Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
36Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kakao

Kakao

Ratings: (0)|Views: 1,534 |Likes:

More info:

Published by: Wendi Irawan Dediarta on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dandevisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayahdan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakanlapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yangsebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangandevisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilaisebesar US $ 701 juta.
1.2 Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat dengan tujuan memperkenalkan salah satu komoditas pertanian yaitukokoa secara lebih mendalam kepada para pembacanya. Karena itu kami membahasmengenai berbagai cara budidayanya hingga penggolahan dan kondisi pasar untuk kakao saatini baik di Indonesia maupun Dunia
1.3 Metode Penulisan
Dalam sistematika penulisan makalah ini, kami mengambil berbagai sumber yang kamigunakan sebagai referensi. Berbagai sumber ini dapat berupa media cetak dan elektronik.
1
 
BAB IIPEMBAHASAN2.1 Gambaran Singkat Kakao
Kakao merupakan komoditas perkebunan. Tanaman kakao yang ditanam di perkebunan padaumumnya adalah kakao jenis Forastero (bulk cocoa atau kakao lindak), Criolo (fine cocoaatau kakao mulia), dan hibrida (hasil persilangan antara jenis Forastero dan Criolo). Pada perkebunan perkebunan besar biasanya kakao yang adalah jenis mulia (Tumpal H.S.Siregar, dkk., 2003).Kakao merupakan tumbuhan tahunan (
 perennial 
) berbentuk  pohon,di alam dapat mencapaiketinggian 10m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari5m tetapi dengantajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif.Bungakakao, sebagaimana anggotaSterculiaceaelainnya, tumbuh langsung dari batang  (
cauliflorous
). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm), tunggal, namunnampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas.Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (
midge
)
 Forcipomyia
, semut bersayap,afid, dan beberapa lebah
Trigona
) yang biasanya terjadi pada malam hari
1
. Bunga siapdiserbukidalam jangka waktu beberapa hari.Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sisteminkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakaomampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jualyang lebih tinggi. Jenis komoditi kakao sebagai komoditas perdagangan biasanya dibedakanmenjadi dua kelompok besar:
kakao mulia
("edel cacao") dan
kakao curah
("bulk cacao").Di Indonesia, kakao mulia dihasilkan oleh beberapa perkebunan tua di Jawa. Varietas penghasil kakao mulia berasal dari pemuliaanyang dilakukan pada masa kolonial Belanda,dan dikenal dari namanya yang berawalan "DR" (misalnya DR-38). Singkatan ini diambildari singkatan nama perkebunan tempat dilakukannya seleksi (Djati Roenggo, di daerahUngaran,Jawa Tengah). Varietas kakao mulia ber  penyerbukan sendiridan berasal dari tipe Criollo.Sebagian besar daerah produsen kakao di Indonesia menghasilkan kakao curah. Kakao curah berasal dari varietas-varietas yang
. Kualitas kakao curah biasanya rendah,meskipun produksinya lebih tinggi. Bukan rasa yang diutamakan tetapi biasanya kandunganlemaknya.
2.2 Kondisi kakao di Indonesia
Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha dimanasebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negaraserta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi
2
 
Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan dirisebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (
Cote d’Ivoire
) padatahun 2002, walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003.Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisniskakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensialyang cukup besar untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di IrianJaya, Kalimantan Timur, Sulawesi Tangah Maluku dan Sulawesi Tenggara.Disamping itu kebun yang telah di bangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50% potensinya. Di sisilain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehinggaharga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yangstratigis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap.Dengan kondisi harga kakao dunia yang relatif stabil dan cukup tinggi maka perluasan areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut dan hal ini perlu mendapatdukungan agar kebun yang berhasil dibangun dapat memberikan produktivitas yang tinggi.Melalui berbagai upaya perbaikan dan perluasan maka areal perkebunan kakao Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 1,1 juta ha dan diharapkan mampu menghasilkan produksi 730 ribu ton/tahun biji kakao. Pada tahun 2025, sasaran untuk menjadi produsenutama kakao dunia bisa menjadi kenyataan karena pada tahun tersebut total areal perkebunankakao Indonesia diperkirakan mencapai 1,35 juta ha dan mampu menghasilkan 1,3 jutaton/tahun biji kakao.
3.3 Pasar Komoditas Kakao
Konsumsi biji kakao dunia sedikit berfluktuasi dengan kecenderungan terus meningkat. Negara konsumen utama biji kakao dunia adalah Belanda yang mengkonsumsi 452 ribu ton.Selain Belanda, konsumen besar lainnya adalah Amerika Serikat, diikuti Pantai Gading,Jerman dan Brazil yang masing masing mengkonsumsi 456 ribu ton, 285 ribu ton, 227 ributon dan 195 ribu ton.Sementara itu konsumsi cokelat dunia masih didominasi oleh negara-negara maju terutamamasyarakat Eropa yang tingkat konsumsi rata-ratanya sudah lebih dari 1,87 kg per kapita per tahun. Konsumsi per kapita tertinggi ditempati oleh Belgia dengan tingkat konsumsi 5,34kg/kapita/tahun, diikuti Eslandia, Irlandia, Luxemburg, dan Austria masing-masing 4,88 kg,4,77 kg, 4,36 kg dan 4,05 kg/kapita/tahun. Selanjutnya jika dilihat total konsumsi, makakonsumen terbesar cokelat adalah Amerika Serikat dengan total konsumsi 653 ribu ton ataurata-rata 2,25 ka/kapita/tahun pada tahun 2001/02. Negara konsumen besar lainnya adalahJerman, Prancis, Inggris, Rusia dan Jepang dengan konsumsi masing-masing 283 ribu ton,215 ribu ton, 208 ribu ton, 180 ribu ton dan 145 ribu ton. Pada kelompok negara produsen,hanya Brazil yang dapat dikategorikan sebagai konsumen cokelat utama dengan total
3

Activity (36)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zendy Aprio liked this
Nany Paidjo liked this
Nani Na liked this
D'Icut Esyuw'a liked this
Reki Nugraheni liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->