Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Amal Yang Paling Utama

Amal Yang Paling Utama

Ratings: (0)|Views: 169|Likes:
Published by Muhammad Alhindy

More info:

Published by: Muhammad Alhindy on Dec 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

 
Oct.29, 2009 in Dasar-Dasar Keislaman 
Syarat Ibadah
 Secara etimologi ibadah berarti
merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara‟, ibadah
mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Di antara definisi itu,ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah,baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dhahir maupun yang batin. Dan ini adalahdefinisi ibadah yang paling lengkap.Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut),
raja‟ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang),
rahbah (cemas) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkantasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyahqalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, jihad, puasa adalah ibadahbadaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadahyang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman, “
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh.
” (Adz
-Dzaariyat : 56
 –
58).Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar merekamelaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadahmereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya; karena ketergantunganmereka kepada Allah, maka mereka menyembah-Ny
a sesuai dengan aturan syari‟at
-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa
yang menyembahNya tetapi dengan selain apa yang disyari‟atkanNya maka ia adalahmubtadi‟ (pelaku bid‟ah). Dan siapa yang hanya menyembahNya dan de
ngan
syari‟atNya, maka dia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah). Ayat di atas
menegaskan, aktifitas 24 jam seorang muslim haruslah karena motivasi ibadah.
Macam-macam Ibadah dan Keluasan Cakupannya
 Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua ma
cam keta‟atan yang tampak
pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil, danmembaca Al-
Qur‟an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma‟ruf nahi mungkar,
berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil; cinta kepadaAllah dan Rasul-Nya, khasyyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepadaNya,
ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hukumNya, ridha terhadap qadha‟
-Nya, tawakkal,mengharap nikmat-Nya dan takut dari siksaNya.Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah(mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat
kebiasaan yang mubah pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk ta‟at
kepada Allah. Seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah dansebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) maka menjadibernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu
terbatas hanya pada syi‟ar 
-
syi‟ar yang bias
a dikenal.
Paham yang Salah tentang Pembatasan Ibadah
 
 
Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang
disyari‟atkan kecuali berdasarkan Al
-
Qur‟an dan As
-Sunnah. Apa yang tidak
disyari‟atkan berarti bid‟ah mardudah (bid‟ah y
ang ditolak), sebagaimana sabda Nabi
saw, “
Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak.
” (Muttafaq „alaih). Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia
berdosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat,
bukan ta‟at. Kemudianmanhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah yang disyari‟atkan adalah sikap
pertengahan. Antara meremehkan dan malas dengan sikap ekstrim serta melampauibatas. Allah SWT berfirman kepada Nabi-
Nya saw, “
Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.
” (Huud : 112).
 Ayat Al-
Qur‟an ini adalah garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam
pelaksanaan ibadah. Yaitu dengan beristiqamah dalam melaksana-kan ibadah pada
 jalan tengah, tidak kurang atau lebih. Sesuai dengan petunjuk syari‟at sebagaimanayang diperintahkan. Allah SWT berfirman, “
Dan janganlah kamu melampaui batas.
(Huud : 112). Tughyan adalah melampaui batas dengan bersikap terlalu keras danmemaksakan kehendak serta mengada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw.Ketika Rasulullah saw mengetahui bahwa tiga orang dari shahabatnya melakukan
ghuluw dalam ibadah, di mana seorang dari mereka berkata, “
Saya puasa terus dan tidak berbuka,
” dan yang kedua berkata, “
Saya shalat terus dan tidak tidur,
” lalu yangketiga berkata, “
Saya tidak menikahi wanita.
” Maka beliau saw bersabda, “
Adapun saya, maka saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur, dan saya menikahi wanita. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari (bagian atau golongan)ku.
” (HR. Al
-Bukhari dan Muslim).
Ada dua golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah
 
Golongan Pertama
, Yang mengurangi makna ibadah serta meremehkanpelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanyamelaksanakan ibadah-
ibadah yang terbatas pada syi‟ar 
-
syi‟ar tertentu dan sedikit, yang
hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di kantor, di rumah, di toko, dibidang sosial, politik, juga tidak ada dalam peradilan kasus sengketa dan dalamperkara-perkara kehidupan lainnya.Memang masjid mempunyai keistimewaan dan harus dipergunakan dalam shalat fardhulima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan muslim, baik dimasjid maupun di luar masjid.
Golongan Kedua
, Yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai batasekstrim; yang sunnah mereka angkat sampai menjadi wajib, sebagaimana yang mubahmereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi sesat dan salah orang yangmenyalahi manhaj mereka, serta menyalahkan pemahaman-pemahaman lain. Padahalsebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi saw dan seburuk-buruk perkara adalah yang
bid‟ah.
 
