berbeda strukturdan sifat fisikokimia dan dengan bermacam-macam membran sel,sebagai hasilnya diketahui mekanisme pengangkutan beberapa obat lewatmembran sel (Shargel & Andrew, 1988).Dalam farmakokinetik, absorpsi didefinisikan sebagai jumlah obat yangmencapai sirkulasi umum dalam bentuk tidak berubah. Apabila suatu obat tidak diberikan secara langsung ke dalam pembuluh darah, maka obat tersebut harusdiangkut ke sirkulasi umum sebelum obat itu dapat dihitung. Oleh karena itu, obatyang dimetabolisme atau secara kimia diubah pada tempat pemakaian atau dalampersinggahannya, menurut definisi berarti tidak diabsorpsi. Definisi ini terutamatimbul diluar keperluan, karena keterbatasan eksperimen dan fisiologis dalammengukur manifestasi absorpsi pada hewan atau manusia yang menggunakan obattersebut. Dalam hal ini, laju dan besarnya absorpsi obat sama denganbioavailibilitas obat.Obat paling sering diberikan dengan cara oral. Walaupun beberapa obatyang digunakan secara oral dimaksudkan larut dalam mulut, sebagian besar obatyang digunakan secara oral adalah ditelan. Dibandingkan dengan cara-caralainnya, cara oral dianggap paling alami, tidak sulit, menyenangkan dan amandalam hal pemberian obat. Hal-hal yang tidak menguntungkan pada pemberiansecara oral termasuk respon obat yang lambat (bila dibandingkan dengan obat-obat yang diberika secara parenteral) kemungkinan absorpsi obat yang tidak teratur, yang tergantung pada faktor-faktor seperti perbaikan yang mendasar, jumlah atau jenis makanan dalam saluran cerna, dan perusakan beberapa obat olehreaksi dari lambung atau oleh enzim-enzim dari saluran cerna (Ansel, 1989).Pemberian subkutan (hipodemik) dari obat-obat meliputi injeksi melaluilapisan kulit kedalam jaringan longgar dibawah kulit. Injeksi subkutan biasanyadiberikan pada lengan depan, pangkal lengan, paha atau nates. Jika pasien akanmenerima suntikan yang berulang-ulang, paling baik tempat penyuntikanberganti-ganti untuk mengurangi perangsangan pada jaringan (Ansel, 1989).