Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Intelligence Quotient

Intelligence Quotient

Ratings: (0)|Views: 539|Likes:
Published by jpesiwarissa

More info:

categoriesTypes, School Work
Published by: jpesiwarissa on Dec 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
 
 Bimbingan Konseling, 2009-2010
INTELLIGENCE QUOTIEN( IQ )
 A. PENDAHULUAN 
Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk diperoleh anak-anakataupun orang dewasa. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorangagar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya.Mengingat akan pentingnya pendidikan, maka pemerintah pun mencanangkanprogram wajib belajar 9 tahun, melakukan perubahan kurikulum untuk mencobamengakomodasi kebutuhan siswa.Kesadaran akan pentingnya pendidikan bukan hanya dirasakan olehpemerintah, tetapi juga kalangan swasta yang mulai melirik dunia pendidikandalam mengembangkan usahanya. Sarana untuk memperoleh pendidikan yangdisediakan oleh pemerintah masih dirasakan sangat kurang dalam upayamemenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Hal ini terlihat dengansemakin menjamurnya sekolah-sekolah swasta yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Kendala bagi dunia pendidikan untukmenghasilkan lulusan yang berkualitas adalah masih banyaknya sekolah yangmempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya yaitusekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa.Kenyataan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003),seorang praktisi pendidikan anak, bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiapkenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematikadan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang semata-mata hanya menekankankemampuan logika dan bahasa perlu direvisi. Kecerdasan intelektual tidak hanyamencakup dua parameter tersebut, di atas tetapi juga harus dilihat dari aspekkinetis, musical, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis(Kompas, 6 Agustus 2003). Jenisjenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal
 IQ (Intelegences Quotient)1
 
 
 Bimbingan Konseling, 2009-2010
dengan sebutan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences) yang diperkenalkanoleh Howard Gardner padan tahun 1983. Gardner mengatakan bahwa kitacenderung hanya menghargai orangorang yang memang ahli di dalamkemampuan logika (matematika) dan bahasa.
B. INTELEGENSI DAN IQ 
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal keduaistilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensisudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari IntelligenceQuotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengandemikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasanseseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secarakeseluruhan.Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental(Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuanindividu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam teskecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnyaada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akandiperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ.Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orangorangyang memiliki talenta (gift) di dalam kecerdasan yang lainnya seperti artis,arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs, dan lain-lain. Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta(gift), tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yangpada kenyataannya dianggap sebagai anak yang “Learning Disabled” atau ADD(Attention Deficit Disorder), atau Underachiever, pada saat pola pemikiranmereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh sekolah. Pihak sekolah hanyamenekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Teori MultipleIntelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan kemampuanintelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan
 IQ (Intelegences Quotient)2
 
 
 Bimbingan Konseling, 2009-2010
intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanyamenekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003).Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikanpersoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yangdiperoleh seseorang.Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untukmelihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuatsesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Pola pemikiran tradisional yangmenekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudahmengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan prosesbelajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Insan Kancil(Kompas, 13 Oktober 2003), pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderungmengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanakmengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan TamanKanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpamenyeimbanginya dengan kecerdasan lain.Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) danbahasa. Menurut Moleong, dalam melaksanakan Kurikulum BerbasisKompetensi (KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi dalammengembangkan berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini.Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan KurikulumBerbasis Kompetensi (KBK). Anak-anak usia 0 – 8 tahun harus diperkenalkandengan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidakterjebak pada kecerdasan logika semata. Multiple Intelligences yang mencakupdelapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan darikecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ).Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini,mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7 – 8 tahun). (Kompas, 13Oktober 2003). Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakahsetiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk
 IQ (Intelegences Quotient)3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->