Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PB X

PB X

Ratings: (0)|Views: 220 |Likes:

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Sri Danardono Srinardi on Dec 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

 
 
1
Sri Susuhunan Paku Buwono X :Layak Mendapat Anugerah Gelar Pahlawan Nasional
ri Susuhunan Paku Buwono X lahir pada hari Kamis 29 November 1866 daripermaisuri Raden Ajeng Kustijah atau Kanjeng Ratu Paku Buwono IX. Namakecilnya adalah Raden Mas Gusti Sayidin Malikul Kusna.
1
 Pada tahun 1893, beliau dinobatkan sebagai raja Keraton Surakartamenggantikan ayahnya, dengan gelar 
Sampeyan Dalem Ingkang SinuwunKanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Ing Ngalogo NgabdurahmanSayidin Panotogomo Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Nagari SurakartaHadiningrat
atau ringkasnya Sri Susuhunan Paku Buwono X.
2
 
Paku Buwono X adalah Seorang Visioner
Sri Susuhunan Paku Buwono X mendapat sebutan :
Ingkang Wicaksana 
. Saha
Ingkang Minulya; 
karena
 
memiliki kawaskitan, kebijaksanaan, daya linuwih, dayaalus/gaib, berkat Nur Illahi, sehingga bisa melihat zaman yang akan terjadi.Ketika menjelang pergantian abad XIX ke XX, terjadi perkembangan politik etis diBelanda, dimana terdapat pikiran bahwa Belanda mempunyai hutang budi kepadaIndonesia; dan untuk membalasnya, Belanda mendirikan banyak sekolah diIndonesia. Sebagai dampaknya, pada awal abad ke XX muncul berbagai studi clubyang membangkitkan rasa kebangsaan Indonesia dan menjadi embryo partai-partaipolitik yang menumbuhkan keinginan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
3
 Sri Susuhunan Paku Buwono X dapat melihat perkembangan baru itu dan sadar bahwa generasi muda harus menjadi orang-orang pintar agar dapat mengimbangikepintaran orang Belanda hingga suatu saat dapat melepaskan bangsa Indonesiadari penjajahan Belanda.Atas dasar pemikiran itu, Sri Susuhunan Paku Buwono X mendirikan sekolah-sekolah di wilayah Kasunanan Surakarta, yakni :
sekolah dasar bagi rakyat di kampung dan desa,
Sekolah Kasatrian semacam Hollands Inlandsche School bagi para sentana(sekolah bagi orang Indonesia asli yang diberi bahasa Belanda) di Baluwarti,
Sekolah Pamardisiwi (Taman Kanak-kanak) bagi putra-putri dan cucu-cucu Raja
Sekolah "Pamardi Putri" setaraf HIS, khusus bagi wanita, anak, cucu dansentana.Para putra Raja tidak dimasukkan ke Sekolah Kasatrian atau HIS umum,melainkan ke Europesche Lagere School (sekolah dasar untuk orang barat denganbahasa Belanda), selanjutnya ke MULO (SMP) ke AMS (=SMA) atau HBS (5 tahun),baru masuk ke Perguruan Tinggi baik di Indonesia maupun di negeri Belanda.
1
Suryandari Puspaningrat, 1996.
Mengenal Sri Susuhunan Paku Buwono X.
Surakarta : Cendrawasih: hal 12.
2
Suryandari Puspaningrat, 1996.
ibid 
, hal 6.
3
Karno, RM, Riwayat dan Falsafah Hidup Ingkang Sinoehoen Sri Soesoehoenan Pakoeboewono ke
X 1893
1939, 1990, hal 45
S
 
