Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tetanus

Tetanus

Ratings: (0)|Views: 513|Likes:
Published by Handre Putra

More info:

Published by: Handre Putra on Dec 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/05/2012

pdf

text

original

 
TETANUS
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus ototdan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin yang sangat kuat yangdihasilkan oleh basil gram positif berbentuk batang yaitu
Clostridium Tetani
.
ClostridiumTetani
merupakan bakteri yang terdapat dimana-mana dengan habitat alamnya ditanah, dandapat juga diisolasi dari kotoran binatang peliharaan dan manusia.
Clostridium Tetani
 merupakan bakteri anaerob obligat yang menghasilkan spoea. Spora yang dihasilkan tidak berwarna, berbentuk oval menyerupai raket atau paha ayam. Spora ini dapat bertahan selamabertahun-tahun pada lingkungan tertentu, tahan terhadap sinar matahari dan bersifat resistenterhadap berbagai desinfektan dan pendidihan selam 20 menit. Spora bakteri ini dihancurkansecara tidak sempurna dengan mendidihkan, tetapi dapt dieliminasi dengan autoclav padatekanan 1 atmosfir dan 120
o
C selama 15 menit.Sel yang terinfeksi dengan bakteri ini denganmudah dapat diinaktivasi dan bersifat sensitif terhadap beberapa antibiotik (mertonidazol,penisilin dan lainnya). Bakteri ini jarang dikultur, karena diagnosanya berdasarkan klinis.
Clostridium Tetani
menghasilkan efek-efek klinis melalui eksotoksin yang kuat.
EPIDEMIOLOGI
Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu menimpa individu non imun,individu dengan imunitas parsial dan individu dengan imunitas penuh yang kemudian gagalmempertahankan imunitas secara adekuat dengan vaksinasi ulangan. Walaupun tetanus dapatdicegah dengan imunisasi, tetanus masih merupakan penyakit yang membebani di seluruhdunia terutamna di negara yang beriklim tropis dan negara-negara sedang berkembang, seringterjadi di Brazil, Filifina, Vietnam, Indonesia, dan negara lain di benua Asia. Penyakit iniumumnya terjadi di daerah pertanian, di daerah pedesaan, pada daerah dengan iklim hangat,selama musim panas dan pada penduduk pria. Pada negara-negara tanpa program imunisasiyang komprehensif, tetanus terjadi terutama pada neonatus dan anak-anak.Walaupun WHO menetapkan target mengeradikasi tetanus pada tahun 1995, tetanustetap bersifat endemik pada negara-negar sedang berkembang dan WHO memperkirakan±1.000.000 kematian akibat tetanus di seluruh dunia pada tahun 1992, termasuk di dalamnya580.000 kematian akibat tetanus neonatorum, 210.000 di Asia Tenggara, dan 152.000 diAfrika.
 
Di Amerika Serikat sebahagian besar kasus tetanus terjadi akibat trauma akut, sepertiluka tusuk, laserasi atau abrasi. Tetanus didapatkan akibat trauma didalam rumah atau selamabertani, berkebun dan aktivitas luar ruangan yang lain. Trauma yang menyebabkan tetanusbisa berupa luka besar tapi dapat juga berupa luuka kecil, sehingga pasien tidak mencaripertolongan medis, bahkan pada beberapa kasus tidak dapat diidentifikasi adanya trauma.Tetanus dapat merupakan komplikasi penyakit kronis, seperti ulkus, abes dan gangren.Tetanus dapat pula berkaitan dengan luka bakar, infeksi telinga tengah, pembedahan, aborsidan persalinan. Pada beberapa pasien tidak dapat diidentifikasi adanya
 port d’ent 
ree.
 Resiko terjadinya tetanus paling tinggi pada populasi usia tua. Survey serologis skalaluas terhadap antibodi tetanusa dan difteri yang dilakukan pada tahun 1988-1994menunjukkan bahwa secara keseluruhan 725 penduduk Amerika Serikat berusia diatas 6tahun terlindungi terhadap tetanus. Sedangkan pada anak 6-11 tahun sebesar 91%, persentaseini menurun dengan bertambahnya usia; hanya 30% individu berusia diatas 70 tahun (pria45%, wanita 21%) yang mempunyai tingkat antibodi yang adekuat.
PATOGENESIS
 Sering tejadi kontaminasi luka oleh spora
Clostridium Tetani. Clostridium Tetani
 sendiri tidak menyebabkan inflamasi dan
 port d’entree
tetap tampak tenang tanpa ada tandainflamasi, kecuali apabila ada infeksi oleh mikroorganisme lain.Dalam keadaan anaerobik yang dijumpai pada jaringan nekrotik dan terinfeksi, basiltetanus mensekresi 2 macam toksin : tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanolisin mampusecara lokal merusak jaringan yang masih hidup yang mengelilingi sumber infeksi danmengoptimalkan kondisi yang memungkinkan multiplikasi bakteri.Tetanospasmin menghasilkan sindrom klinis tetanus tertentu. Toksin ini merupakanpolipeptida rantai ganda dengan berat 150.000 Da yag semula bersifat inaktif. Rantaiberat(100.000 Da) dan rantai ringan (50.000 Da) dihubungkan oleh suatu ikatan yang sensitif terhadap protease dan dipecah oleh protease jaringan yang menghasilkan jembatan disulfidadua rantai ini. Ujung karboksil dari rantai berat terikat pada membran saraf dan ujung aminomemungkinkan masuknya toksin ke dalam sel. Rantai ringan bekerja pada presinaptik untuk mencegah pelepasan neurotransmitter dari jaringan neuron yang dipengaruhinya.Tetanospasmin yang dilepaskan akan menyebar pada jaringan dibawahnya dan terikat padagangliosida GD1b dan GT1b pada membran ujung saraf lokal. Jika toksin yang dihasilkan
 
