Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Profil dosen

Makalah Profil dosen

Ratings: (0)|Views: 115 |Likes:
Published by Jaj Mv
http://www.jajmvcomp.co.cc/2011/08/pancasila.html
http://www.jajmvcomp.co.cc/2011/08/pancasila.html

More info:

Published by: Jaj Mv on Dec 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2012

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUAN
Di lingkungan perguruan tinggi, dosen merupakan salah satu kebutuhan utama. Ia ibaratmesin penggerak bagi segala hal yang terkait dengan aktivitas ilmiah dan akademis (
Hamid'Ammar,
 al-Jami'ah Bayn al-Risalah wa al-Muassasah
, (Cairo: al-Dar al-'Arabiyyah li al-Kitab,
1996),
Cet.I, hal. 103
). Tanpa dosen, tak mungkin sebuah lembaga pendidikan disebutperguruan tinggi atau universitas. Sebab itu, di negara-negara maju, sebelum mendirikan sebuahuniversitas, hal yang dicari terlebih dahulu adalah dosen. Setelah para dosennya ditentukan, baruuniversitas didirikan, bukan sebaliknya. Demikian pentingnya dosen ini hingga tidak sedikitperguruan tinggi menjadi terkenal karena kemasyhuran para dosen yang bekerja di dalamnya.Beberapa universitas di Eropa dan Amerika juga menjadi terkenal di dunia karena memilikidosen dan guru besar yang mumpuni, seperti Universitas Berlin yang memiliki dosen sekaliberFichte dan Hegel, dan sebagainya (
Hasan Hanafi,
 Fi Fikrina al-Mu'ashir
, (Beirut: Dar al-Tanwir, 1983), hal. 228).
Dalam posisi sebagai "jantung" perguruan tinggi, dosen sangat menentukan mutupendidikan dan lulusan yang dilahirkan perguruan tinggi tersebut, di samping secara umumkualitas perguruan tinggi itu sendiri. Jika para dosennya bermutu tinggi, maka kualitas perguruantinggi tersebut juga akan tinggi, demikian pula sebaliknya. Sebaik apapun program pendidikanyang dicanangkan, bila tidak didukung oleh para dosen bermutu tinggi, maka akan berakhir padahasil yang tidak memuaskan. Hal itu karena untuk menjalankan program pendidikan yang baik diperlukan para dosen yang juga bermutu baik. Dengan memiliki dosen-dosen yang baik danbermutu tinggi, perguruan tinggi dapat merumuskan program serta kurikulum termodern untuk menjamin lahirnya lulusan-lulusan yang berprestasi dan berkualitas istimewa (
Mohammad'Adil Barakat (et. al.),
 al-Tathwir al-Mahniy li A'dla'i Hay'at al-Tadris
, (Tunis: al-Munazhzhamah al-'Arabiyah li al-Tarbiyah, 1998), hal. 121
.Di Indonesia, program pengembangan mutu dosen telah dikenal sejak tahun 70-an.Beberapa perguruan tinggi telah menyelenggarakan kegiatan yang termasuk dalam kategoripembinaan dosen, seperti penataran khusus untuk semua dosen baru. Bahkan universitas-universitas tertentu mendirikan pusat pelatihan staf dosen dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pembinaan dosen dalam level regional maupun nasional (
Yusuf Hadi Miarso,
 op. Cit
 
).Namun, kendati telah berlangsung hampir empat dekade, program pengembanganprofesionalisme dosen di Indonesia belum menampakkan hasil yang menggembirakan.Beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia memang sudah masuk dalam daftarperguruan tinggi terbaik di dunia, meskipun masih di urutan ke sekian. Demikian halnya denganswasta, terdapat sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) yang kualitasnya bisa diandalkan dansetara dengan perguruan tinggi di luar negeri.Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan dosenperguruan tinggi minimal S2. Dalam UU itu disebutkan, para pendidik jenjang pendidikan dasar
 
dan menengah persyaratannya adalah minimal bergelar S1. Sementara, untuk mendidik di jenjang pendidikan akademis S1, maka sekurang-kurangnya bergelar strata dua (S2), sedangkanbagi program pascasarjana adalah doktor (S3) dan profesor.Kenyataan ini ironis mengingat salah satu cita-cita besar perguruan tinggi di Indonesiaadalah menjadi universitas bertaraf internasional (
world class university
). Dengan 50% dosenyang masih berkualifikasi S1, sulit dalam waktu dekat menggapai cita-cita tersebut. Apalagi ditengah kondisi demikian, tidak tampak upaya signifikan dari para dosen untuk meningkatkanprofesionalisme mereka sebagai elemen pokok perguruan tinggi. Sebagian mereka bahkankurang menyadari bahwa profesi dosen, sebagaimana profesi lainnya, juga terkait dengandimensi pengetahuan, keahlian, dan etika yang perlu terus dikembangkan. Sayangnya, dimensi-dimensi tersebut tidak banyak diperhatikan oleh para dosen, sehingga tidak heran jika sorotandan kritik terus di alamatkan kepada mereka.
BAB II
 