 
2
Selain mendirikan sekolah-sekolah umum, pada tahun 1905 Sri Susuhunan PakuBuwono X juga mendirikan sekolah khusus untuk mempelajari agama Islam(madrasah) yang dikenal dengan nama Mambaul Ulum. Sekolah itu dibangun dihalaman masjid agung. Lulusan sekolah itu dapat diterima menjadi siswa padaUniversitas Al Azhar di Kairo, dan beberapa Universitas lain di luar negeri yangmenerima siswa lulusan Mamaul Ulum dengan tambahan Kursus pendidikan umum.Sekolah "Pamardi Siwi", "Pamardi putri" dan "Kasatrian" dibiayai dengan uangdari kas keraton. Sedangkan sekolah dasar untuk umum yang tersebar diseluruhKasunanan Soerakarta, termasuk juga sekolah khusus "Mambaul Ulum" dibiayaidengan uang kas Pemerintah Kasunanan (Rijkskas) di Kantor Kepatihan.Pendirian madrasah Mambaul Ulum merupakan terobosan berani Sri SusuhunanPaku Buwono X, karena menurut staatblad van Nedrland-Indie 1893 diatur laranganpengajaran Islam di sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta.Maka, Mamba’ul Ulum adalah salah satu simbol perlawanan jihad Sri SusuhunanPaku Buwono X terhadap Belanda
Mampu Berkiprah Walau Ditekan Belanda
Sri Susuhunan Paku Buwono X berhasil memerintah selama 46 tahun, meskipunditekan secara ekonomi dan politik oleh Belanda, dengan diberlakukannya
UndangUndang Desentralisasi 1903
reorganisasi agraria & administrasi pemerintahan dan reorganisasi peradilan,serta
diberlakukannya
beamtenstaat 
yang melarang warga masyarakat melakukankegiatan politik praktis. Kuntowijoyo menyebut Sri Susuhunan Paku Buwono X‘tertawan di keratonnya sendiri’
4
 Namun, dalam kondisi tertawan dan tertekan seperti itu, Sri Susuhunan mampumenghadapi segala bentuk tekanan dan memacu mobilitas masyarakat denganmembangkitkan kepiawaiannya bermain simbol politik.
5
Menurut Kuntowijoyo : “SriSusuhunan ternyata lebih ahli dalam politik simbolis dari pada Residen Belanda”
6
 Kuntowijoyo memilah politik simbolis dalam dua bentuk, yaitu simbol personal dansimbol publik.
7
Simbol personal meliputi : pemberian gelar, titel, dan hadiah kepadaelit politik,
8
Simbol publik meliputi : (1) pemeliharaan tradisi budaya Jawa dan Islam;(2) pendirian madrasah dan sekolah umum, (3) udik-udik dan tetirah, yang secarasimbolis merupakan pemberian bantuan kepada masjid maupun masyarakat miskin,serta perwujudan simbol kemunikasi antara Sri Susuhunan dengan masyarakat.
9
 
4
 
Kuntowijoyo, Raja, Priyayi, dan Kawula, Yogyakarta, Ombak, 2004, hal 19.
5
Kuntowijoyo, “Politik Simbolis Paku Buwana X, 1900
1915; Simbol Personal dan Simbol Publik”, Makalahpada Kongres Nasional Sejarah Tahun 1996 : Ditjen Kebudayaan, Depdikbud, Jakarta, 12
15 November 1996,hal 2
22.
6
Ibid, hal 3.
 
