Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pesan Natal Gereja-Gereja Papua Kepada Pemerintah Indonesia

Pesan Natal Gereja-Gereja Papua Kepada Pemerintah Indonesia

Ratings: (0)|Views: 9,030 |Likes:
Published by WestPapuaMedia
Original Letter from West Papuan church leaders on presented at President Yudhoyono’s private residence in Cikeas, outside Jakarta, on Friday Dec. 16, asking the Indonesian government to have a dialogue with the people of Papua. (Bahasa Indonesia: English translation currently unavailable)
Original Letter from West Papuan church leaders on presented at President Yudhoyono’s private residence in Cikeas, outside Jakarta, on Friday Dec. 16, asking the Indonesian government to have a dialogue with the people of Papua. (Bahasa Indonesia: English translation currently unavailable)

More info:

Published by: WestPapuaMedia on Dec 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial No-derivs

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2014

pdf

text

original

 
PIMPINAN GEREJA-GEREJA DI TANAH PAPUAMenangani Bayi Nasionalisme (Separatisme) Papua Sebagai Hasil “Perkawinan Paksa”Jakarta – Papua
 Jakarta Sebagai Penabur dan Pengguna Benih Separatisme Papua
(Pesan Profetis Gereja-Gereja se-Tanah Papua)
Yawan Wayeni, dibunuh pada tanggal 13 Agustus 2009Oleh Imam Setiawan (mantan Kapolres Yapen), kini Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Papua16 Desember 2011
1
 
Ya Allah, berikanlah hukumMu kepada raja dan keadilanMu kepada putera raja. Kiranya ia mengadili umatMu dengan keadilan dan orang-orangMu yang tertindasdengan hukum. Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa danbukit-bukit membawa kebenaran. Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang  yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin tetapi meremukkan pemeras-pemeras (Mazmur 72: 1-4)
Pertama-tama, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang telah membuka diri dan memberi waktu kepadakami di tengah-tengah padatnya kesibukan negara dalam menghadapi berbagai permasalahan Nasional lainnya.Kedatangan kami pada hari ini difasilitasi oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia karena beberapa peristiwa historis yang penting di masa lalu.
Pertama, pernyataan Ketua I Sinode GKI di Tanah Papua, Domine F.J.S Rumainum,dalam Sidang Raya ke-3 Dewan Gereja se-Dunia pada Juli 1961 di New Delhi, India bahwa “
Gereja Kristen Injili di Papua ada bersama dengan Dewan Gereja Indonesia
”.Pernyataan ini terjadi lima bulan sebelum Trikora, 19 Desember 1961.
Kedua, laporan dari Tim Oikumenis Dewan Gereja se-Dunia dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia kepada Presiden B.J. Habibie pada tanggal 25 September 1998 bahwarakyat Papua ingin berdaulat sebagai negara.
Ketiga, Sidang Raya PGI ke-15 di Mamasa, Sulawesi Tengah 2009 mengeluarkan 11rekomendasi tentang Papua, antara lain: perlunya penegakkan hukum dan HAM diPapua, penghapusan stigma separatisme, dorongan untuk diadakannya dialog nasionalPapua-Jakarta sebagai mekanisme demokratis penyelesaian masalah Papua.Dengan berpijak pada ketiga peristiwa ini, empat Pimpinan Gereja yang mewakili 2/3 penduduk asli Papua pada hari ini menyatakan bahwa penyelesaian masalah Papua harus melibatkan peranan Gereja-Gereja di Papua maupun di Indonesia.
1.Alasan Kehadiran Pimpinan Gereja: Akar Persoalan Konflik dan Kekerasan di Tanah Papua
 Berangkat dari ajaran Kitab Suci (Mazmur 72:1-4) yang dikutib di atas dan peran PGI tadi, kamiingin menyampaikan kepada Bapak bahwa kami sebagai Pimpinan Gereja Papua hadir di sinikarena: kekerasan yang terus terjadi terkait bangkitnya
 Nasionalisme Papua
(pemerintahmenyebutnya sebagai
“separatisme”).
Kami, Pimpinan Gereja Papua memandang lahirnya‘Bayi Nasionalisme’ (separatisme) Papua ini sebagai hasil ‘Perkawinan Paksa’ Jakarta – Papuayang proses sejarahnya tercatat sebagai berikut:
19 Desember 1961, Soekarno yang secara sepihak menguburkan embrio satu negaraPapua Barat yang ditetapkan pada 1 Desember 1961 dengan mengumandangkan Trikora;sekaligus menyingkirkan Komite Nasional Papua yang telah mempersiapkanterbentuknya Negara Papua dengan menetapkan simbol-simbol negara yaitu, (a) BenderaKebangsaan Papua, Bintang Fajar, (b) Lagu Kebangsaan Papua, Hai Tanahku Papua, dan(c) Lambang Negara adalah Burung Mambruk;2
 
