Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
na+

na+

Ratings: (0)|Views: 183|Likes:
Published by Risna N R

More info:

Published by: Risna N R on Jan 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/04/2012

pdf

text

original

 
http://egaliter.wordpress.com/ PROFILAKSIS PRIMER (MENCEGAH PERDARAHAN PERTAMA)Pencegahan perdarahan varises merupakan tujuan utama pengelolaan sirosis, seiring dengandata yang memperlihatkan peningkatan mortalitas karena perdarahan aktif dan menurunnyasurvival secara progresif sesuai dengan indeks perdarahan.Apabila pada pasien sirosis ditemukan varises tingkat 3, pasien harus mendapatkan profilaksis primer tanpa melihat beratnya gangguan faal hati. Pasien dengan varises tingkat 2 pun perlu mendapatkan profilaksis primer jika gangguan faal hatinya Child kelas B atau C.
Kategori 1 2 3
 Ensefalopati 0 I/IIIII/IVAsites (-) Ringan-sedang BeratBilirubin (mMol/l) <34 34-51 >51Albumin (g/l) >35 28-35 <28INR <1,3 1,3-1,5 >1,5
Skor Child-Pugh. Kelas A= <6, Kelas B= 7-9, Kelas C= >10
Profilaksis primer dapat dilakukan dengan medikamentosa berupa beta bloker (propranolol,atenolol, atau nadolol). Propranolol bekerja sebagai vasokonstriktor arteriol mesenterikasehingga diharapkan dapat menurunkan tekanan portal. Dosis dimulai dengan 2 x 40 mg/hari,kemudian dinaikan menjadi 2 x 80 mg. penggunaan beta bloker long acting dapatmemperbaiki ketaatan. Pada kasus dimana beta bloker menjadi kontraindikasi, LVE menjadi pilihan utama. Apabila beta bloker dan LVE tidak dapat digunakan, maka dapat diberikanisosorbide mononitrat sebagai pilihan utama dengan dosis 2 x 20 mg. terapi kombinasi antara beta bloker dengan isosorbide mononitrate secara bermakna dapat menekan perdarahan lebih baik dibandingkan dengan beta bloker tunggal, tetapi tidak berbeda dalam angka mortalitas.PROFILAKSIS SEKUNDER (MENCEGAH PERDARAHAN ULANG)Terapi endoskopi (LVE dan STE) secara berkala dapat mengeradikasi varises, menekan perdarahan ulang, dan memperbaiki survival pasien sirosis, tetapi terbatas pada pasiendengan Child score A dan B. sementara pasien dengan Child score C, saat ini belum ada pilihan pengobatan yang dapat memperbaiki survival. Beberapa modalitas yang dapatdigunakan sebagai profilaksis sekunder adalah LVE, STE, beta bloker, isosorbide mononitrat,dan terakhir adalah TIPS. Kombinasi terapi antara medikamentosa dengan endoskopi, dalam beberapa penelitian terakhir, dikatakan lebih baik daripada terapi tunggal. Tentunya pemilihan modalitas-modalitas diatas tetap mempertimbangkan tersedianya sarana, tenagaahli, dan kondisi pasien secara keseluruhan.
 
Analisa gas darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basanya. Manfaat dari pemeriksaan analisa gas darah tersebut bergantung pada kemampuan dokter untuk menginterpretasi hasilnya secara tepat.Pemahaman yang mendalam tentang fisiologi asam basa memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemahaman terhadap fisiologi jantung dan paru pada pasien-pasien kritis.Telah banyak perkembangan dalam pemahaman fisiologi asam basa, baik dalam suatu larutanmaupun dalam tubuh manusia. Pendekatan tradisional dalam menganalisa kelainan asam basaadalah dengan menitik beratkan pada rasio antara bikarbonat dan karbondioksida, namun caratersebut memiliki beberapa kelemahan. Saat ini terdapat pendekatan yang sudah lebihditerima yaitu dengan pendekatan Stewart, dimana pH dapat dipengaruhi secara independentoleh tiga faktor, yaitu
 strong ion difference
(SID), tekanan parsial CO2, dan total konsentrasiasam lemah yang terkandung dalam plasma.Kelainan asam basa merupakan kejadian yang sering terjadi pada pasien-pasien kritis. Namun, pendekatan dengan metode sederhana tidak dapat memberikan gambaran mengenai prognosis pasien. Pendekatan dengan metode Stewart dapat menganalisa lebih tepatdibandingkan dengan metode sederhana untuk membantu dokter dalam menyimpulkan
outcome
pasien.
Analisa Gas Darah
 Salah satu faktor utama yang mempengaruhi oksigenasi sel atau jaringan adalah jumlahoksigen yang terkandung dalam darah. Tekanan gas darah tersebut dapat diukur denganmenganalisa darah arteri secara langsung atau melalui pulse oksimetri dengan melihatsaturasi hemoglobin. Analisa gas darah (AGD) telah banyak digunakan untuk mengukur pH,PaO2, dan PCO2. Akan tetapi, makna dari hasil pengukuran tersebut tergantung padakemampuan dokter untuk menginterpretasikannya.
 