7
 
Ibid
 
8
Ibid, hal 7
16
9
Ibid, hal 16
22.
 
 
3
Hermanu Joebagio
10
melengkapi simbol publik yang dikemukakan Kuntowijoyodengan kiprah Paku Buwono X di bidang pembangunan ekonomi dan kesejahteraanrakyat, yaitu : (1) Pasar Gede Harjonagoro, (2) bank Bandhalumakso, (3) jembatanJurug, Bacem dan Mojo yang merupakan akses antara Surakarta, Karanganyar danSukoharjo, (4) prasarana jalan dan penerangan (listrik), (5) klinik kesehatan PantiRogo dan apotik Pantihusodo, yang kemudian menjadi Rumah Sakit Kadipolo, (6)Kebon Rojo Sriwedari dan Taman Tirtonadi, (7) rjksstudiefond, lembaga yang mem-beri beasiswa sentana dan abdi dalem, (8) Radya Pustaka, (9) rumah Wangkoengyang merupakan rumah singgah untuk memberi keterampilam penduduk migran.Menurut Hermanu Joebagio, simbol publik merupakan pilar politik Islam yangmendorong kehidupan masyarakat, yang diharapkan dapat meningkatkankesejahteraan dan kesadaran politik mereka. Simbol publik juga merupakan jalanmembangun solidaritas sosial, baik dalam konteks komunikasi maupun jejaringpolitik. Simbol publik menumbuhkan sinergi antara kerabat keraton, intelektual, danpengusaha muslim.
Peran dalam Pergerakan Nasional
Selain karya monumental yang masih dirasakan manfaatnya sampai sekarang(pasar, jembatan, masjid, sekolah, dll) Sri Susuhunan Pakubuwono X jugamendukung dan bahkan terjun langsung dalam kancah pergerakan nasional.
11
 Pada dekade pertama pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X terdapatperubahan sosial politik yang cukup besar. Di mana-mana muncul gerakannasionalisme.
12
Cina, India, Mesir dan negara-negara di bawah hegemonikolonialisme Barat bangkit untuk merdeka. Tak kecuali bangsa kita. Di bawahkepemimpinan Dr. Sutomo terbentuk organisasi Budi Utomo yang menjadi titik awalKebangkitan Nasional. Perjuangan Budi Utomo ini mendapat apresiasi yang cukupmenggembirakan dari Paku Buwono X. Para Pangeran dan bangsawan kratondidukung untuk menjadi pengurus Budi Utomo. Putra-putri Sri Susuhunan banyakyang terlibat aktif berjuang untuk memajukan bangsanya lewat organisasi modern.
13
 Seiring dengan perjalanan waktu, Kota Solo menjadi pusat gerakan politikSyarikat Islam. Para pemimpin utamanya, Haji Samanhudi, HOS Cokroaminoto, KHAgus Salim dan Abdul Muis dibantu dalam bidang keuangan dan fasilitas kerajaan.Para pejuang nasional ini kerap berhubungan dengan istana. Berkat kepiawaianSang Raja, aktivitas politik yang mengancam kekuatan penjajah ini berjalan aman.Kedudukan Sri Susuhunan sebenarnya amat dipertaruhkan. Baik Budi utomomaupun Syarikat Islam, keduanya berkembang dan berkibar di kota Surakartakarena jasa baik Sri Susuhunan.Pada masa itu, di Kraton Surakarta memang terjadi ”
connection 
” antara Raja,pangeran beserta para bupati dan pemuka gerakan nasional. Nama-nama Dr.Radjiman Wedyodiningrat, RMA Woeryaningrat, Mr. Wongsonegoro, P. Hangabehi,P Kusumoyudo, P. Sumodiningrat dan lain-lain tercatat punya peranan penting,bahkan sebagian besar di antara mereka tetap berada di pentas pimpinan nasionalhingga awal kemerdekaan RI
14
 
10
Joebagio, Hermanu, Biografi Politik Paku Buwana X : Studi Gerakan Islam dan Kebangsaan diKeraton Surakarta, Disertasi UIN Kalijaga, 2010, hal 164
165
11
 
Majalah Berita Mingguan Tempo Edisi 25/XIX/19 Agustus 1989 : Raja Jawa Mengantar Revolusi.
 
12
 
Ricklefs, 1995.
Sejarah Indonesia Modern 
. Yogyakarta: Gama Press, hal 80
83.
 
13
 
Darsiti Soeratman, 1990.
Istana Sebagai Pusat Kebudayaan Lampau dan Kini 
. Yogyakarta: Pidato PengukuhanGuru Besar UGM.
 
14
 
Majalah Berita Mingguan Tempo Edisi 30/XVIII/24 September 1988 : The Kraton Connection
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->