekonmian masyarakat. Ketika orang Belanda tiba di Banten untuk pertamakalinya, orang Portugis telah lama masuk ke Banten. Kemudian orang Inggrismendirikan loji di Banten dan disusul oleh orang Belanda.
 
Selain itu, orang-orang Perancis dan Denmark pun pernah datang diBanten. Dalam persaingan antara pedagang Eropa ini, Belanda muncul sebagaipemenang. Orang Portugis melarikan diri dari Banten (1601), setelah armadamereka dihancurkan oleh armada Belanda di perairan Banten. Orang Inggris puntersingkirkan dari Batavia (1619) dan Banten (1684) akibat tindakan orang Belanda(Ekadjati (ed.),1984:97).Wujud dari interaksi budaya dan keterbukaan masyarakat Banten tempodulu dapat dilihat dari berkembangnya perkampungan penduduk yang berasaldari berbagai daerah di Nusantara seperti Melayu, Ternate, Banjar, Banda, Bugis,Makassar, dan dari jawa sendiri serta berbagai bangsa dari luar Nusantara sepertiPegu (Birma), Siam, Parsi, Arab, Turki, Bengali,dan Cina (Leur, 1960:133-134;Tjiptoatmodjo, 1983:64). Setidaknya inilah fakta sejarah yang turut memberikankontribusi bagi kebesaran dan kejayaan Banten.Dalam usahanya membangun Banten, Maulana Hasanuddin sebagai SultanBanten pertama (1522-1570), menitikberatkan pada pengembangan sektorperdagangan dengan lada sebagai komoditas utama yang diambil dari daerahBanten sendiri serta daerah lain di wilayah kekuasaan Banten, yaitu Jayakarta,Lampung, dan terjauh yaitu dari Bengkulu (Tjandrasasmita,1975:323).Perluasan pengaruh juga menjadi perhatian Sultan Hasanuddin melaluipengiriman ekspedisi ke pedalaman dan pelabuhan-pelabuahn lain. Sunda Kalapasebagai salah satu pelabuhan terbesar berhasil ditaklukkan pada tahun 1527 dantakluknya Sunda Kalapa tersebut ditandai dengan penggantian nama Sunda
Kalapa menjadi “Jayakarta”. Dengan takluknya Jayakarta, Banten memegang
peranan strategis dalam perdagangan lada yang sekaligus menggagalkan usahaPortugis di bawah pimpinan Henrique de Leme dalam usahanya menjalinkerjasama dengan Raja Sunda (Kartodirdjo, 1992:33-34).Pasca wafatnya Maulana Hasanuddin, pemerintahan dilanjutkan olehMaulana Yusuf (1570-1580), putra pertamanya dari Ratu Ayu Kirana, putri Sultan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->