Syarat Diterimanya Ibadah
 Lalu, agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benarkecuali dengan dua syarat:Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil. Dalilnya adalah firman
 Allah SWT, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
 
memurnikan ibadah (ikhlas) kepadaN
ya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
(Al-Bayyinah : 5).
Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Dalilnya adalah sabdaRasulullah, “Barangsiapa mengada
-adakan (suatu hal yang baru) dalam urusan(agama) kami, yang bukan merupa
kan ajarannya maka akan ditolak.” (Muttafaq „alaih).
 Syarat pertama adalah konsekwensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena iamengharuskan ikhlas beribadah hanya untuk Allah Y dan jauh dari syirik kepada-Nya.Dan syarat kedua adalah konsekwensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah, karena
ia menuntut wajibnya ta‟at kepada Rasul, mengikuti syari‟atnya dan meninggalkanbid‟ah atau ibadah
-ibadah yang diada-adakan.
Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah
kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyembah kecuali dengan apa yang Dia
syari‟atkan, tidak dengan bid‟ah.” Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhan-Nya maka hendaknya ia mengerjakan amalshalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya.” (Al
-Kahfi : 110).
Amal Yang Dicintai Allah
 
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‟ud Radhiyallahu „Anhu, ia berkata, aku bertanyakepada Rasulullah saw, “Amal apa yang paling dicintai Allah Azza Wajalla?,
beliau
menjawab, “Shalat tepat pada waktunya”. Aku bertanya, kemudian apa lagi?, beliaumenjawab, “Berbuat baik terhadap kedua orangtua”. Aku bertanya, kemudian apa lagi?,beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Ia berkata, Demikian Rasulullah saw
mengabarkannya kepadaku, seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau
menambahkannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadis di atas menjelaskan kedudukan dan tingkatan amal di sisi Allah Ta‟ala. Amal
yang dimaksud oleh hadis itu adalah amal badani (kasat mata), sebab amal yang afdhal(paling utama) dan paling dicintai Allah adalah beriman kepada-Nya, hal ini
berdasarkan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu „Anhu, bahwasanya seseorang telahbertanya kepada Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasallam, Amal apakah yang paling
af
dhal?, beliau menjawab,”Iman kepada Allah dan Rasul Nya”. Ditanyakan, kemudianapa lagi?, beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Ditanyakan, lalu apa lagi?, beliaumenjawab, “Haji mabrur”.
 Dengan demikian, kedua hadis yang menerangkan amal paling afdhal tersebut tidakbertentangan, sebab masing-masing berdiri menurut konteksnya. Perlu diketahui pula,ada beberapa hadis yang menerangkan keutamaan amal akan tetapi tidak samaurutannya dengan hadis di atas. Untuk mendudukkan hal tersebut, Ibnu Hajarberkomen
tar, “Dalam menjelaskan perbedaan jawaban Rasulullah ketika ditanya
tentang amal yang paling utama, para ulama menerangkan, bahwasanya perbedaan jawaban tersebut berdasarkan perbedaan kondisi para sahabat yang bertanya.
Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasal
lam mengajarkan kepada setiap kaum sesuaidengan apa yang mereka perlukan dan sukai. Jihad misalnya, pada permulaan Islamadalah amal yang paling utama, sebab jihad merupakan wasilah untuk melakukanberbagai amal tersebut. Disamping itu, banyak nash-nash yang menjelaskan bahwashalat lebih afdhal daripada zakat, tetapi dalam kondisi sangat dibutuhkan dan genting,
zakat bisa menjadi lebih utama”.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->