AGD biasanya diambil dari arteri radialis, meskipun dapat juga dari arteri lainnya sepertiarteri femoralis. Pengambilan darah arteri dapat berakibat spasme, kloting intralumen, perdarahan, dan hematoma yang pada akhirnya akan menimbulkan obstruksi arteri bagiandistal. Hal ini tidak terjadi jika arteri yang ditusuk memiliki kolateral yang cukup. Arteriradialis lebih dipilih karena memiliki cukup kolateral untuk menghindari terjadinya obstruksidibandingkan dengan arteri brakhialis atau femoralis. Selain itu, letak arteri radialis lebihsuperfisial, mudah diraba dan difiksasi. Darah arteri diambil sebanyak 3 ml pada spuit yangsebelumnya telah diberikan heparin 0,2 ml. Sampel darah yang telah diambil harus terbebasdari gelembung udara dan dianalisa secepatnya. Hal ini disebabkan komponen seluler padasampel masih aktif bermetabolisme, sehingga akan mempengaruhi tekanan gas.
Interpretasi Hasil AGD
 Secara singkat, hasil AGD terdiri atas komponen:
y
 
 pH atau ion H+, menggambarkan apakah pasien mengalami asidosis atau alkalosis. Nilai normal pH berkisar antara 7,35 sampai 7,45.
y
 
PO2, adalah tekanan gas O2 dalam darah. Kadar yang rendah menggambarkanhipoksemia dan pasien tidak bernafas dengan adekuat. PO2 dibawah 60 mmHg
 
mengindikasikan perlunya pemberian oksigen tambahan. Kadar normal PO2 adalah80-100 mmHg
y
 
PCO2, menggambarkan gangguan pernafasan. Pada tingkat metabolisme normal,PCO2 dipengaruhi sepenuhnya oleh ventilasi. PCO2 yang tinggi menggambarkanhipoventilasi dan begitu pula sebaliknya. Pada kondisi gangguan metabolisme, PCO2dapat menjadi abnormal sebagai kompensasi keadaan metabolik. Nilai normal PCO2adalah 35-45 mmHg
y
 
HCO3-, menggambarkan apakah telah terjadi gangguan metabolisme, sepertiketoasidosis. Nilai yang rendah menggambarkan asidosis metabolik dan begitu pulasebaliknya. HCO3- juga dapat menjadi abnormal ketika ginjal mengkompensasigangguan pernafasan agar pH kembali dalam rentang yang normal. Kadar HCO3-normal berada dalam rentang 22-26 mmol/l
y
 
 Ba
 se excess
(BE), menggambarkan jumlah asam atau basa kuat yang harusditambahkan dalam mmol/l untuk membuat darah memiliki pH 7,4 pada kondisiPCO2 = 40 mmHg dengan Hb 5,5 g/dl dan suhu 37C
0
. BE bernilai positif menunjukkan kondisi alkalosis metabolik dan sebaliknya, BE bernilai negatif menunjukkan kondisi asidosis metabolik. Nilai normal BE adalah -2 sampai 2 mmol/l
y
 
Saturasi O2, menggambarkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen. Nilainormalnya adalah 95-98 %Dari komponen-komponen tersebut dapat disimpulkan menjadi empat keadaan yangmenggambarkan konsentrasi ion H+ dalam darah yaitu:
 Asidosis respiratorik 
 Adalah kondisi dimana pH rendah dengan kadar PCO2 tinggi dan kadar HCO3- juga tinggisebagai kompensasi tubuh terhadap kondisi asidosis tersebut. Ventilasi alveolar yanginadekuat dapat terjadi pada keadaan seperti kegagalan otot pernafasan, gangguan pusat pernafasan, atau intoksikasi obat. Kondisi lain yang juga dapat meningkatkan PCO2 adalahkeadaan hiperkatabolisme. Ginjal melakukan kompensasi dengan meningkatkan ekskresi H+dan retensi bikarbonat. Setelah terjadi kompensasi, PCO2 akan kembali ke tingkat yangnormal.
 Alkalosis respiratorik 
 Perubahan primer yang terjadi adalah menurunnya PCO2 sehingga pH meningkat. Kondisiini sering terjadi pada keadaan hiperventilasi, sehingga banyak CO2 yang dilepaskan melaluiekspirasi. Penting bagi dokter untuk menentukan penyebab hiperventilasi tersebut apakahakibat hipoksia arteri atau kelainan paru-paru, dengan memeriksa PaO2. Penyebabhiperventilasi lain diantaranya adalah nyeri hebat, cemas, dan iatrogenik akibat ventilator.Kompensasi ginjal adalah dengan meningkatkan ekskresi bikarbonat dan K+ jika prosessudah kronik.
 Asidosis Metabolik 
 Ditandai dengan menurunnya kadar HCO3-, sehingga pH menjadi turun. Biasanyadisebabkan oleh kelainan metabolik seperti meningkatnya kadar asam organik dalam darahatau ekskresi HCO3- berlebihan. Pada kondisi ini, paru-paru akan memberi respon yang cepatdengan melakukan hiperventilasi sehingga kadar PCO2 turun. Terlihat sebagai pernafasankussmaul. Pemberian ventilasi untuk memperbaiki pola pernafasan justru akan berbahaya,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->