banyak, ia akan dapat memasuki aliran darah yang kemuain berdifusi untuk terikat denganujung-ujung saraf di seluruh tubuh. Toksin kemudian akan menyebar dan ditransportasikandalam axon dan secara retrograd ke dalam badan sel di batang otak dan saraf spinal.Transpor terjadi pertama kali pada saraf motorik lalu ke saraf sensoris dan saraf otonom. Jika toksin telah masuk ke dalam sel, ia akan berdifusi keluar dan akanmempengaruhi neuron di dekatnya. Apabila interneuron inhibitory spinal terpengaruh, gejala-gejala tetanus akan muncul. Transpor interneuron retrograd lebih jauh terjadi denganmenyebarnya toksin ke batang otak dan otak tengah. Penyebaran ini meliputi transfermelewati celah sinaptik dengan suatu mekanisme yang tidak jelas. Rantai ringantetanospasmin merupakan
metalloproteinase zink 
yang membelah sinaptobrevin pada suatutitik tunggal, sehingga mencegah pelepasan neurotransmitter.Setelah internalisasi ke dalam neuron inhibitori, ikatan disulfida yangmenghubungkan rantai ringan dan rantai berat akan berkurang, membebaskan rantai ringan.Efek toksin dihasilkan melalui pencegahan lepasnya neurotransmitter. Sinaptobrevinmerupakan protein membran yang diperlukan untuk keluarnya vesikel intraseluler yangmengandung neurotransmitter.Toksin memiliki efek dominan pada neuron inhibitori, di mana setelah toksinmenyebrangi sinapsis untuk mencapai presinaptik, ia memblokade pelepasanneurotransmitter inhibitori yakni glisis dan asam aminobutirik (GABA). Interneuron yangmenghambat neuron motorik alfa yang pertama kali dipengaruhi, sehingga neuron motorik inikehilangan fungsi inhibisinya. Lalu (karena jalur yang lebih panjang) neuron simpatik preganglionik pada ujung lateral dan pusat parasimpatik juga dipengaruhi. Neuron motorik  juga dipengaruhi dengan cara yang sama, dan pelepasan asetilkolin ke dalam celahneuromuskular dikurangi. Pengaruh ini mirip dengan aktivitas botulinum yangmengakibatkan paralisis flaksid. Namun demikian, pada tetanus efek disinhibitori neuronmotorik lebih berpengaruh daripada berkurangnya fungsi pada ujung neuromuskuler. Pusatmedulla dan hipotalamus mungkin juga dipengaruhi. Tetanospasmin mempunyai efek antikonvulsan kortikal pada penelitian pada hewan. Apakah mekanisme ini berperan terhadapspasme intermitten dan serangan autonomik, masih belum jelas. Efek prejunctional dari ujungneuromuscular dapat berakibat kelemahan di antara dua spasme dan dapat berperan padaparalisis saraf cranial yang dijumapi pada tetanus sefalik, dan miopati yang terjadi selama

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->