15 Agustus 1962, Indonesia dan Belanda (tanpa keterlibatan wakil rakyat Papua)menandatangani Perjanjian New York;
1 Oktober 1962, Pemerintah Belanda menyerahkan administrasi pemerintahan kepadaUNTEA;
1 Mei 1963, UNTEA menyerahkan administrasi pemerintahan ke RI tanpa keterlibatanrakyat Papua;
Juli-Agustus 1969, Pemerintah merekayasa PEPERA (
 Act of Free Choice
menjadi
 Act of  No Choice
) untuk mengintegrasikan Papua ke Indonesia.
Kami mencatat hasil-hasil dari Kongres Rakyat Papua ke-3 pada 19 Oktober 2011 yangtelah mereafirmasi gerakan pembebasan rakyat Papua melalui peristiwa 1 Desember 1961dan kelanjutannya pada Kongres Rakyat Papua I, Musyawarah Besar Rakyat Papua danKongres Rakyat Papua II tentang lahirnya PDP dan Panel-Panel sebagai bentuk-bentuk ekspresi dari sebuah gerakan pembebasan rakyat Papua dari semua bentuk-bentukekerasan yang mengarah pada suatu bentuk penjajahan sistematis.Kami menilai peristiwa-peristiwa sejarah ini yang tidak melibatkan rakyat
Papua ini sebagaiakar masalah Papua (kekerasan: historis) yang melandasi konflik di Tanah Papua yangterus terjadi sampai dewasa ini.
2.Wajah Kekerasan Pemerintah Orde Baru 1969 -1998
Setelah (kekerasan)
 Act of Free Choice
tahun 1969 yang direkayasa, pemerintah melaksanakan pembangunan di Papua yang dalam kenyataan, diterima oleh umat kami sebagai kekerasan multiwajah seperti berikut:
Pembangunan bias pendatang (yang kami menilai sebagai kekerasan ideologis) yang berakibat marginalisasi terhadap penduduk asli Papua, karena dalam kerangka demikianeksistensi, identitas dan masa depan rakyat Papua tidak diperhitungkan; semua yangdikerjakan di Papua atas nama pembangunan adalah untuk kepentingan NKRI, seperti di bawah ini:
Operasi-operasi militer sejak awal tahun 1960an sampai hari ini; operasi inteligen, statusDOM untuk mengamankan pembangunan bias pendatang tadi
Kekerasan ekonomi, sosial dan budaya, eksploitasi sumber daya alam
Kekerasan pencitraan berupa stigma “ Papua bodoh, separatis, malas, koteka, GerejaPapua mendukung Papua merdeka, Papua komsumtif”, dan lain-lain
Kekerasan kultural, yang terlihat dengan pelarangan buku Papua tentang sejarah dankebudayaan Papua.
3. Pembangunan Era Otonomi Khusus:
Saat Otonomi khusus mulai dilaksanakan, kami sebagai Pimpinan Gereja berharap: pemerintahakan jedah; kekerasan akan berhenti. Papua akan pulih secara bertahap. Tetapi justru dalamsuasana Otonomi Khusus kekerasan neagara meningkat. Gambaran berikut mencerminkankekerasan yang dialami umat sejak Otsus diberlakukan.
Pemekaran Provinsi Irian Jaya Barat/ Papua Barat;
MRP yang dilumpuhkan;
Kekerasan Militer yang terus berlanjut seperti yang terlihat dengan: (a) pembangunan/penambahan Batalyon (di Merauke, Nabire dan Wamena); (b) pelanggaran HAM berat3

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Benis Gosoma liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->