Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Implementasi Restorative Justice Oleh Penyidik Polri

Implementasi Restorative Justice Oleh Penyidik Polri

Ratings: (0)|Views: 2,034 |Likes:
Published by wafflox

More info:

Published by: wafflox on Dec 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

 
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIANPROGRAM PASCA SARJANA ANGKATAN I
IMPLEMENTASI RESTORATIVE JUSTICEOLEH PENYIDIK POLRI
MATA KULIAH TEORI HUKUM
OLEH
ROBERTHO PARDEDE2011661003
 
 1
BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang
Sistem hukum harus ditegakkan oleh aparatur penegak hukum yang bersih,berani serta tegas. Pemberdayaan aparatur hukum tidak dapat diwujudkan manakalaaparat penegak hukum tidak bersih atau korup. Aparat penegak hukum tidak bersihatau korup dapat mengakibatkan krisis kepercayaan para warga terhadap hukummerupakan cerminan budaya hukum masyarakat.
1
 Indonesia adalah negara yang berdasarkankan atas hukum dan tidak didasarkanatas kekuasaan. Hukum harus dijadikan panglima dalam menjalankan roda kehidupanberbangsa dan bernegara. Disamping kepastian dan keadilan hukum juga berfungsiuntuk kesejahteraan hidup manusia. Sehingga boleh dikatakan bahwa berhukumadalah sebagai medan dan perjuangan manusia dalam konteks mencari kebahagiaanhidup.
2
 Kondisi umum penegakan hukum di Indonesia sampai dengan saat ini belummembaik, bahkan ada kecenderungan mengalami penurunan baik secara kualitasmaupun kuantitas. Fenomena yang terjadi adalah adanya diskriminasi dalampenegakan hukum. Perkara-perkara yang melibatkan masyarakat marginal prosespenyelesaian perkaranya begitu cepat, sementara perkara-perkara yang melibatkanmasyarakat elit menjadi kabur dan pelakunya kebanyakan bebas. Hal ini terlihat secara jelas dalam, perkara-perkara korupsi yang dicampuradukan dengan masalah politik(dipolitisasi) yang mengakibatkan aparat penegak hukum menjadi takut untukmenuntaskannya.Menurut Soerjono Soekanto, masalah pokok penegakkan hukum sebenarnyaterletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebutmempunyai arti netral sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut, yang mana faktor-faktor yang dimaksud adalah :
3
 
1
 
Prof. Drs. DPM. Sitompul, S.H., M.H. & Prof. Dr. H.R. Abdussalam, SIK., S.H., M.H., Sistem Peradilan Pidana, Jakarta: RestuAgung, 2007, h. 7.
2
 
Sabian Usman,
Dasar-Dasar Sosiologi Hukum
, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2009 hlm.1
3
 
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008, h.8.
 
 2
1. Faktor hukumnya sendiri (misalnya undang-undang)2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupunmenerapkan hukum3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atauditerapkan5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yangdidasarkan pada aksara manusia didalam pergaulan hidup.Relevan dengan teori efektivitas hukum yang dikemukakan Soerjono Soekantotersebut, Romli Atmasasmita mengatakan faktor-faktor yang menghambat efektivitaspenegakan hukum tidak hanya terletak pada sikap mental aparatur penegak hukum(hakim, jaksa, polisi dan penasihat hukum) akan tetapi juga terletak pada faktorsosialisasi hukum yang sering diabaikan.
4
 Salah satu penyebab kemandegan yang terjadi didalam dunia hukum adalahkarena masih terjerembab kepada paradigma tunggal positivisme yang sudah tidakfungsional lagi sebagai analisis dan kontrol yang bersejalan dengan tabel hidupkarakteristik manusia yang senyatanya pada konteks dinamis dan multi kepentinganbaik pada proses maupun pada peristiwa hukumnya.
5
Sehingga hukum hanya dipahamidalam artian yang sangat sempit, yakni hanya dimaknai sebatas undang-undang,sedangkan nilai-nilai diluar undang-undang tidak dimaknai sebagai sebuah hukum.Pada awalnya hukum positif dipandang bisa memberikan harapan untukmengatur berbagai persoalan pada masyarakat modern sehingga (diprediksi) bisamencapai ketertiban dalam hidup bermasyarakat. Namun demikian, pada kenyataanyadan dalam perkembangannya, sifat hukum positif yang netral dan liberal, justrumenjadikan hukum modern menjadi terasing dang realitas-realitas yang terusberkembang semakin pesat.
6
 Reformasi yang telah bergulir di Indonesia telah membawa pola kehidupanbernegara yang lebih demokrasi, namun ironisnya reformasi yang bertujuanmemberantas korupsi melalui penegakkan supremasi hukum malah semakin
4
 
Romli Atmasasmita, Reformasi Hukum - Hak Asasi Manusia & Penegakan Hukum, Bandung: Mandar Maju, 2001, h. 55.
 
5
 
Sabian Utsman, Op. Cit., h. 219.
6
 
Satjipto Rahardjo (Khudzaifah Dimyati, ed), Ilmu Hukum: Pencarian Pembebasan dan Pencerahan, Surakarta:Muhammadiyah University Press, 2004, h. 35.

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
De R Chocholate liked this
miftahol liked this
Imam Muhlis liked this
Irwan Cungkring liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->