RUMUSAN MASALAH
Dalam pertemuan kali ini, makalah yang kami presentasikan akan membahas tentangprofil dosen yang baik mengingat bahwa profesi dosen sesungguhnya menunjuk pada upaya-upaya yang dilakukan oleh tenaga pengajar sebagai realisasi dari peran selaku pendidik danpembelajar di perguruan tinggi (Yusuf Sayyid Mahmud,
Tathwir al-Ta'lim al-Jami'iy
, (Cairo:Dar al-Kitab al-Masry al-Lubnaniy, 2009), cet. I, hal. 164).Dengan demikian, pengembangan profesionalisme dosen dapat diartikan usaha yang luasuntuk meningkatkan kompetensi, kualitas pembelajaran dan peran akademis tenaga pengajar diperguruan tinggi.Para pakar pendidikan mengemukakan berbagai pendapat tentang programpengembangan profesi dosen ini. Menurut J.G. Gaff dan Doughty, sebagaimana dikutip Miarso,terdapat tiga usaha yang saling berkaitan, yaitu pengembangan instruksional (
instructionaldevelopment 
= ID), pengembangan organisasi (
organization development 
= OD), danpengembangan profesional (
 professional development 
= PD). Bergquist dan Philips berpendapatbahwa pengembangan tenaga dosen merupakan bagian inti dari pengembangan kelembagaan(
institutional development 
), dan meliputi sebagian dari pengembangan personal, pengembanganprofesional, pengembangan organisasi, dan pengembangan masyarakat (Yusufhadi Miarso,
op.cit 
.)Sementara Nur Syam mengemukakan, pengembangan profesi dosen meliputi empatkompetensi, yaitu:1.
 
Kompetensi pedagogis atau kemampuan dosen mengelola pembelajaran2.
 
Kompetensi kepribadian atau standar kewibawaan, kedewasaan, dan keteladanan3.
 
Kompetensi profesional atau kemampuan dosen untuk menguasai
content 
dan metodologipembelajaran
 
4.
 
Kompetensi sosial atau kemampuan dosen untuk melakukan komunikasi sosial, baik dengan mahasiswa maupun masyarakat luas
(
Nur Syam,
op. cit 
.).
 
BAB IIIURAIAN
Berdasarkan beberapa pendapat di atas , dapat dirumuskan setidaknya tujuh bidangkompetensi berikut strategi pengembangannya melalui program-program tertentu yangmendukung peningkatan bidang-bidang kompetensi tersebut. Tujuh bidang kompetensi yangdimaksud adalah:1.
 
Pengembangan kompetensi pedagogis2.
 
Pengembangan kompetensi teknik informasi3.
 
Pengembangan kompetensi manajemen/administrasi4.
 
Pengembangan kompetensi kurikulum5.
 
Pengembangan kompetensi ilmiah (riset dan publikasi)6.
 
Pengembangan kompetensi evaluasi7.
 
Pengembangan kompetensi personal.Dalam uraian makalah yang kami presentasikan akan dibahas tentang ke tujuh bidangkompetensi di atas diantaranya :
1.
 
Pengembangan Kompetensi Pedagogis
Kompetensi pedagogis atau kemampuan dosen mengelola pembelajaran merupakantulang punggung keberhasilan proses pendidikan di perguruan tinggi. Kompetensi pedagogis initerkait dengan cara mengajar yang baik dan tepat, sehingga proses pembelajaran dapat berjalandengan lancar dan efektif. Seorang dosen, selain harus memiliki kepakaran di bidangkeilmuannya, juga harus menguasai teori-teori dan teknik pengajaran serta aplikasinya dalamproses pembelajaran di perguruan tinggi. Sebab itu, peningkatan kemampuan di bidang inimerupakan hal utama dalam pengembangan profesionalisme dosen.Untuk meningkatkan kemampuan pedagogis ini, para tenaga dosen perlu diberikanpelatihan yang terkait dengan metode pengajaran di perguruan tinggi yang meliputi:a.
 
Metode Diskusi (
 Discussion Method 
). Metode ini lebih efektif dari metode ceramah,karena diskusi menuntut mental dan pikiran serta tukar menukar pendapat. Selain itu,diskusi juga lebih komunikatif, mampu menjelaskan hal-hal yang masih semu, danmampu mengungkap tingkat keaktifan setiap mahasiswa.b.
 
Metode Studi Kasus (
The Case Method 
). Metode ini relevan terutama untuk programstudi yang menekankan penerapan suatu hukum terhadap suatu kasus, misalnya difakultas hukum atau fakultas pertanian, dan lain-lain. Suatu kasus dijadikan bahanuntuk diskusi mahasiswa di bawah bimbingan dosen.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->